RSS Feed
Showing posts with label studi di belanda. Show all posts
Showing posts with label studi di belanda. Show all posts

Saturday, April 10, 2010

Belanda dalam Batas Mimpi Kami, Para Anak Pribumi



Als ik eens Nederland was – Ki Hajar Dewantara

Seandainya Aku seorang Belanda. Mulanya hanya sebuah tulisan sederhana di sebuah brosur. Penuturannya pun lembut, santun, tak ada nada-nada amarah pun makian, namun sukses menghardik cara berpikir pemerintah kolonial Belanda yang ketika itu diterbitkan oleh Comite tot herdenking van Nederlandsch Honderdjarige Vrijheid atau yang dikenal dengan Komite Bumiputera. Dan tulisan itu diyakini sebagai tonggak dimulainya ‘masa tidur panjang’ bangsa kita.

Adalah ia, seorang bangsawan di Hindia-Belanda yang rela menanggalkan nama Raden Mas-nya lalu menghujamkan diri di dunia pengajaran dan pendidikan yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Ia berhasil menohok orang-orang Belanda dengan tulisannya yang luwes namun ganas itu tepat di jantung mereka.

Sebenarnya tulisan itu sebuah sindiran bagi orang-orang Belanda yang ketika itu mengajak rakyat Hindia-Belanda yang terjajah untuk merayakan kemerdekan tuannya sekaligus mengajak mereka memberikan sumbangan uang sukarela untuk biaya perayaan itu (ohmaygot!!).

Begini Ki Hajar Dewantara menulis:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi tidak pantas untuk menyuruh si penduduk pedalaman memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghinakan mereka, dan sekarang kita membongkar pula koceknya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yg mengyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa penduduk pedalaman diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikit pun.”


Dan hasilnya beliau di buang ke Belanda. Namun kawan, pembuangan bukanlah jalan nista bagi seorang Guru Besar macam Ki Hajar, justru disanalah hasrat menambah pengetahuannya dalam bidang pendidikan semakin tak karuan, menggila, sebagai hasilnya beliau mendapat akta guru pada tahun 1915. Dan orang2 yang berkeyakinan: dimulainya tulisan Ki Hajar yang demikian sebagai mulai tertidurnya bangsa kita, mereka SALAH BESAR.

***

BELANDA YANG MINI DENGAN SEJUTA MIMPI

Sama halnya dengan Ki Hajar dalam masa pembuangannya di Belanda (1913-1919) yang semakin melambungkan mimpinya untuk mencerdaskan diri demi memajukan anak negeri, saya pun terinspirasi demikian. Menyulam mozaik demi mozaik mimpi hingga menjadi sebuah puzzle yang utuh. Siapa coba yang tak mau menginjakkan kaki di negeri mini itu demi mewujudkan sejuta mimpi? Ya paling tidak untuk sebuah mimpi: menimba ilmu di Belanda yg terkenal dengan kualitas pendidikan dengan standar internasional yang baik. Tapi tentu mimpi itu perlu ditebus dengan harga yang tidak cuma-cuma. Selalu ada pengorbanan dibalik setiap perwujudan mimpi. Kalau meminjam kata-kata Arnold Schwarzenegger, “No pain, no gain”.

Seperti Ki Hajar yang harus merasakan dibuang dulu sebelum akhirnya berkenalan dengan gagasan-gagasan tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti JJ Rousseau, Dr Frobel, dr Montessori, Rabindranath Tagore, John Dewey, dan Kerschensteiner. Tapi mungkin kalau kita ga harus menunggu dibuang dulu kali ya untuk bisa ke Belanda, salah duanya yaitu cukup punya score TOEFL yang disyaratkan dan kemampuan akademik yang mumpuni. Jadikan dirimu pilihan. Untuk saat ini kesampingkan dulu kata-kata Iwan Fals soal ‘aku bukan pilihan’. Sebab hanya mereka yang terpilih yang bisa menghirup udara Belanda.

BELANDA YANG BIKIN IRI

Yaaahh Belanda memang patut dijadikan sasaran iri. Belanda yang meski memiliki area mini (46 kali lebih kecil dari Indonesia; total daratan Indonesia sekitar 1.922.570 km², sementara Belanda hanya 41.256 km²) namun menyembunyikannya dengan kemajuan teknologi dan peradaban ilmu yang luar biasa hebatnya. Belum lagi penjuru-penjuru kota yg manis, teratur, bersih sebagai sasaran pose narsis para pendatang, termasuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia disana, haha. Belanda yang orang-oranganya kadang dijuluki stereotype orang pelit karena motto ‘elk dubbeltje omdraaien’-nya (putar koin dua kali sebelum berpikir untuk membelanjakannya –red), yng toh pada akhirnya membuktikan bahwa kebiasaannya berhemat itu bisa membuat mereka maju seperti sekarang.

Belanda yang begitu fanatik dengan budaya sepedanya sehingga menjadikan negeri tersebut identik dengan negeri sepeda, benar-benara menjaga tradisinya sampai saat ini, bahkan diberikan jalan khusus untuk pengendara sepeda: Fiets Pad, dan hasilnya selain bisa sehat dan irit, mereka pun menjadi salah satu negara yang perlu dicontoh dalam upaya memelihara bumi dengan meminimalisir penggunaan kendaraan-kendaraan bermotor yang memroduksi asap. Belanda dengan banyak festival-festival acara lucu nan keren. Negeri yang punya banyak universitas-universitas bagus di rating dunia. Negara yang meski dulunya harus bersusah payah menimbun lautan untuk dijadikan daratan namun kini menjelma menjadi salah satu acuan untuk pendidikan dan perkembangan pengetahuan.

Belanda yang punya 2 bendungan megah nan gagah yang keberadaannya ditasbihkan sebagai tameng setiap badai lautan dan banjir bandang. Afsluitdijk (panjang 32 km, lebar 90 m, tinggi 72,5 m dari permukaan laut) dan Delta Works (total panjang 16.500 km, terdiri dari 2.420 km bendungan utama dan 14.080 bendungan sekunder) bertengger kokoh menghadang setiap ancaman banjir. Tidak hanya itu, keduanya disebut-sebut sebagai mega proyek yang dipercaya menjadi salah satu keajaiban konstruksi raksasa dunia, bahkan Delta Works dianugerahi predikat sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia modern versi American Society of Civil Engineers karena pengontruksiannya yang memakan waktu hampir 5 dekade dan menjadi salah satu pembangunan terbesar peradaban manusia modern.

Belanda yang menerapkan standard social service dan social security yang biayanya diambil dari pajak masyarakat berkisar antara 30 % sampai 60 % penghasilan. Belum lagi pajak rumah/lahan, air, energi, dan lain-lain yang dipungut setiap tahun. Ga heran kalau di Belanda tidak dijumpai orang yang sangat miskin hingga harus mengais2 makanan di tong sampah jalanan, sebab orang-orang yang tidak mampu disana diberi tunjangan yang berasal dari pajak masyarakat itu. Belanda dengan pelayanan masyarakat yang tergolong profesional sebab tenaga manusia-nya dibayar pantas, mulai dari buruh kasar seperti pengangkut sampah sampai profesi dokter.

Hmmpph…mengelus dada dan mencoba meredamkan riak-riak iri dalam hati pada negeri mini itu. Bisakah bangsa kita bercermin sedikiiit saja dari mereka? Dengan berjuta keindahan dan kekayaan negeri Indonesia ini, tak cukupkah bisa membuatnya merengsek naik pada level negara maju, bukan yang melulu negara berkembang? Come on u young people Indonesia, Indonesia butuh kita, saya dan kamu semua. Waahh, jadi menggebu2 begini saya ya, haha…

BELANDA YANG KINI JADI SASARAN ANAK2 PRIBUMI

Kini bukan lagi hal yang luar biasa kalau Belanda jadi salah satu incaran anak-anak pribumi mengadu nasib dalam hal akademik melalui jalur scholarship yang beragam ditawarkan. Banyak jalan ke Belanda, kata mereka scholarship seeker. Beberapa informasi banyak tersebar di mesin-mesin pencari macam mbah Google dan kawan-kawannya. Seperti beasiswa StuNed, HSP Huygens Programme, Erasmus Mundus Scholarship Programme, Utrecht University Excellence Scholarship, dan masih banyak yg lainnya. Kuncinya banyak-banyak searching info-info beasiswa saja atau bertanya-tanya pada rekan-rekan yg memiliki link di Belanda.

Terakhir yang juga turut menjalin kerjasama dengan StuNed yaitu PMRI dan DIKTI yang kemudian dikenal sebagai beasiswa International Master Program on Mathematics Education (IMPoME) yang tahun ini memasuki putaran ketiga.

Ada banyak kesempatan menuju Belanda melalui jalur beasiswa. Data NESO menyebutkan, jumlah mahasiswa Indonesia di Belanda mengalami peningkatan dalam rentang waktu tiga tahun terakhir ini, yaitu mencapai 12 persen atau sebesar 53.550 orang pada tahun ajaran 2007-2008. Laporan yang serupa diperoleh dari data Nuffic yg menyatakan bahwa di tahun ajaran 2008-2009, Indonesia berada di posisi kedua dgn jumlah mahasiswa terbanyak di Belanda, yaitu 1.350 mahasiswa, setelah China yang jumlah mahasiswanya mencapai 5.000 orang, disusul India (550), Korea Selatan (450) dan Vietnam (450). Wowh!! Jadi tak perlu khawatir kita akan sendirian disana. Yang paling utama adalah siapkan diri, terutama persyaratan bahasa, sehingga ketika tawaran itu datang, kita sudah siap melenggang dengan matang.

BELANDA YANG TAHU BALAS BUDI

Mungkin salah satu balas budi Belanda atas Indonesia yg sudah ‘legowo’ menjadi sasaran jajahan yang sangat lama itu adalah terbukanya kerjasama yang bagus di bidang pendidikan. Banyak pihak dari Belanda maupun Indonesia yang menjalin hubungan satu sama lain untuk berbagi kemajuan. Dan tentu saja ini jadi peluang besar bagi pelajar Indonesia untuk ‘mengeksploitasi’ Belanda sebanyak-banyaknya. Apalagi sistem pendidikan Belanda, menurut beberapa penelitian kabarnya menunjukkan bahwa mereka yg pernah studi di universitas/institusi pendidikan tinggi Belanda memiliki kinerja yang sangat baik di manapun mereka berada (meng-amin-i dalam hati).

Salah satu contohnya mungkin Ki Hajar Dewantara itu. Hasil belajarnya di Belanda dipraktekkan dengan membuka sekolah Tamansiswa. Memosisikan anak sebagai figur sentral dalam pendidikan dengan memberikan kemerdekaan sepenuh-penuhnya untuk berkembang itulah ide dasar pengembangan konsepsi Ki Hajar. Peran guru hanya membimbing dari belakang dan baru mengingatkan anak kalau sekiranya mengarah kepada suatu tindakan yang membahayakan (tutwuri handayani) sambil terus membangkitkan semangat dan memberikan motivasi (ing madya mangun karsa) dan selalu menjadi contoh dalam perilaku dan ucapannya (ing ngarsa sung tuladha).

Hmm…berapa lama saya menulis ya? (menengok jam dinding sebentar) Setelah saya baca ulang, saya jadi semakin cinta dengan Indonesia, dan ingin meninggalkannya…sesaat. Bukan untuk meninggalkan selamanya, tapi demi sebekal modal untuk acuan mengembangkan bumi pertiwi ini. Sebab Indonesia terlalu indah untuk diabaikan. Sebab Indonesia begitu memesonakan untuk tidak diindahkan. Sebab disinilah tempat pengabdian saya, tanah yang susah payah dimerdekakan mereka-mereka yaneg berjuang dengan harta, jiwa, dan raga.

DI INDONESIA RAYA TERCINTA.

***

ps. dari berbagai sumber bacaan: mulai dari koran baru, lusuh, lecek, bekas sampe buku sejarah, ada juga cerita ayah, curhatan teman-teman, baca-baca majalah online, blog-blog teman, etc.

MATEMATIKA, CINTA, DAN BELANDA



Only a life for other is a life worthwhile – Albert Einstein



Hidup akan berharga jika bermanfaat untuk orang lain, begitu kira-kira yang bisa saya tangkap dari quote seorang Albert Einsten. Hmm agak lama saya merenunginya, lalu bertanya-tanya pada diri saya sudahkah saya bermanfaat untuk orang lain? Haha…tertawa dalam hati, bisa-bisanya saya berpikir demikian padahal saat itu sedang workshop education dengan 2 orang nederlandher, Jaap den Hertog dan Aad Godjin. Jangan salahkan saya, kalau bisa salahkan kedua orang itu yang membuat pemikiran ini muncul. (lho?) Haha…

***

IN THE BEGINNING

Pagi itu, hampir enam bulan lalu di tahun 2009, kelas kecil kami di salah satu universitas negeri di Surabaya kedatangan 2 tamu istimewa, dosen dari Fruedenthal Institute milik Utrecht University dgn membawa sesuatu untuk kami. Siapa coba yang tak bisa menahan perasaan senang akan bertemu 2 orang bule Belanda dengan sekotak oleh-oleh yang manis?? Hmm…kontan semua girang, deg-degan dengan hari yang dimaksud. Sekaligus susah, sebab tugas awal yang diberikan cukup ‘mematikan’, haha...jurnal-jurnal berbahasa asing yang cukup tebal yang harus dilahap sebelum keduanya masuk kelas. Satu kelemahan kami saat itu: menerjemahkan sekaligus memakmanai apa yang dimaksudkan jurnal tersebut dalam sebuah paper. Fiuuhh…

“Hello everybody!!” Katanya sambil muncul di depan pintu kelas kami. Keduanya lalu berkeliling menyalami satu-satu dari kami dengan genggaman erat dan tatapan ramah tepat di retina kami. Ketika itu saya merasakan efek yang luar biasa dari semangat Jaap dan Aad. Saya pikir hanya saya yang merasakannya, ternyata semua menyimpan perasaan yang sama. Satu poin yang kemudian saya rekam dalam benak saya: semangat itu menular.

Lalu sampailah keduanya membagi oleh-oleh pada kami. Mereka menyebutnya RME, Realistic Mathematics Education. Haha, saya pikir oleh-olehnya miniatur bangunan berkincir atau kelompen Belanda, ternyata…Tapi belakangan saya malah bersyukur, untung bukan barang-barang kecil yang bisa rusak bahkan hilang itu yg jadi oleh-olehnya, tapi sesuatu yang besar yang tidak akan lekang dan hilang dimakan jaman: ilmu.

MATEMATIKA DARI BELANDA

Semua mungkin sepakat kalau objek matematika adalah abstrak. Dan keabstrakan ini tetap ada pada matematika sekolah yang belakangan menjadi salah satu penyebab sulitnya seorang pendidik mengajar matematika.

Seorang guru matematika harus berusaha untuk mengurangi sifat keabstrakan dari objek matematika itu sehingga memudahkan siswa menangkap pelajaran matematika di sekolah. Dengan kata lain seorang guru harus mengusahakan agar fakta, konsep, operasi, ataupun prinsip dalam matematika itu terlihat konkret.

Salah satu solusi untuk mengonkretkan yang abstrak itu adalah dengan RME yanag dikembangkan di Belanda sejak sekitar 35-40 tahun lalu, berdasarkan ide Hans Freudenthal (seorang ahli matematika Belanda). Ada satu hal yng menarik dari ide Bapak RME ini, dia menyatakan bahwa matematika adalah kegiatan manusia (human activity).

Saya memandang Freudenthal sangat cerdas dalam mengutarakan idenya tersebut, sebab untuk saya pribadi, secara tidak langsung bisa menyugesti diri bahwa apa yang dipelajari di matematika tidak lantas akan berakhir dalam teori saja, tapi bisa bermakna dan bermanfaat luas bagi semesta, secara kegiatan manusia gitu, sudah pasti luaslah. Hal itu yang belakangan bisa merubah paradigma khalayak umum tentang matematika: sudah susah, kegunaannya paling cuman buat ngitung rugi-laba.

Tidak bisa dipungkiri matematika itu susah, namun kita bisa membuatnya jadi lebih mudah. Salah satu prinsip RME: menggunakan konteks nyata/real ternyata bisa dipercaya bisa membuat bayangan siswa tentang abstraknya matematika terbuka perlahan.

Suatu kali Jaap melayangkan pertanyaan yang saat itu saya dan juga teman-teman banyak yang tidak tepat dalam menjawab: what is a realistic?

Ayu: something can be touched
Jaap: oke, just it?
Nur: something can be seen
Jaap: hmm…just it? Anything else?

Bla…bla…kami mencoba ini dan itu, tapi akhirnya Jaap sendiri juga yang menjelaskan jawaban tepatnya. Jaap menerangkan, sesuatu dikatakan realistik ketika ia bisa dibayangkan oleh pikiran kita, tak jadi masalah ada barangnya atau tidak, terlihat atau tidak. Selama kita bisa membayangkannya, itu poinnya.

CINTA DARI BELANDA

Banyak makna-makna implisit dari karakteristik RME Belanda ini, yang jujur, buat saya, guna banget. Ga hanya buat orang yang nantinya menjalani profesi sebagai guru, tapi juga buat seluruh manusia: mendidik dengan hati.

Poin penting itu juga yang belakangan saya sadari sebagai jawaban kenapa gaya mengajar Jaap dan Aad berbeda dengan pengajar kebanyakan di Indonesia.

Sebab mereka menjalani praktek memanusiakan manusia, mendidik siswa dengan sikap terbuka, mengajak berkomunikasi dengan cara yang komunikatif atau dengan bahasa yang mudah dimengerti, ga perlu ribet –sederhana- tapi dalem, dan yang ga ketinggalan juga yaitu memperhatikan perasaan siswanya.


Saya jadi teringat kata-kata seorang professor yang juga terlibat dalam pengembangan RME di Indonesia mengenai cara mendidik siswa, begini katanya:

“Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.”

(Beliau pun mengutipnya dari sebuah quote Anonym)

MATEMATIKA, CINTA, DAN BELANDA

Itulah kenapa saya berpikir mengenai quote-nya mbah Albert. Jaap dan Aad adalah dalang utama kenapa pertanyaan itu bisa muncul dalam benak saya. Ya, mereka pelakunya. Tanpa mereka sadari, tanpa keduanya mengatakan secara langsung, namun bahasa tubuh, tatapan mata ketika berbicara, bahasa yang dituturkan, semuanya menggiring saya ke arah itu. Karakteristik pendidik Belanda dengan RME-nya yang membuat saya terus menabur benih mimpi bisa menginjakkan kaki di Freudenthal Institute.

Banyak keindahan yang mungkin ingin orang lihat, termasuk saya di Negeri Van Oranje, yang bukan hanya tempat Jaap dan Aad lahir dan besar tapi negeri dimana keluwesan bertutur serta gaya mengajar yang keren itu dibentuk. Dari sikap keduanya itu saya belajar, bercermin, betapa seharusnya orang mendidik dengan hatinya, penuh cinta dan sayang, tidak perlu yang mewah cukup yang sederhana saja, memperhatikan dan memberikan tanggapan.

Saya pernah berpikir juga, jika pemikiran RME dari Belanda itu mampu membentuk jiwa-jiwa lembut tanpa menghilangkan esensi berjuang macam Jaap dan Aad, maka Belanda bisa jadi memang pilihan tepat untuk menggali potensi tersebut, sebelum akhirnya orang-orang yang berkesempatan belajar disana kembali ke ibu pertiwi tercinta ini lalu berjuang seperti Jaap dan Aad mencerdaskan anak-anak negeri.

Bisa berguru hingga ke negeri 1000 kincir mungkin memang anugerah, namun menjadi salah satu pihak yang dapat membantu orang-orang (dalam hal ini anak-anak didik di Indonesia) memahami matematika dengan sepenuh hati itu lebih dari sekedar anugerah.

Meneruskan sekolah hingga ke Belanda bukan hanya sebait senandung ingin, bukan pula menyoal pembuktian diri yang kalau tidak disetir malah menimbulkan keangkuhan. Tapi lebih cenderung pada sebuah kata ‘mau’. Mau berkompetisi sportif, mau bersusah-susah raga dan pikir demi menggamit sukses hingga akhir semester, mau berikhlas diri ketika waktu ‘memaksa’ untuk pulang ke negeri halaman dan memuarakannya pada makhluk bernama ‘pengabdian’. Maukah??

Aahh…saya jadi merindukan Jaap dan Aad. Dua manusia didikan barat (Belanda –red) yang justru lebih timur dalam hal mendidik manusia.