RSS Feed
Showing posts with label Myself. Show all posts
Showing posts with label Myself. Show all posts

Monday, February 01, 2010

Satu Ikrar

Tak banyak yg ingin aku ucap padamu. Sebab disana ada beribu malu yg mengganggu dan tak bisa kuusir satu persatu. Belum lagi ragu yg kian membelenggu yg hampir tak berhasil kurayu untuk cepat berlalu. Aku sadar bibirku kelu, kata ini tercekat di paru2. Tapi kemudian aku tersentak seumpama dihantam palu, menyadarkan bahwa waktuku tinggal seujung kuku.


Tolong jangan tertawa dulu, sebab aku tidak sedang melucu. Meski aku tahu kumbang dan kupu2 tengah membuat wajahku merah bersemu, tapi kemudian angin menerpanya dan itu sangat membantu. Oh hei…aku harus cepat menunjukkannya padamu, sebelum habis sisa waktu, sebelum aku berubah jadi labu macam di cerita Cinderela itu.

Tak ada sanggahan bahwa aku belum mampu menghimpun apapun untuk semestamu. Nihil pujian pula sebab nyatanya jalanku pun masih abu2. Aku bukan pangeran berkuda putih dan berjubah biru. Aku juga tak bermaksud membuatmu terharu kemudian menangis tersedu. Sebab aku tahu baru 1 deklarasi yg bisa diterjemahkan oleh benakku, yg tetap hanya ingin aku ikrarkan pada seorang kamu: rindu.

***

Aahh...rasa itu membuatku kian tersudut dalam bias ungu dan temaram lampu...

Sekali Lagi

Sekali lagi Tuhan. Ijinkan aku kembali.

Ragaku tak bisa bergeming barang se-inchi sebab hatiku terperangkap dalam bingkai milik sesosok diri. Meski kusadari benar yg kupunya hanya sepotong mimpi. Dan bekal yg kubawa tinggal separuh nyali. Apakah masih bisa kugenggam pelangi itu tanpa harus ketakutan terlepas lagi??


Aku tahu dia tak sempurna layaknya seorang puteri atau dewi bahkan bidadari. Tapi aku meyakini ia bisa menjelma seperti Khadijah isteri Nabi atau Fathimah isteri Ali.

Aku tahu dia tak memiliki tongkat ajaib seumpama peri. Tapi aku tersihir dengan kemantapan hati dan keberserahan dirinya padaMU, Rabbi.

Aku tahu dia tak punya tahta ibu suri. Tapi aku iri dengan kekayaan bathinnya ketika memandang hidup dan mewarnai hari2. Aku iri dengan caranya melukis mimpi. Aku iri dengan geliatnya menelikung setiap hantaman uji dari kanan dan kiri.

Lalu Tuhan, tak bolehkah aku mengukir namaMU dengan pahatan terindah bersamanya fii dunya wal akhirati??

***

Ketika satu demi satu bagian dirinya perlahan menghilang dalam gumpalan awan...

Friday, January 22, 2010

Dream Box


I put my dreams in a box


So they’ll never spoil


Hidden from the sunlight
Underneath the soil

“You can never be too careful with a secret…”

As someone once said


“But, would it be safer to keep it locked up in your mind…”


Then I’ll keep all of my dreams sheltered in my mind…


***


Dedicated to everyone who trying to pursue his/her dream…


Acha acha fighting!! \^,^/


(naha siga indihe nya?? Acha acha…meregehese *sambil goyang2 kepala tea*)


Assiik nemu pic yg pas sama judulnya…alhamdulillah hehe

Prince of Heart

On one occasion (English class)…it was about ten years ago…

Ceritanya tiap pelajaran bahasa Inggris, sebelum memulai materi, dua pasang teman sebangku harus maju dan melakukan conversation singkat tentang apa saja, bebas. Bagi yg sudah punya persiapan mah oke2 saja, saat giliran namanya dipanggil ga akan ngerasa jadi masalah, secara udah punya catatan yg bisa dibaca kalau2 nanti di depan lupa sama dialognya. Lha, yg belum bikin?? Alamat, cilaka 12 lah. Hukuman menanti sepulang sekolah. My teacher gitu…ampun dah!!

And…We were on fire. Belum punya persiapan cuy, si teman sebangku saya juga sama. Ga biasanya pada lupa si kita ini, hehe ngeles, bukan lupa kali ya, penyakit M-nya tuh kambuh. Yasudlah cuma bisa merasakan cemas2 sambil berharap semoga diselamatkan untuk tidak dipanggil hari itu. Ngebut bikin aja gimana, ide teman sebangku saya. Hmm boljug tuh. Daripada ga bikin kan.


“Ok, now time for Rina and Lista to show their conversation in front of class. Please…”

Great. Perfect moment!! Baru geh mo ngebut bikin debut malah namanya udah disebut. *pandang2an sama teman sebangku*

“Adduh, Na, gimana?” Rona kecemasan tuh keliatan banget di wajah Lista. Si saya mau nampilin muka tenang juga percuma.

“Mo gimana lagi ceu, yaudahlah urang sikat sajah,” bisaaa si saya ngomong gitu, bari jeung ngadeg2.

1 menit pertama kami hanya menghadirkan keheningan. Sampai pada akhirnya teman saya membuka percakapan.

“Ok, tell me how does your prince of heart look likes??”

I was surprised at that moment. Hah?? Prince of heart?? How does he look likes?? OMG!! Aya2 wae pertanyaan teh iih…*membatin dalam hati, aduuh kenapa pertanyaan macam ini sih yg jadi ilham??*

“Are you kidding me?? What a fool question!!” Spontan jawab gitu teh. *sambil menaikkan alis, seolah berkata pada teman saya itu, “kok pertanyaan kaya gitu?? Ganti2 ah!!”*

She looked unsatisfied. Then she sulked to me like a child. “Oh come on…just answer my question!!”

Eeh dia malah nambahin pake gesture segala. Dia pikir ini area teater apa ya pake nambahin acting?? Hmmffh…don’t understand to her, kenapa juga sih ide pertanyaannya kaya gitu, ga yg berkelas dikit nape ye, such as what interesting book ever you read kek, ato apalah yg bisa menaikkan kredibilitas. Pake berakting manja2 gitu pula. Jijjaayy…

“That’s private you know!!” Padahal mah bingung mau jawab apa, belum ada wahyu.

“Even to me??” She looked shock. *acting lagi*

“Oke oke…I’ll tell you. But you have to promise me, no more question after this!” *buat ngimbangin dia, saya akhirnya acting juga deh…*

“Promise!” Katanya sambil ngengir. *halah acting juga…*

“I don’t know exactly how my prince of heart look likes does. Hmm the important thing is he must be able to play a guitar. And ride a vespa. Done.” *sambil ga ngerti tea apa yg diomongin, ga tau bener ga tau ngga, nu penting nyarios waelah…*

“Playing a guitar?? Oh…sounds interesting…like a penjamen (pengamen –red).”

Saya melongo juga tuh dengar istilah ‘penjamen’, belakangan baru diketahui maksudnya ‘pengamen’ yg dia ga tau istilah bhs Inggrisnya, jadi logatnya yg di-Inggris2-in. Hahaha…ga hanya saya yg ketawa, sekelas terbahak2 juga ternyata, including my beloved teacher itu.

Then…

“Nice, so natural!! Oke class…give applause…”

Plok…plok…plok…

Hah?? Udahan ya?? Cuma segitu aja?? Yaaa…belum ada ending-nya masa di cut seeh?? *halah gaya padahal tadi awal2 paranas tiris…*

Huff…alhamdulillah, finally…

“Jadi bener tukang ngamen??” Tanya Lista polos.

?*^&$#@(*&^ *pake nanya lagi…*

***

GJ banget ga sih cerita di atas??

Emmbeeerrr…

Hehe…wae ah sekali2 bikin GJ.

Dan dari sejak saat itu, kalau ditanya bagaimana kriteria pangeran idaman seorang saya?? Jawabnya ga lain dan ga bukan: yg bisa main gitar dan naik vespa…haha

Teman : “Sampe sekarang, Na? Seriusan?”

Saya : “Hehe…menurut lo??” (pengennya mah nge-iya-in itu, tapi…aahhh be more realistic ajah kali ya…itu mah sideline)

***

Ketika tulisan lama terungkap…Satria Bergitar?? Bang Oma atuh nya?? Ter…laa…luu…wkwkwkwk

Cerita paruh waktu di tengah kecemasan ujian abstrak…God help me…

Friday, January 08, 2010

Sekata

Dermaga…

Melaju pada pelabuhanmu sama saja dengan menabrakkan kapal yg kunahkodai ke gunung es yg menjulang kokoh di hadapanku tanpa daya, tanpa usaha, tanpa merasa perlu berupaya. Kemudian lantak berkeping tak menyisa.


Dan tak kusadari betapa bukan itu yg kuperlu. Aku tak butuh kehancuran untuk menjadi sadar bahwa bukan padamu aku menuju.

Benar, bahwa aku hanya punya bahasa untuk mengurai arti ‘dirimu’ dalam sebuah frasa. Tapi sayangnya bahasamu tanpa aksara, tanpa bisa dimakna dalam sekali baca. Sementara yg baru bisa kucerna hanya mengeja. Lalu bagaimanakah yg disimpan kata akan sampai pada maknanya??

Pun ketika tanya meruah menjadi retorika, tetap tak mampu mengubahmu dalam sekata. 1 kata yg hanya ingin aku bahasakan, padamu saja, dengan sangat sederhana: cinta.

***

Untuk ‘dirimu’ yg tak lagi mampu kutuju…melainkan atas ijin Tuhanmu…

Tuesday, November 17, 2009

Di Ketidaktahuan Seorang Saya

Hmm...banyak yg tidak saya ketahui dalam hidup ini...tapi ada satu hal yg secara sadar saya pahami, bahwa saya punya kesempatan untuk mengetahui apa yg saya tidak ketahui sebelumnya. Tinggal bagaimana saya, mau menggunakan kesempatan itu atau melepaskannya tanpa sisa.


Saya tidak tahu masa depan bentuknya seperti apa, tapi saya tahu saya bisa mengusahakannya agar menjadi indah.

Saya tidak tahu apa saya bisa menjadi seorang profesional dalam pendidikan (seperti yg saya cita2kan selama ini) atau tidak, tapi saya sadar saya punya jalan menuju kesana.

Saya tidak tahu seperti apa dan siapa pendamping hidup saya di sisa usia kelak, tapi saya tahu Tuhan saya sudah menetapkan itu jauh2 hari bahkan ketika langit bumi beserta isinya ini belum tercipta.

Maka atas dasar ketidaktahuan2 itu, layak sombongkah saya??
Lalu, atas dasar apa2 yg saya pahami, bolehkah kemudian jika saya menyerah dan mengaku kalah pada nasib??

Haha...lantas saya tertawa...berpikir sejenak tentang pertanyaan2 itu.

Saya hanya seorang Rina, yg banyak ketidaktahuannya, yg melimpah kekhilafannya, yg masih memerlukan orang untuk membantu kehidupannya, dan tentu saja masih sangat membutuhkan Tuhannya. Dzat yg Tidak Pernah Terlelap meski berkali2 saya terlelap dalam sujud malam saya. Dzat yg Tidak Pernah Lupa meski saya sering melupakannya. Dzat yg Sangat Dekat bahkan dari urat leher saya sendiri, meski terkadang saya menjauh dariNYA.

Alloh...sungguh saya membutuhkanMU, tidak hanya dalam tangis, tapi juga dalam tawa...

"...dan Alloh lebih mengetahui, sementara kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah 216)

Tuesday, October 27, 2009

Gray

I see into myself again. And read my heart deeply for the second time. Over and over again till I got a little bit confuse why I did the same way. It seems like I am looking for something but it still hide and my eyes couldn’t see yet at all. I don’t know how many times I did it in a latest couple weeks for seeing through this strange feeling. Hoping there is something that I can find as a reason for my searching.


And…hei…what is that?? I’m slanting my eyes then, forcing them to accommodating in a high level. Harmonizing it with my frowning brow vertical movement to figure out unidentified that odd thing. It is as if I see that part for the first time. Or it’s possible that the thing have been stayed for a long time I didn’t know. If it was true, how foolish I am. Why this odd sense does seem invisible in my eyes??

Huff…this is beyond me. It’s beyond description. It’s beyond my control.

***

When I saw the gray one in my heart and my mind that I couldn’t know yet what that is. And I am asking to myself then, does any people has the same feeling way too??

*I’m shrugging*

Sunday, October 25, 2009

My View


Haha…

Si Aku baru menyadari kalau dia senang dengan caranya memandang waktu yg berjalan bersamanya. Setiap saat dia bisa merasakan perubahan yg terjadi di dalamnya, sebab dia berada di salah satu tepian waktu. Meski terkadang pergerakan waktu sangat cepat untuk disejajarkan dengan langkahnya yg kelewat lambat, tapi si Aku cukup bangga masih bisa bertahan dan konsekuen di jalur yg dia pilih untuk hidupnya.

Kemudian si Aku jadi teringat sebuah…mm…entah pepatah entah kalimat bijak, whatever, katanya, “Hidup itu adalah penjumlahan dari setiap pilihan2 yg kamu ambil.” Iya juga yah, tanpa si Aku sadari hidupnya dihadapkan pada banyak sekali pilihan. Dan cuma dia yg bisa mengendalikan pilihan itu, maksudnya, dia bebas memilih pilihan mana yg akan jadi bagian hidup si Aku selanjutnya.


si Aku tak mengelak jika di detik pertama kemunculannya orangtuanya yg berperan besar memilihkan pilihan itu untuknya, sampai akhirnya si Aku benar2 bisa memilihnya sendiri. Sejauh ini si Aku bersyukur dengan sikap bapak-ibu-nya yg –mencoba- tak ikut campur dalam pengambilan keputusan untuk keberlangsungan hidup si Aku, tapi bukan berarti si Aku tak meminta pendapat keduanya lho.

Lalu si Aku berpikir, hidup itu mengenai pilihan –yg didukung juga oleh kesempatan tentu- dan setiap pilihan yg dihadapkan pada wajah seseorang boleh jadi sama, sebab dalam jalan hhidup seseorang dgn orang yg lain bisa jadi memiliki satu atau lebih titik pertemuan yg sama, bedanya mungkin ketika memilih pilihan2 itu.

Hmmffhh…ketika si Aku melihat kembali jalan2 yg telah disusurinya hingga membawanya pada masa yg sekarang, dia jadi sangat2 bersyukur bisa menjadi dirinya. Meski mungkin dalam perjalanannya banyak kerikikil2 dan tikungan2 tajam yg membuat lajunya melambat, si Aku untungnya masih bisa bertahan. Tapi bukan semata atas kekuatannya.

Da si Aku mah just an ordinary people ajah kok…Tapi, atas bantuan Tuhannya yg tak pernah bosan memberinya petunjuk2, atas perhatian bpk-ibu-nya yg tak lelah menyertakan namanya dalam setiap sujud, atas dukungan sahabat2nya yg selalu bisa mengembalikan semangatnya ketika hidup sedang menggempurnya jatuh, atas semua pihak yg hingga detik ini masih mengingat adanya keberadaan si Aku…semuanya saya syukuri Alhamdulillah, Alhamdulillahi jazaakumullohu khoiro…

Be there for me Alloh, mom-dad, guys…
I realize then, that I’m a lucky person in this world…^^

Wednesday, October 21, 2009

Ahad, 18 Okto

Ahad, 18 okto, 8.34 am waktu Surabaya, di sela2 mengetik tugas sambil ditemani suara Daniel Bedingfield dengan If you’re not the one-nya…

Sejenak focus pikiran saya bergeser dari tugas yang belum selesai diketik ke sebuah pikiran tentang seseorang yang sosoknya benar2 sudah mencuri perhatian hati dan pikiran saya. Hahaha…saya tertawa di kesendirian saya. Kemudian saya jadi berpikir kenapa tiba2 saya ingin menuliskan apa yang saya rasakan ini sekarang, di saat yang menurut saya tidak tepat (soale banyaakk bgt tugas yang butuh priorotas utama untuk dipikirkan), ah…apa mungkin ini efek dari lagu si Daniel ya??


Whatever the reason, yang jelas jendela microsoft word saya sudah berganti judul, yang tadinya ‘kajian pustaka tentang motivasi’ ke ‘ahad 18 okto’ (judul tulisan ini).
Kalau dipikir2, permasalahan manusia yang satu ini ga pernah ga menarik buat dibahas ya. CINTA, hihihi…nyebutin namanya aja serasa banyak kupu2 yg beterbangan di sekeliling saya nih (itu mah kalo yg lagi ngerasain jatuh cinta, coba yg lagi patah hati, yg ada juga bikin illfeel ngedenger kata cinta ini). Yeaah…apapun kondisinya tetep lho cinta punya daya magis yg luar binasa. Bisa bikin org jadi berkebalikan dari sebelumnya. Yg lemah jadi kuat, yg kurang pinter jadi pinter, yg males jadi rajin dsb.

Percaya ga siy dampak cinta bisa sehebat itu?? Hehe…tadinya juga saya tergolong org yg skeptik lho sama persepsi macam itu. Belakangan agak percaya, tapi lebih pada kemampuan manusia yg emang punya potensi untuk jadi luar biasa kalo memang mau dioptimalkan, bukan pada mitos love’s effect, yaa…boleh jadi siy si cinta itu yg bikin pemicu seseorang lebih mengoptimalkan kemampuan yg selama ini belum diketahuinya. Atau bisa juga yg kuat makin kuat, yg pinter makin pinter, yg rajin makin rajin. Wahh…dahsyat bgt ya si cinta jadi pemicu teh…ck…ck…ck…

Kalo lagi jatuh cinta…katanya mah semua terasa indah. Waktu2 yg dijalani sepertinya penuh gairah. Jarang banget ngerasain yg namanya jengah. Yang ada pokoknya cuma yg indah2. Iyah gitu?? Hehe…iyah meureun…(hayoo sayah, ngaku kamu!!) Nah kalo lagi patah hati alias broken heart, lain lagi. Apa iya cinta masih bisa dianggap sesuatu yg indah?? Kayanya mah nggak deh!! Yg ada juga pengen dilupain…(haha ada yg curhat neeh…)

Tapi yaa…namanya juga org hidup, ga seru kali kalo ga pernah ngerasain up and down di aspek percintaan. Serasa hidupnya kurang pas gitu lho. Pinter2 kita aja menghadapi dan menanggapi soal cinta ini. Kalo sedang merasakan jatuh cinta, ya syukuri, terlepas cintanya nanti dapat respon balik atau ga. Sebaliknya, jika tengah patah hati sbg dampak tidak diresponnya perasaan kita dgn hal yg sama, ya harus disyukuri juga. Sebab bisa jadi itu cara Alloh kasih tanda bahwa bukan org itu lho yg AKU peruntukkan buat kamu.

Yaa…intinya syukuri semua rasa yg Alloh berikan cicip buat kita. Yakini kalo yg terbaik itu pasti datang tepat pada waktunya, di saat yg paliiing baik juga. Ga percaya?? Makanya tungguin aja ya…hehe

***

p.s. si Sayah jadi geleng2 kepala, ga ngerti apa yg barusan ditulis…kayanya siy emang efek lagu, lagunya beres ehh…nulisnya juga udahan, padahal belum nemuin inti tulisannya apa…hahaha jadi weeh hoyong seuri si Sayah teh…=))

Saturday, October 17, 2009

Langkah yg Gagah


Alhamdulillah Tuhan atas sepasang langkah yang masih bisa kupakai untuk berpijak ini. Meski kadang harus runtuh sesaat sebelum bangkit kembali. Meski kadang bertekuk lutut pada garis takdir sesekali. Meski sempat berpikir untuk mundur sesenti bahkan berinchi-inchi karena merasa gagal menciptakan kondisi yang diingini. Tapi kemudian otakku berpikir, kenapa harus memilih berhenti jika masih ada celah untuk bisa jalan lagi?? Haruskah mengibarkan panji putih sedini ini??

Lalu apa?? Berbalik arah lagikah?? Menuju jalan utama sebelum berbelok ke arah yang ini, iyah?? Huff…Jarak yang telah kutempuh rasanya sudah cukup jauh untuk mengalah. Meski pada akhirnya mungkin umm…yeah…aku harus menyerah. Tapi…aaarrrggghh…benarkah aku sudah kalah?? Iyakah krn belum bisa mewujudkan obsesi 1 atau 2 mimpi lantas aku layak dikatakan kalah?? Lalu apa yang sedang aku susuri sekarang, menuju jalan kesalahankah?? (iiihhh…ya enggaklah)


Oh…tidak…tidak…Tuhan kumohon lenyapkan persangkaan itu dari benakku. Sebab bagaimanapun aku masih setia menyelipkan berbait2 doa untuk kesuksesanku, keterwujudan setiap mimpi2ku, dunia akhirat, terlepas dari jenis jalan -berbatukah, landaikah, atau apapun- yang kususuri hingga kini.

Lalu, aku berhati2 bertanya, masihkah ada peluang kesempatan2 –yang sudah pergi- itu kembali menyapa dan bilang, “heeiii…kamu!! Masih mau aku ga??” Bisa dipastikan aku langsung mengangguk senang, ga butuh waktu lama mengambil keputusan, khawatir peluang itu berubah pikiran.

Hahaha…kemudian aku tertawa, gamang. Sebagai langkah defensive maksudnya, tapi kemudian malah menjadi aggressive, “kemungkinannya tak lebih dari 1%!”, batinku berteriak. Sangat kontradiktif. Seketika aku seperti terlempar dari gumpalan ketidaksadaranku. Oh…ternyata aku harus kembali ke kenyataanku sekarang. Bahwa kesempatan yang tidak hanya 1 itu sudah demikian jauh dan tak mampu kusentuh. Bahkan kembali memimpikannya pun aku tak yakin bisa kembali utuh.

Hmmffhh...mungkin…aku perlu sedikit udara untuk menarik nafas panjang. Hingga pada akhirnya aku menemukan fakta bahwa diriku sudah cukup berusaha. Dan meyakini semua yang kuperjuangakan tidak akan berakhir sia-sia. Rasanya tidak adil memperlakukan diriku semena2 hanya karena takdir belum memihak padanya mewujudkan salah satu atau salah dua asa.

Mengutip pernyataan Ikal, “takdir akan memihak pada sang pemberani.”
Maka aku memutuskan, tidak ada lagi pilihan untukku selain menjadi pemberani. Huff…sekarang saatnya mendamaikan hati dan menyinergikannya dengan logika. Aku mengatakan pada diriku sendiri, tidak perlu harus merasa bahagia dulu untuk menjadi bersyukur. Sebab ketika bisa bersyukur di saat sulit itulah yang memperlihatkan kadar keimanan kita yang sesungguhnya.

Sunday, October 11, 2009

My Birthday Saying



-see the picture first and read the words then-

But I’m grateful to be myself
Because I’m surrounded by love
I love myself the way I am
Despite my life is hard, it’s hurt, it was not exactly fully happy
But the best choices are passing it and keep my step forward

I’m thankful for my nice blessing parents
Alhamdulillahi jazaakumullohu khoiro mom-dad…
For giving me a ‘private space’ to think and make my own decision
Supporting me in good times and in bad
Be with me when my life seems easy and hard

I’m thankful to all my sweet friends
Alhamdulillahi jazaakumullohu khoiro guys…thanks
For being such a good friend up till now
Being my inspiration to pursue my dreams
I’ll never forget every moment I have been through with all of you


I’m thankful that I don’t have everything I desire yet
If I did, what would there be to look forward to?

I’m thankful when I don’t know something
It gives me opportunity to learn

I’m thankful for the difficulties time
During those time I grow

I’m thankful for the limitations I currently have
It gives me chance for improving myself

I’m thankful for each new challenge I take
It will build my strength and personality

I’m thankful for every mistake that I have made
It will train me priceless lessons

I realize that the laughter and the tears have made me stronger
Brought me closer to my Lord God up there and improved the way I live
Thanks for all You have given to me, Alloh…
Alhamdullillahirobbil ‘alamin

p.s. I dedicated to my Lord, Allohu Robbi, my parents + fam, all my friends…

Tuesday, October 06, 2009

Tulisan Tengah Malam


29 September 2009
Waktu menunjukkan 1.30 malam lebih sedikit.

Si Aku terbangun dan baru menyadari kalau dirinya tergeletak di lantai kamar. Seraya bergumam, owh…ketiduran –lagi- di bawah. Masih sambil dengan mata yang sedikit tertutup dan terbuka, antara ada dan tiada, tangannya meraba2 daerah sekitarnya yang tak luas. Iiihhh…si hape kamana sih, begitu kira2 pikirnya meronta setelah sekian detik yang dicari tak kunjung bisa dipegang. Yah sudahlah, menyerah, mungkin tertinggal di atas ranjang.


Masih dalam keadaan terkapar di lantai –yang kalau di Bandung dulu mah pasti dingin banget- kemudian si Aku memutar pikirannya ke masa sebelum dirinya saat ini, berada di kos2an ini, terdampar –yang dia harap hanya sementara waktu- di Surabaya dengan suhu hariannya yang selalu tinggi, selalu panas. Cukup membuat si Aku teh jarang bepergian. Rutenya selalu sama dari hari ke hari, kosan-kampus (basecamp)-kosan, atau kalau saat pulang ada yang mau dibeli dulu jadinya begini: kosan-kampus-Alfa mart-kosan. Yaaahhh…ga jauh2lah dari jalur itu.

Awalnya senang akan berada jauh –lagi- dari rumah. Setelah sebelumnya tinggal beberapa tahun di Bandung (duuuhhh Bandung, I miss u so…) lalu mencari pengalaman di salah satu ponpes swasta di daerah Cipanas, dan…disinilah sekarang si Aku menjejakkan kakinya: Surabaya, yang terkenal dengan patung ikan dan buayanya.

Tuh…lihat si Aku dengan patung 2 makhluk itu. Tapi jadi teringat komentar seorang teman, “sejak kapan patung Surabaya ada ketek-nya??” (ketek = monyet, Jawa mode: On). Waduwh…ga sopan pisan ngatain Aku ketek, ayu begini kok disamain sama nyemot, sungguh menohok.

Kupikir akan sebentar di Surabaya, tapi…setelah pengumunan beasiswa yang terakhir tanggal 15 September 2009 lalu kurasa sisa tahun perkuliahan akan kuhabiskan di tempat ini. What a pity…

Sedih sih belum bisa mewujudkan mimpi sekolah di luar negeri, tapi kemudian si Aku berpikir, apa karena itu lantas dia bisa menyia2kan kesempatan meraih master cuma2 meski di dalam negeri?

Seharusnya teh si Aku bersyukur yah, dia masih bisa mewujudkan mimpinya yang lain: kuliah master gratisan, hehe…Secara kuliah dengan biaya sendiri buat si Aku mah gede pisan. Alhamdulillah ya Rabb…makasih buat kesempatan menjalani kuliah master gratisan ini…tapi beasiswa doktor ke luar negeri ya Rabb ya…hehe anggeur…aamiiiinnn...

Monday, October 05, 2009

To...Whoever You are

To: +628180724****

Who r u? Do I know u?
Thx for reminding me to get up
in the early morning for praying up.
But I can get up by myself.
Sorry I don’t mean to be arrogant.
But sometime I feel uncomfortable.
Sorry I have to tell u this.
I hope u understand.
Anyway I thx u so much, whoever u are.

-sending message-
9:22 am – Delivered

***


I sent that short message to the strange sender this morning. I don’t know exactly what times he or she has sent me the same message every early morning. I think since I lived in Surabaya. It means for six months ago. And I don’t know yet who that sender is. It seems weird, isn’t it?? Yeah…at least for me.

For the first I tried to not care about that. I just want to make myself comfort. Once sms, twice it’s ok for me. But the more days it was disturbing me. So I decided to send message to that strange sender. The basic purpose is making this strange sender stopped her/his sms.

As what my message to her/him, I don’t mean to be arrogant. I am glad knowing someone out there care to me, want me get up from my bed and then praying in a third of night (1/3 of night). But I can do that by myself. I can wake up with my own bell. And I am used to be like that. Am I wrong if I did it??

Sorry, I just want to be honest either for myself or for her/him. I hope her/him do not offense. I didn’t offense when he/she sent me sms without my wish. Huff…it’s hard. But, this far I thank you for what her/him have done to me. Even I don’t know who she/he is.

Tuesday, September 29, 2009

My First Saying...

Aha...Ups...Bismillah...

Finally...

Terwujud juga punya yang beginian. Setelah sekian waktu yang dilakukan hanya -baru bisa- memimpikannya, kini dia telah hadir di hadapan seorang Aku. Bersiap mengarungi wajah dunia luar melalui dunia kata. Lebih tepatnya dunia kata-nya seorang Rina Okta. Yeah...inilah ruangan yang -mungkin- nantinya akan kuhabiskan untuk bernapas sesukanya, berteriak seinginnya, tertawa hingga terbahak2 semaunya, mengomentari apapun yang disaksikan mata; didengar telinga; dan dirasakan hati sepuasnya. Sebab disini cuma ada aku seorang. Di duniaku yang hanya aku saja pusatnya.

Aku dan duniaku menamainya "dunia rina okta"...

Iya, sebab disini semuanya tentang yang terjadi di dunianya Rina Okta. Pengejawantahan atas pemikiran, cara pandang, dan feedback...Boleh jadi di tempat ini perenungan2 diri akan hadir, yang si Aku berharap sesuatu yang ia renungkan itu tidak hanya baik buat dirinya seorang, terlebih untuk orang2 lain yang berjalan di luar dunianya. Satu hal yang penting dan tak boleh terlupa adalah bahwa si Aku harus bisa memuarakan setiap refleksi dirinya -tentang apa saja- pada Sang Pemberi Inspirasi itu: Tuhan-nya...(bismillah...Insya Alloh...^^)

Owh iya, hampir terlupa, karena pada hakikatnya manusia itu makhluk so-tanpa 'k'-sial, dan aku adalah manusia, pasti tak akan sanggup menghindari diri dari berbagi. Sebab berbagi itu -ternyata- sangat indah. Maka dari itu, bagi siapa saja, datang dari kalangan manapun, jalinan interaksi kita (aku dan kamu) sangat2 sekali diharapkan. Meski disini duniaku, bukan berarti aku menutup diri dari pergerakan dunia luar. Aku dengan sangat rendah hati siap menerima setiap komentar, baik dalam bentuk pujian, saran, sanggahan, bahkan kritikan tajam setajam silet. Sebab Aku menyadari hal2 tersebut dapat membuatku kaya: ilmu, pengalaman, sudut pandang, dan lain2 sejenisnya. Jadi...ta' tunggu yaa...

Hmm...Sepertinya untuk permulaan kalimat2 diatas sudah cukup mewakili -dan cukup banyak- tentunya...Sekarang marilah kita sambut kemunculan seorang Rina Okta dengan "dunia Rina Okta"-nya tepat di hari ke ke 10 Syawal 1430 H dan bersesuaian dengan 29 September 2009...Hahaha...

Semoga bisa membawa pencerahan...^_^