RSS Feed
Showing posts with label Stories of whatever Thing. Show all posts
Showing posts with label Stories of whatever Thing. Show all posts

Wednesday, June 02, 2010

Dan Biarkan -Seuntai Doa untuk Gaza-

Dan biarkan jemari uji menggenggammu sesaat, sahabat. Agar mereka tersadar bahwa ketika itulah kekuatanmu justru terpancar. Meski mereka membayangi di seluruh wajah takdir, sehingga melulu terlihat sinis layaknya sipir yang menyinyir, bahkan membenamkanmu hingga ke batas nadhir, tapi tak menghilangkan pesonamu sedikitpun di mata semesta dan mungkin hingga kelak di hari akhir. Justru mereka akan mengingat bahwa ketakutan yang mungkin terlukis pada sekujurmu, tak akan seinchi pun mengantarkan pada kekalahan, sebaliknya, akan menjadi daya tak terkalahkan yang menghujam dalam diingatan mereka, rezim yang sudah tak lagi layak disebut manusia.

Biarkan bunyi mesiu dan rungsingan tank2 baja itu menggelegar di udaramu, wahai hamba yang sedang dikuntit waktu. Agar mereka melihat betapa dahsyatnya kobaran cintamu mempertahankan tanah kiblat pertama meski nyawa jadi penukarnya. Sungguh, dentuman meriam yang mereka hamburkan pada langitmu akan jadi isyarat kemenangan perang yang telah coba2 mereka genderangkan. Tak akan sedikitpun menyurutkan gentarmu pada mereka yang tak memiliki nurani kemanusiaan. Sebab kau punya iman yang menguatkan, sebab kau punya saudara sepemahaman yang siap bersama2 menerjang badai ujian, sebab kau punya Tuhan yang sehembus nafasmu pun tak akan pernah tinggal diam dan membiarkanmu berjalan sendirian. Ya, ada DIA, Allohurobbuna, Tuhan penggenggam kemenangan.

Meski bangunan tua telah porak-poranda, meski jalan2 digelimangi jiwa yang syahid dan bertemu Tuhannya, meski udara disesaki hembusan angin duka dan luapan airmata, meski pro-kontra dunia atas kejahatan perang yang dilakukan mereka para rezim berkecamuk tak tentu arah, meski bantuan dari para relawan terhenti di jalur Gaza bahkan menjadi korban keganasan mereka rezim yang haus darah sesamanya, meski sudah tak terkatakan berapa jumlah ketakutan-kehilangan-kerusakan-penderitaan-kesedihan-kekalutan-ah semuanya, meski kami disini hanya punya doa, tetaplah kuat saudaraku.

Tetaplah berada pada shaf yang satu. Dan ketika perjuangan ini mengembalikanmu pada Tuhanmu, sungguh, bukan kesedihan yang akan berpendar di udara, melainkan isak bahagia sebab kau tengah tersenyum bertemu dengan Tuhanmu. Manusia2 yang Tuhan laknat itu boleh tertawa kearahmu, sebab mereka tak tahu bahwa remuknya ragamu tak berarti melantakkan azzamu. Tak perlu risau sebab ratusan batu yang seharusnya terlontar dari tanganmu pada bengis2 rezim itu tak menemukan tuannya kembali, percayalah syahidmu akan diiringi lahirnya jundi2 baru yang siap melanjutkan perjuanganmu.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. –Q.S. Ali Imron (3) ayat 169

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang2 yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Alloh?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat. –Q.S. Al Baqarah (2) ayat 214

Doa2 kami terlafadz selalu untukmu, wahai penghuni tanah yang dijanji waktu.

***

Ketika lisan kehabisan kata mengungkap bahana duka pada mereka hamba2 yang sedang diuji Tuhannya di Palestina. Hanya doa, sungguh, hanya itu yang kami, khususnya aku, punyai untukmu, saudaraku.

Sunday, March 14, 2010

5 Cewek Nafil...(Learn To Be Wise)

Suatu sore di teras rumah dengan kolam ikan di hadapannya, terjadilah sebuah dialog ringan antara ibu dan anak lelakinya yg ketika itu duduk di kelas 5 SD.

Nafil: Mah, di kelasku ada 5 orang cewek, semuanya suka sama aku, nah tinggal aku yg bingung mau pilih yg mana, soalnya semuanya punya kelebihan dan kekurangan…(lalu si anak menjelaskan satu persatu teman2 perempuannya yg –katanya- naksir dia itu

1. Sintia, dia cantik, bisa main musik, ya nyeimbanginlah sama kemampuan musik aku, tapi dia ga pinter2 amat, Mah…
2. Lika, hmm dia pinter sih, cantik juga, tapi dia cuma bisa nyanyi doang, ga bisa main musik, dia juga lebih tinggi dari aku, wah kaya adeknya Mah kalo aku jalan sm dia…
3. Jihan, ini nih jagonya piano Mah, gitar juga dia oke, tapi dia biasa aja Mah wajahnya dan ga pinter2 juga…
4. Bla…bla…(dia menjelaskan sampai yg ke 5)



Ibunya khidmat menyermati setiap kata yg dilontarkan anaknya itu, layaknya berhadapan dengan orang dewasa pada umumnya. Tak pernah terlintas berpikir, “alaaahh anak kecil ini, jd pura2 dengerin aja kali ya…,” ga sama sekali. Sesaat saya menerka2 jawaban apa yg akan diberikan si Ibu pada anak lelaki yg saat itu tengah menopang dagu menunggu kalimat si Ibu.

“Aduh, kamu ya, anak kecil, ga usah pacar2an, belajar aja dulu yg bener,” ini dugaan saya yg pertama.

“Masih bau kencur aja pacar2an, ga boleh!!” hmm ini bisa juga jd alternatif jawaban.

“Kalo kamu pacaran, mama gantung nanti…kakinya!!” haha jawaban aneh, tapi who knows ya??

Hmm…apalagi ya kira2 jawaban yg mungkin?? Kayanya mah ga jauh2 dari itu. Intinya penolakan dan larangan secara terang2an. Anak SD gitu lho pacar2an, plis deh! Tapi sesaat setelah mendengar jawaban si Ibu, saya jadi ngahuleung alias termangu. Takjub aja gitu ya sama ide si Ibu dalam memberitahu si anak kalo seusia2 segitu lebih baik berteman aja dulu yg banyak. Secara mereka masih terlalu muda juga buat hal2 yg demikian. Tapi bahasanya itu lho ya, ngga frontal bilang, “ngga boleh”, tapi menjelaskan dengan bahasa yg logis dan beralasan.

Saya jadi belajar sesuatu dari sana, bahwa sebenarnya membelajarkan anak2 berpikir dewasa memang harus sejak dini. Maksudnya berpikir dewasa disini mengajak mereka bersikap bahwa segala sesuatu itu pasti ada konsekuensinya, kalo ini maka begitu.

Saya juga diingatkan kalo anak2 itu jangan selalu dianggap anak2, yg pendapatnya kadang diabaikan, yg ketika berbicara kadang didengar setengah telinga, yg pertanyaannya kadang disepelakan kemudian ga dijawab. Sebab anak2 itu punya hak untuk didengar, untuk dikasih masukan, untuk diajak bicara. Dan bisa jadi disanalah awal dari pembentukan cara berpikirnya terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Let them learn from that moment.

Hahay…satu lagi ilmu buat persiapan jadi ibu. Bijak pada anak. Dan ini berlaku buat semua ibu lho, mulai dari ibu guru, ibu dosen, ibu pejabat, sampai ibu rumah tangga. Ga hanya ibu2 aja kali, bapak2, om2, kakek-nenek, kakak, semuanya berlaku etika ini.

Penasaran apa yg dijawab si Ibu itu?? Jreng…jreng…jawabannya adalaaaahh…(fitri tropica mode on…halah lebay…)

“Fil, kalo kamu pacaran, kamu rugi, soalnya deketnya cuma ke satu orang aja. Kalo kamu deket sm cewek lain nanti pacar kamu cemburu, ga enak lho dicemburuin, kamu jadi ga bebas. Coba kalo berteman, kan deketnya ke semuanya tuh, bebas mau ngobrol sama siapa juga. Itu kalo kata Mama.”

Nafil terdiam…sambil manggut2…”Bener juga ya, Mah.”

Dan...tetooottt...jawaban saya ga ada yg bener bo' :D

Friday, March 12, 2010

Refleksi pada Kata Bernama Iri

“Sekolah lagi ya?” Tanya seseorang long long time ago, dan berubah ga hanya seorang tapi jadi berorang2, hmmfh…begitu cepatnya berita menyebar, padahal saya bukan selebritis yg suka ngiklan atau maen pelem di tipi. Yaa pernah sih sesekali sayuting utk pemotretan di majalah Tr*b*s…(yee lo kate aye bonsai ape ye??)

“Oh eh iya, insya Alloh,” saya cuma bisa jawab singkat gitu saja.

“Waah, seneng ya…gratis lagi, beruntungnya jadi kamu,” katanya lagi. Deg, entah kenapa ada sedikit luka di hati saya. (lho??) Haha aneh ya, harusnya bersyukur ya dipredikati sebagai orang yg beruntung, sekalian di-amin-i juga, siapa tahu jadi doa. (aamiiin…)


Emm…bukannya ga senang dipandang sebagai orang yg beruntung (dalam konteks duniawi). Tapi mungkin saya punya perspektif sendiri dengan kata beruntung itu, ga hanya sekedar dapat sekolah gratis yg setelah lulus nanti dijamin kerjanya. Sebab bagi saya, menjadi diri sendiri apa adanya itu yg paling beruntung. Sebab dengan menjadi seorang saya yg membedakannya dari orang lain. And it is really fun to be unique.

Buat saya bisa lihat sekelumit kehidupan orang yg bisa saya refleksikan ke hidup saya itu sudah syukur banget. Ditambah bisa lari2, loncat2, ketawa ngakak, punya banyak koleksi pelem2 bagus, bisa nulis meski ga oke2 amat, bisa cheer up, bisa bikin ketawa orang lain, bisa ngehapal ayat, bisa pergi ngaji, bisa hujan2an, bisa makan es krim, bisa ngisengin orang, waaahhh banyaaklah pokonya yg membuat saya jatuh cinta pada diri dan kehidupan saya.

Kalau ditanya, “pernah ngiri ga sama orang lain??” Hmm…pastinya pernah bangetlah. Saya selalu bergumam pada diri saya sendiri ketika melihat orang yg menurut saya bisa jadi objek peng-iri-an, duuhh itu orang kok bisa ya kaya gitu, padahal waktu yg Alloh kasih sama lho 24 jam. Tapi buntut dari rasa iri itu justru membuat saya terpacu dan terpicu utk bs lebih baik dari saya yg sekarang, dengan catatan tidak menghilangkan keunikan saya. Because I believe I can take my success by being myself. Tinggal usahanya saja yg optimum.

Saya menyadari ternyata menjadi diri sendiri lebih menyenangkan. Meski ya ga bisa menutup mata kalau tawa dan tangis itu datang dan pergi sekehendaknya sendiri. Saya juga diingatkan bahwa bukan berarti ketika diri saya membersitkan keinginan menjadi orang lain, keadaan itu yg lebih baik untuk saya, ngga sama sekali.

Ga ada yg bisa menjamin ketika saya menjalani kehidupan yg bukan saya, lantas saya akan lebih berbahagia. Sebab setiap posisi, setiap kedudukan sudah Alloh tegakkan sesuai dengan perhitunganNYA yg tanpa cacat segores pun. Sebab setiap rasa, setiap keadaan sudah Alloh aturkan dengan sebaik2nya perencanaan yg tak akan meleset seinchi pun.


Saya jadi menyimpulkan sendiri akhirnya, jika saya hanya memandang kebersyukuran dari tinjauan orang lain maka saya ga layak dikatakan hamba yg bersyukur, jatuhnya malah jadi ga fair sama diri sendiri, salah2 saya bisa diancam siksa Tuhan…sudah sangat jelas sekali tuh di Q.S. Ibrahim ayat 7 (na’udzubillahimindzalik) Sebab kedudukan saya dan orang lain berbeda, tentu tugas perkembangan yg hendak dicapai pun ga sama, yg otomatis cobaan dan kenikmatan yg diperoleh juga ga serupa. Tapi tetap sesuai dengan porsinya. Cuma kadang mata manusia saja yg kurang mahir melihat letak porsi tersebut. Akhirnya yg terjadi kecemburuan pada nasib 1 sm lain.

Saya sangat senang bisa melihat kehidupan orang lain yg kemudian saya cerminkan di kehidupan saya. Sebab lambat laun membuat saya mengerti bahwa saya ga akan pernah tahu sesulit apa orang lain mempertahankan hidupnya sehingga mereka berhak atas balasan kenikmatan dari usahanya itu. Sebaliknya, orang lain juga tentu ga tahu secara rinci sekeras apa ujian yg saya jalani sehingga saya dapat balasan kemudahan dari Tuhan. Jadi ngiri2an kayanya sudah ga njamani lagi deh, ga bijak aja gitu ya.

Tapi kadang dengan mudahnya saya-orang lain terpedaya hembusan kencang syaithon yg mengantarkan pada kata bernama iri. Ini juga yg hampir seperempat abad kehidupan saya berusaha untuk tidak terjangkiti. Yaa meski dalam usahanya harus jatuh bangun, but I’m really fighting on it. Ga sudi aja gitu ya lihat syaithon terbahak2 sementara saya terseok memelihara penyakit hati itu pada sesama saya.

***

“Udah merit ya?” Tanya saya pada seseorang yg bertanya, bahkan ga hanya pada seorang saja saya layangkan.

“He em, Alhamdulillah udah kerja dan punya buntut juga nih,” jawabnya sumringah.

“Waah senangnya yaa…, beruntung deh jadi kamu, udah kerja, punya suami, punya baby, lengkap sudah…,” kata saya lagi. Tuhh kan gimana ga beruntung coba jadi mereka?

***

Ketika teringat pesan Luqman pada anaknya yg Alloh abadikan di Qur’anul Karim, Q. S. Luqman (31) ayat 12.

“Bersyukurlah kepada Alloh. Dan barangsiapa yg bersukur kepada Alloh, sesungguhnya ia bersyukur utk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yg tidak bersyukur, maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”



Sunday, February 14, 2010

Menjadi Jujur pada Diri

Ini pengalaman ketiga saya membaca karya Dewi Lestari. Sejak mengkhatamkan novel Supernova-Petir-nya, lalu menamatkan 11 kisah Recto Verso yg mengagumkan, kali ini saya dibuat takjub oleh rentetan bahasanya dalam Perahu Kertas. Saya punya pandangan sendiri terhadap karya Dee (nama pena Dewi Lestari –red), tentunya pandangan yg berbeda ketika saya menikmati karya Helvy Tiana Rossa atau Asma Nadia (dua penulis yg saya gila2i karyanya). Sebab menurut penerawangan kacamata sastra saya (jjiiiaahh gayanya doang tuh), genre tulisan Dee dan HTR-Asma Nadia memang dua hal yg berbeda, namun memiliki kesamaan: sarat makna (nah yg ini serius).


Makna. Itulah yg sangat penting saya kira. Satu kata yg harus bisa kita lihat dan ‘ambil’ ketika membaca sesuatu, tak hanya membaca sebuah buku, tapi membaca seluruh liku kehidupan. Meski bukan dalil Al-Quran atau Hadist yg tentunya jauh lebih indah dan penuh makna, saya rasa tak ada salahnya membelajarkan diri melalui media ini. Meski bukan novel kategori religi, namun setiap baitnya justru melabuhkan saya pada pemikiran tentangNYA. Tentang keindahan jalan yg sudah DIA gambarkan untuk saya jauh2 hari, bahkan ketika langit bumi beserta apa2 yg diantara keduanya ini belum lagi tercipta. Dan saya sangat bersyukur dengan itu.

Saya berharap tak berlebihan dalam mengapresiasi karya Dee ini, dan memang tak ada niatan kesana. Hanya mencoba merefleksi apa yg saya baca saja. Sebab selama buku itu menjadi fokus mata saya, saat itu pula saya diajak tak hanya menikmati bahasa sederhananya, melainkan digandeng untuk menjelajah tentang diri saya sendiri, tentang apa yg saya ‘mau’, tentang apa yg sudah saya jalani untuk itu, tentang aaahhh banyaaakk…Intinya ada sebuah pemaksaan yg samar disana: Saya harus berpikir. Buku ini sukses menyentil benak saya yg sedang berwarna abu2, menjadikannya sedikit cerah dan tak lagi buntu.

Buku itu kebanyakan berbicara soal impian yg berbalut keraguan, soal mental yg dijatuhkan keadaan, soal keyakinan yg tak hanya butuh pengakuan melainkan pembuktian, soal kebebasan yg harus digenggam sehingga tak karam diperolokkan kehidupan.

Saya diingatkan bahwa semuanya akan semakin ringan dan lebih berarti ketika menjalaninya sepenuh hati. Tanpa desakan pihak manapun dari kanan dan kiri. Tanpa harus memuaskan sosok lain dan menyudutkan diri sendiri. Tapi tetap mencoba memberi keseimbangan antara keinginan pribadi dengan pihak2 di luar diri. Buku ini ingin bilang, “Be yourself, be honest to yourself!” Yang pertama mungkin sudah biasa didengar, jadi diri sendiri. Tapi yg kedua nampak jarang berembus di udara, jujur pada diri sendiri.

Lalu seusai menuntaskan kalimat terakhir di lembar terakhirnya saya langsung mencatat sesuatu dalam buku ingatan saya. Ada beberapa tanya disana yg harus saya jawab. Sudah jujurkah saya, inikah jalan yg saya mau, sudah bisakah bernegosiasi dengan realita sehinga mimpi yg saya punya tak harus jadi kandas ketika nyatanya hidup memunggunginya.

Kemudian saya sadar, bahwa mimpi saya tak harus menguap meski udara semesta teriknya tak terkira. Bahwa mimpi saya tak harus jadi beku sebab suhu yg mencapai minus dan membuatnya mati kutu. Bahwa untuk menjadi diri saya yg sukses di masa mendatang, mungkin saya harus berjalan memutar. Yaa…jalan yg berputar. Jadi ingat nasehat seseorang, “jangan pernah anggap jalan yg kita lalui adalah jalan akhir, sebab bisa jadi jalan ini adalah tahapan menuju impian dan cita2.”

Duuuhh, pokonya ga akan habis se-note deh ngupas tuh buku. Bingung juga mau nulis apa lagi. Hmm…sebagai penutup saya hanya mau berkata untuk diri saya sendiri:

Na, kamu ga perlu jadi Dewi Lestari buat bisa merangkai kata2 yg melahirkan banyak makna. Kamu ga perlu jadi Sherina buat bisa menggubah nada dan menyanyikannya. Kamu juga ga perlu jadi Affandi buat bisa meramu warna dan menjadikannya lukisan indah dunia.

Kamu hanya cukup jadi dirimu sendiri apa adanya, menjadi jujur sebagai seorang RINA atas setiap realita yg siap kamu makna.

And…finished.

Tuesday, February 09, 2010

-ot -ot

Let me laugh for a while before I show you this funny note…bwhahahahaha wkwkwkwk…ups oke done, now check this note out…

***

Jantungku serasa bass yg di betot. Berdegup tak karuan sampai kepalaku cekot2. Kadang mata juga ikutan melotot. Demi menahan rasa yg kian hari kian berbobot. Bahkan aku hanya makan carrot dan tahu gejrot. Bagaimana berat badanku tidak jadi melorot?? Tapi untungnya tak sampai nyanyi lagu latah eh copot-copot.


Jujur ini bukan anekdot. Rasa ini sungguh membuatku repot. Jiwa dan ragaku pun ikut berkomplot. Perhatian yg kupunya semuanya tersedot. Hingga wajahku dipenuhi jerawat seumpama corak polkadot. Pernah kuperingatkan sampai mengurat otot tapi tetap hatiku tak bisa membelot. Sampai2 aku ditertawakan si cepot. Karena malu kemudian aku ngumpet di balik got. Eehhh ada kambing badot, oh my goat…(hiyyaaa…maksa banget seeh pa??)

Wahai perempuan, tak usah kau sewot. Sebab aku pun tak lantas jadi nyolot atas rasa yg telah menyulapku serupa robot. Tak usah pula menampilkan wajah angot. Sebab aku juga tak mampu melawan meski rasa ini malah membuatku jadi lemot, lambat kaya bekicot, kemudian agak bolot, bersyukur tak sampai jadi idiot. Yaa mungkin sedikit2 linglung seperti pak Bendot.

Definisimu tentang rasa yg merebak diantara udara ini terlalu alot. Santai sajalah dan jangan terlalu kolot. Toh ini tulus, bukan asal comot. Pastinya aku ikhlas dan tidak minta persekot. Insya Alloh tak sampai melanggar batas2 asimtot.

Tak peduli apa reaksimu, aku akan mengejar rasa itu meski harus melewati hotel marriot, menjelajahi desa bojong kenyot, bahkan memipir kawasan dayeuh kolot. Tak peduli harus dengan angkot atau vespa jebot. Yeaahh…tak apalah, namanya juga patriot. Setidaknya aku tak harus ngesot. Kalau bisa sih terbang layaknya seorang pilot. Tak urusan juga meski harus kena semprot. Yg penting terus genjooot.

Satu hal yg kemudian perlu dicatat sebagai pesan paling bontot adalah bahwa aku ingin melewatkan masa ketika daguku ini mulai berjenggot, kulitku jadi kendor dan peot, bahkan pipiku akan jadi kempot, tak mengapa tinggal di gubuk reot, menyeketsa hari2ku bersamamu meski masih dng menggunakan potlot.


ps. Maaf bu, baru bisa segitu aja…itu pun dengan susah lagi payah…nyerah bu lah…

-1 feb 10-

***

Can’t say anything other than OMG bisaaan bangetzh seeh…kepikiran gitu nulis note yg akhirannya –ot. Oke deh kali ini daku mengaku kalah. You are so kereeeennn =)) (tulisannya maksutnya wkwkwkwk)

Friday, January 22, 2010

Sakit + Hati = Syukur

Note kali ini temanya sakit hati, yaa sakit hati karena apa ajalah…mau sakit hati sebab dikhianati, sakit hati karena kehilangan barang yg dicintai setengah mati, sakit hati sebab kata2 org lain yg setajam peniti, sakit hati liat org lain lebih sukses dari hari ke hari (iddiihh ini mah namanya ngiri kali yi hihihihi…), atau sakit hati karena sakit gigi (hih?? Emang ada ya?? Alm Meggy Z meureun…lebih baik sakit gigi daripada sakit hati…)

Actually this theme was starting from my friend nun jaoh di mato sano beberapo haro lalo (nah knp jadi ber-oo?? Ga penting) hmm…katanya gini, “hal tersulit apa yg dilakukan ketika sakit hati?” Jawabannya lalucu geura nya…


“Kalo eke kayanya sih susah buat nahan air mata kalo sakit hatinya gara2 diputusin pacar,” seorang teman melempar jawaban.

“Beuh…lamun ceuk urang mah nu hese nahan amarah euy, komo mun persib eleh, double eta nyeri hatena,” (terjemahan: beuh…kalo saya yg susah nahan amarah, apalagi kalo persib kalah, dua kali sakit hatinya) salah satu lelaki pendukung bobotoh mulai ga nyambung ngasih argumennya. But…okelah, udah include kok jawabannya: susah nahan amarah.

“Bagi gue yg susah itu nahan buat ga balas dendam, pren, biasanya kalo gue sakit hati ya gue bikin sakit hati lagi tuh org, biar dia ngerasain gmn ga enaknya sakit hati,” waduuh garang pisan kang...

“Nahan apa ya?? Aku sih sabar ajalah…tapi sebelum sabar biasanya aku ngabisin makanan apa yg ada di depanku…aku paling ga bisa nahan makan kalo lagi sutres,” gubrraakk!!

“Bikin rasa sakit itu jadi rasa syukur, itu yg kata Na susah mah,” denger jawaban saya, yg lain pada melongo. Haha…padahal saya ngaco lho. Tapi kemudian saya harus bertanggungjawab menjelaskan pada teman2 saya tentang pernyataan di atas barusan. Sambil berharap ketika itu, semoga mereka ga emosi baca kalimat yg pararanjang kaya yg di bawah ini nanti. Dan saya hanya bisa berkata, “Sabbaar ya teman2, salahnya sendiri minta penjelasan kan?? Hehe…”

Hal tersulit ketika sakit hati menurut saya adalah membuat rasa sakit itu menjadi sebuah jalan untuk bersyukur. Kenapa coba sulit?? Kalo menurut saya mah sebab ada pertentangan disana. Sebab sisi diri yg satu yg merasa sakit hati melawan sebelah sisi yg lain yg tak menginginkan sakit hati terjadi. Terlebih jika sisi diri itu punya alasan kuat kenapa sakit hati.

Tapi kemudian saya bersyukur pernah atau sedang merasakan sakit hati…(teman2 saya kembali melongo, saya aneh katanya, masa sakit hati disyukurin?) Ahh biarpun dikatakan aneh, sebab saya punya alasan kenapa saya harus bersyukur.

Sebab dari rasa sakit itu saya berusaha untuk tidak membuat org lain jadi sakit hati karena keberadaan saya.
Dari rasa sakit itu saya lebih menata sikap saya supaya bisa lebih menghadirkan tawa bukan luka.
Dari rasa sakit itu saya semakin melafadzkan istighfar pada Tuhan atas semua tingkah saya yg mungkin membuat org lain sakit hati sehingga kemudian Tuhan mencicipkan rasa itu pada saya.
Dari rasa sakit itu saya lebih menjaga lisan saya untuk tidak mengeluarkan kata2 berbahaya, sebab kata2 adalah doa, sebab doa org terdzalimi didengar Tuhan di ArsyNYA sana.
Dari rasa sakit itu saya mencoba memaknai arti memaafkan dan dimaafkan.
Dari rasa sakit itu saya dilatih mengalihkan awan negatif di atas kepala saya dan mengubahnya menjadi butiran2 makna yg menyejukkan udara.
Dari rasa sakit itu saya jadi semakin tahu ternyata banyak celah dalam diri manusia yg dengan mudah dimasuki syaithon dan saudara2nya.
Dari rasa sakit itu saya diingatkan bahwa ini hanya sementara sebab bajaj pasti berlalu…(jadi inget lagu Chrisye, “Bajaaaaj pasti berlaaaluuu…” *Rina is singing*)

Intinya ya, hmm…rasa sakit membuat saya sadar bahwa saya belum pintar dan masih harus banyak belajar. Bahwa marah apalagi dendam justru akan membuat pahala sakit hati itu jadi berpendar. Bahwa seharusnya yg saya lakukan adalah ikhlas dan sabar. Bahwa Alloh telah mengatur ini dengan sangat2 benar. Bahwa sudah sepantasnya saya jalani ini dengan langkah tegar dan wajar. Bahwa semua rasa dalam hidup akan berputar, jika hari ini tertawa lebar, maka esok mungkin tangis yg jadi latar.

Meskipun sabar dan ikhlas kuncinya, tetep ya buat saya bukan hal yg mudah melakukan keduanya. Sebab 2 hal itu teh wilayah hati tingkat tinggi euy. Tapi yaa musti dipaksain, awal2 mungkin sulit ya, tapi kalo udah lama2 mah akan terbiasa juga da.

Sebab sebenarnya Alloh sudah melapangkan dada untuk kita.

“Bukankah Aku Alloh telah melapangkan untukmu dadamu?” (Q.S. Alam Nasyrah (94) ayat 1)

Sebab sabar adalah penolong untuk org2 iman, dan Alloh bersama org2 yg sabar.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Baqarah (2) ayat 153)
***

“Urang acan mere jawaban yeuh…mun urang mah nya teu nahan ateul euy...,” (terjemahan: saya belum kasih jawaban nih…kalo saya ya ga nahan gatal) salah seorang teman yg datang terlambat dalam forum mengungkapkan jawaban yg membuat saya dan teman2 lain bertanya2, “Gatal?” kok nyambung sih ya??

“Heu euh, ateul hayang ngabolgem jalemana!!” (terjemah: iya, gatal ingin meninju orgnya)

*&^%$#&@

Astaghfirulloh…

Ketika saya membutuhkan banyak sabar…sabaaarr datanglaaahh

Monday, December 28, 2009

Wajah2 di Sudut Hati

Intro lagu yg diawali dengan dentingan tuts piano ini membuat saya tercenung barang sesaat. Berpikir sejenak, kemudian tertawa tanpa terbahak. Saya mengingatmu, mengingat dia, mengingat kalian. Wajah2 yg selalu hadir di empat tahun kehidupan saya dan untuk seterusnya di sisa usia saya. Dan kebersamaan itu telah mengukuhkan segenap jiwa dan raga saya untuk mengklaim kalian dengan sebuah predikat: SAHABAT.

Tak hanya soal akademik yg kalian tahu tentang saya, tapi semua. Kelebihan saya, kekurangan saya, bahkan kebiasaan saya yg setengah mati saya sembunyikan, kalian tetap tahu. Tak hanya tawa yg kalian urai untuk saya, tapi duka pun kalian pecahkan menjadi titik embun yg menyejukkan jalan saya. Setiap kejadian yg menghadirkan lengkung senyuman atau tangis yg membuat langkah kita terhenti sejenak, semua itu membuat saya makin menyadari betapa berharganya kebersamaan dengan kalian. Bahkan saat kita jauh sekalipun, entah ketika ada sesuatu yg tak berada di tempatnya, saya merasakannya. Terlepas saya kalian ingat atau sebaliknya, terlupakan.

Kemudian, hati saya bertanya,
Tuhan sebegitu hebatkah ikatan ini hingga yg tak terkatakan pun saya merasakan??
Inikah wujud robithoh2 itu??
Beginikah efek menghadirkan wajah2 mereka dalam doa dan sujud saya??


Lalu ada perasaan bersalah ketika sekian lama saya tak mengetahui kabar wajah2 itu. Apa yg terjadi pada mereka, bagaimana kondisi ruhiyah dan jasadnya, semuanya. Namun, percayalah wajah2 teduhmu, dia, dan kalian, tak mungkin luput dari lisan ini. Melafadzkan nama2 kalian sudah menjadi rutinitas, dan mengubah rutinitas itu sama saja menawar bumi agar berhenti memutari matahari. Haha…terdengar berlebihakah?? Ahh biarkan saja.

Kamu tahu, sahabat, menyejajarkan langkah saya dengan langkahmu tak semudah yg saya duga. Butuh energi berlipat mengejar kalian, agar saya menjadi bagian dari kalian, supaya saya bisa merasakan semangat yg luar biasa yg kalian pancarkan. Pastinya saya memerlukan kesabaran tingkat tinggi yg terkadang berbanding terbalik dengan ekspektasi. Tapi lantas saya tak peduli dengan seberapa waktu yg saya sisihkan untuk berjuang bersama kalian. Tak selintas pun terpikir menghitung banyak tenaga yg saya keluarkan untuk berlari bersama kalian. Cukup, cukup Tuhan yg mengetahuinya. Iya, cukup DIA saja yg menjagakan apa yg saya rasa agar berada tetap di tempatnya, tanpa cacat.

Bahkan ketika saya menyadari saya sakit hati dengan sikap kalian. Saya kalian abaikan. Atau dilupakan. Atau apalah yg menuai protes di hati dan tak sejalan dengan harapan. Seketika saya marah, tapi kemudian saya tertawa, haha…begini rasanya menjalani persahabatan yg sesungguhnya. Tak selalu bahagia yg jadi latar, melainkan ketidakenakan keadaan pun menjadi harga yg tak bisa ditawar. But, you have seen it, semua itu justru mengokohkan kaki kita, bukan menceraiberaikan. And even we more close to each other.

Saat kita berbeda pendapat. Satu sama lain mengusung dan mempertahankannya dengan banyak argumen logis yg tak jarang bikin kita diem2an. Sampai2 ada yg ga mau saling menatap. Oke, we need time to figure out anything yg datang mendadak ke hidup kita. Kita sudah mengerti satu sama lain bahwa masing2 kita butuh ruang untuk berpikir sendiri, bahkan ketika saya menghilang, kalian tahu dimana menemukan saya: toilet JICA lt1.

Kita sama2 mengerti bahwa kita punya cara masing2 menjernihkan benak yg kacau. Mencoba meredam sendiri energy negatif agar tak menular pada yg lain. Ahh sahabat…tak akan habis waktu saya menggambarkan tentangmu, tentang kebersamaan kita, tentang amarah yg diakhiri dengan tawa, tentang ilmu2 kehidupan yg satu-satu telah kita catat rapi di benak dan hati kita, tentang kedewasaan bertindak menghadapi apapun dan siapapun, tentang…semua.

Pernah bertanya kenapa kalian dipertemukan dengan saya, dengan dia, dengan mereka?? Pertanyaan itu yg akhir2 ini bertengger dan terperangkap selama beberapa saat di kepala saya. Hingga saya menemukan alasannya, dari versi saya sendiri. Kalian hadir bukan suatu kebetulan untuk hidup saya. Nothing happens by chance. Alloh sudah menakdirkan saya bertemu kalian. Memperbaiki diri dengan bantuan kalian. Mendekatkan langkah padaNYA lewat kalian.

Kalian juga bukan seorang figuran di scene hidup saya, yg hanya sekali lewat, yg diabaikan setelah tak terpakai. Bukan. Kalian adalah pemeran utama dalam cerita saya. Meski harus ada tangis, kecewa, konyol, marah, dzon2, etc. Namun kawan tahukah yg menjadikan semua indah hal2 tidak indah itu menjadi indah?? Sebab pertemuan kita dilandasi oleh cintaNYA, cinta kepadaNYA. Setelah itu habis perkara.

Done.

***

Saat mendengar alunan “Bersamamu”-nya Vierra…hahaha berasa teenager euy!! Aah bae aah…

Guys…we grew up!! And become an adults is not easy, but it’s not a reason to make it easier…Love u guys, with all of my soul…^^

Sunday, December 27, 2009

LUPA...dgn Di-kan dan Me-kan

Bagaimana rasanya dilupakan??

Sebuah pertanyaan mampir di benak saya suatu ketika, saat mata saya tertumpu pada sebuah bayangan yang tak saya kenal.

“Waahh…tega banget deh yg ngelupain saya, terlebih kalo saya udah baik sama dia,” jawab seorang teman.

“Hmm…kalo ada alasan yg masuk akal dan logis knp seseorang ngelupain saya, yaa saya mah terima aja lah. Tapi knp harus dilupain sih?? Ga enak tau digituin…,” tukas seseorang lugas.

“Meureun ga bermaksud melupakan, tapi da kumaha upami dianya terserang pirus vikun mah…itu mah sudah takdir kale yee…hehehe,” yg lain berkomentar lain.

“Kalo menurut saya, dilupakan memang tidak mengenakan, baik dengan tidak sengaja apalagi sengaja, sungguh menohok. Tapi, mungkin seseorang punya alasan sendiri knp dia mau melupakan org, dan itu hak dia, siapa gue juga larang2 dia coba, tul ga??” Pendapat yg lebih terbuka saya dengar.

“Udaaah…lupain deui weeh, hese ammat!! Masalah selesai kan??” Waah…ekstrim banget yak nih komen, ck…ck…(sambil menggeleng2kan kepala dan mengurut dada).

***

Kemudian saya terpekur. Memikirkan jawaban2 org2 di atas, yg mungkin baik secara sadar atau tidak sadar telah dilupakan atau melupakan org lain. Saya mencoba memahami ketidakenakan pihak yang dilupakan, tanpa bermaksud mengenyampingkan perasaan org yang melupakan. Hmm rumit juga ya…

Kalau kamu yg dilupakan Na, gmn??

Lha…kok daku?? (sambil mendelik ke arah penanya) Hmm…jika dikembalikan pada posisi saya, mungkin iya awalnya merasa tidak enak, terlebih jika saya tak menemukan alasan jelas yg melatarbelakangi saya dilupakan. Tapi bukan jadi alasan untuk kemudian saya ikut2an melupakan org yg melupakan saya kan?? Siapa tahu dia memang punya alasan kuat melupakan saya, sakit hati misalnya, atau pemikiran yg sudah tak sejalan mungkin, atau jangan2 memang punya penyakit pikun, there are many possibilities and I couldn’t refuse it.

Sehingga saya selaku manusia yg menjunjung tinggi harkat martabat serta menghormati kebebasan berpikir dan berpendapat, insya Alloh dengan hati sukarela dan lapang dada tidak akan berkomentar panjang lebar tentang hal itu. Dengan kata lain: sabar dan menerima saja. Done. Yg penting saya jadi ga latah, ikut2an melupakan. Dan semoga saya terhindar dari persangkaan2 tidak baik yg bisa membuat saya jadi susah sendiri dan kehilangan kebarokahan Tuhan.

Kemudian saya jadi berpikir, saya harus lebih hati2 lagi kalau begitu ya. Hati2 gmn maksudnya?? Iya, hati2, harus lebih jaga sikap, jgn sampai bikin org lain sakit hati terus jadi ingin melupakan saya. Mesti bisa jaga bicara, supaya org lain masih mau mengingat saya dan melafadzkan doa2 tulus mereka buat saya. Kudu tahan banting sama kondisi yg bikin saya ga enak, malah harus bisa membuat suasana itu kembali normal, bukan sebaliknya, bikin jadi semrawut. Dan tentunya harus sering2 minta maaf sama org2 yg berinteraksi sama saya dan mohon ampun sama Tuhan kalau sudah membuat hambaNYA sakit hati. Hmm…Saya jadi teringat kata2 org bijak:

Berhentilah menunggu kondisi membaik. Lakukan sesuatu agar kondisi membaik.


Ga bisa dipungkiri sama sekali kalau dalam interaksi kita sesama manusia memiliki peluang yg tidak 0 untuk saling bergesekkan. Sudah jadi hal yg lumrah jika ada saling ketidakenakan hati di suatu kesempatan. Tapi yg utama ketika itu sudah terjadi dan saya menyadari, saya harus minta maaf. Sebab saya khawatir, jika saya mengulur2 maaf saya (terlepas apakah saya salah atau tidak) Tuhan akan mengulur2 pula kebarokahanNYA untuk saya. Kan serem tuh…wong saya ada disini buat cari kebarokahan Alloh kok…

Nah kalau kamu yg melupakan seseorang, pernah??

Hmm…jujur, pernah ada keinginan melupakan beberapa nama dengan penguatan bahwa melupakan org adalah hak pribadi masing2. Tapi kemudian saya berpikir ulang, buat apa juga saya melupakannya?? Karena sakit hati?? Atau terbawa emosi?? Duuh kok saya jadi ga tau terimakasih gini sih, terlebih jika org2 itu sudah dengan tulus ikhlas menyertakan nama saya dalam doa2nya, meridhokan benaknya untuk mengingat saya dalam sujud2nya. Seharusnya kan saya mendoakan balik, bukan malah dilupakan, sehebat apapun sakit hati (yg mungkin) sudah org2 itu perbuat pada saya.

Haha, kemudian saya tertawa sejenak. Mudah sekali berbicara demikian, prakteknya?? Nah, kalau ada org yg bilang begitu gmn?? Hmm…awalnya memang ga mudah, apalagi kalau emosi sudah berpartisipasi, wuiihh…bisa perang bathin. All the beginning is difficult, isn’t it?? Eiitt…ada tapinya lho, tapi bukan berarti yg susah itu ga bisa jadi mudah. The cluster point is in your effort. Usahakan atuh!! Usaha, man, usaha!! Insya Alloh, da atuh Tuhan oge ga berdiam diri ketika melihat hambaNYA berusaha mah. Apalagi buat mencari kebarokahanNYA.

Oh iya, saya teringat si my Pap yg pernah bilang begini (tapi kayanya si my Pap oge ngutip dari tempat lain da…hihihi):

2 hal yg harus saya ingat
1.Kesalahan2 saya pada org lain
2.Kebaikan2 org lain pada saya

2 hal yg harus saya lupa
1.Kebaikan2 saya pada org lain
2.Kesalahan2 org lain pada saya


Hmm…kemudian saya jadi mengingat2 lagi siapa2 sajakah yg sudah saya sakiti hatinya. Tuhan ampuni saya…teman maafkan…

Sunday, December 20, 2009

Kecemasan -part1-

Cemas…

Lagi-lagi saya merasakannya. Semakin saya mencoba memokuskan pikiran pada buku-buku berjudul Abstract Algebra, semakin erat pula kecemasan itu mengikat saya. Terlebih putaran jarum menit dan detik terlihat lebih cepat dari biasanya, waah kayanya kecepetan deh tuh jam, sampai2 saya berhalusinasi ada yg tak beres dengan jamnya. Padahal orangnya yg ga beres, hahaha…


Teorema 2.8.5 itu yg terakhir dosen Abstract jelaskan pekan lalu, masih ada 1 subab dan kurang lebih 3 Teorema dan 1 Corollary yg harus dibuktikan oleh si dosen sebelum akhirnya subab 2.10 menjadi bagian yg harus saya presentasikan. Dan kenyataan bahwa saya baru berhasil memahami pembuktian 1 Teorema yg membuat saya cemas, masih 2 lagi yg belum. OMG!! Kumaha ieu teh Rabb…

Kebiasaan dosen yg menjelaskan pembuktian dengan cepat dan membuat seolah2 waktu tidak ada, semakin mempercepat proses peningkatan kecemasan diri saya. Hingga pada akhirnya bukan materinya yg saya perhatikan, tapi justru fokus saya pada menit yg terus-menerus bergerak itu dan sibuk mencari2 cara mengatakan kesiapan untuk maju tapi untuk membuktikan 1 Teorema dulu. Haha emang bisa gitu??

“Sir, I just done one theorem, is it ok??”

Hah?? Masa gitu bilangnya?? Ya ampuun, mahasiswa macam apa saya. Terlebih ketika seorang teman mengatakan, “Where have you been all this two months??” Saya tersentak juga mendengarnya. Ada nada penyindiran disana. Iya ya kemana aja saya selama dua bulan ini?? 3 Teorema aja kok ga kelar.

Tapi kemudian sisi kemanusiaan saya muncul (baca: pembelaan diri), “Yee…you didn’t know what I have made for this task...all out you know…” tapi cuma bisa dikatakan dalam hati. Lagipula mungkin dia akan bilang, “Who care…”

Saya kemudian berpikir ulang. Kata2 teman saya itu memang benar, meski menyindir dan saya sempat merasa tak enak hati, tapi aahh this is not the right time to be offense…justru sebaliknya, saya harusnya bersyukur teman saya mengatakan itu. Sehingga saya sadar bahwa there is no excuse whatever the conditions…wong yg lain aja bisa kok menyelesaikannya dalam waktu yg relative sempit, lha saya?? I have 2 months at least for doing those, tapi hasilnya??

Huff…akhirnya hanya bisa berkata, oke fine this is truly my fault, done. Tanpa harus ada pembelaan diri yg sebenarnya ga tepat juga. So please enjoy yourself waiting for the time…Rabb help me…

Asli, lemes pisan, jadi merasakan bagaimana kondisi pihak yg tidak siap presentasi tapi tak mampu menghindari. I just praying to my Lord then…give me the best, Rabb…whatever what that will be like…pasrah sepasrah2nya. Alhamdulillahnya, I have made slide for the first theorem.

Tik tok tik tok…time is running out for me prepared my word…Duuh seandainya ada kolam atau lemari atau apa kek yg bisa hiding myself. Keadaan terjepit kadang bikin pikiran jadi doesn’t make sense yah, masa berimajinasi have a power to make myself invisible siy?? Waahh…parraaahh!!

Dengan hati lapang, bismillah ya Rabb, I’ll do my best ajah. 45 minutes left, dosen tercinta saya itu sudah memasuki 2 Teorema terakhir sebelum akhirnya bagian saya. Oh God, help me help me, I’m screaming then, tapi sekali lagi cuma dalam hati.

“Ok, I think this theorem is easy to understand, so you can learn it by yourself. Please tell me if you get confuse, what line...bla…bla…”

Dia menghentikan penjelasannya. Kelas hening tiba2, semuanya asik dengan bukunya masing2, ada beberapa yg berdiskusi dengan rekan sebelahnya. Sementara saya panik di keheningan saya.

Setelah ini pasti saya dipanggil, saya membatin.

And…

”Ok, we finished the class. See you later then.”

Upss…am I dreaming?? The class finished?? OMG!! Kan masih ada beberapa waktu. Aahh whatever yg penting class is over. Tengkyu Rabb, tengkyu pissaan banget sekali, YOU are saving my life (over and over again). Hiks…hiks…dalam keterdiaman saya tiba2 mata saya berembun. Can’t say anything other than, Alhamdulillah makasih Rabb…

Satu hal yg kemudian saya sadari, Alloh menolong saya lagi. Tapi…saya yg tampak tak menolong diri saya sendiri. Sebegitu banyak waktu, apa yg sudah saya lakukan?? Sampai2 dhuha hanya mengambil minimalnya (2 rakaat), lail juga hanya 7, target harian tilawah musti ngerapel, apalagi hapalan quran OMG hampir tak ada seayat pun!! Dan semua itu saya lakukan demi menyelesaikan tugas tepat waktu, but it was totally wrong!! Sebab hasilnya juga nonsense.

Ada kesalahan yg saya lakukan disana. Entah saya sadari atau tidak.
Saya tak menyertakan DIA.
Melupakan hakNYA sebagai Illah.

Dan yg membuat saya merutuki diri saya karena malu yg sangat adalah meski saya begitu (tak menyertakanNYa, melupakanNYA, dhuha, lail, tilawah hanya pada bagian minimalnya) Alloh tak mengabaikan saya, malah menyelamatkan saya. Lalu sopankah jika saya meminimalisir ibadah saya, padahal itu adalah bentuk bersyukur manusia pada Tuhannya?? ITU SUNGGUH TIDAK SOPAN!! Hamba macam apa saya??

Aaahh Rabb…maafkan saya (lagi)…

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNYA. Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Alloh).” (Q. S. Ibrahim (14), 34)


***

Satu slide hidup yg akan berulang kali saya buka untuk mengingatkan diri saya bahwa Alloh sudah sebegitu baiknya pada hidup saya tapi tak saya balas dengan kebaikan yg justru akan menolong diri saya sendiri…

Monday, November 23, 2009

Dan Ketika Hujan...


Hujan itu gelap…
Hujan itu dingin…
Hujan itu basah…
Hujan itu becek…
Hujan bisa bikin jalanan macet
Hujan bisa menghapuskan jejak make up
Hujan bisa bikin flu
Hujan bisa bikin ngantuk
Tapi yg pasti hujan ga berhenti2 bisa bikin banjir

***

Saya tertawa membaca isi pesan singkat seorang teman tentang kenapa dia tak ‘bersimpati’ pada hujan. Kemudian saya terpekur dalam di keheningan saya, dalam derasnya guyuran hujan di luar sana. Kenapa saya justru sangat suka hujan? Kenapa hadirnya malah membuat saya nyaman?

Hujan itu kan anugerah. Pemberian Tuhan yg indah.

Sebab melalui hujan DIA menghidupkan bumi sesudah matinya (Al Jaatsiyah ayat 5).
Sebab setelah hujan DIA tumbuhkan segala macam tumbuhan yg baik2 (Luqman ayat 10).
Sebab DIA menjadikan hujan untuk mensucikan manusia, menghilangkannya dari gangguan2 syaithon, menguatkan hati dan meneguhkan pijakan kakinya (Al Anfaal ayat 11).
Sebab hujan adalah tanda bagi kaum yg berpikir (As Sajdah ayat 27).

Hujan memberikan alasan untuk seseorang berhenti di jalan dan mencari naungan. Memberikan ruang untuk berpikir tentang bagaimana hujan bisa turun dan meneduhkan hawa yg panas. Menyisihkan waktu sejenak untuk kemudian merenung betapa ditunggunya hujan bagi petani yg sawahnya hampir kering krn persediaan air kurang, betapa bermanfaatnya hujan untuk menderaskan aliran sungai sehingga generator turbin bisa bergerak dan listrik pun menyala, betapa menguntungkannya hujan bagi para pengojek payung mengais rejeki, betapa berharganya hujan untuk mengairi sumur2 yg tandas.

Saat itu pula, hujan bisa mengingatkan kita tentang diriNYA. Tentang ke-Maha-an-NYA yg dengan sekehendakNYA menyertakan kilat dan petir dalam persemaian hujan, membersamakan riuh angin di kedatangannya baik dalam sepoian yg besar atau ringan. Yg kesemuanya menyatakan satu tujuan: menyelipkan perasaan takut dan harap di dada manusia pada Tuhannya. Bahwa Tuhan bisa menjadikan hujan sebagai rahmat atau siksaan (peringatan). Sehingga benak dan bathin manusia hanya dipenuhi ingatan tentangNYA. Lisan yg tak kunjung berhenti dari menyebut2 namaNYA.

Semoga hujan rahmat yg KAU limpahkan untuk kami Tuhan, bukan hujan siksaan…

***

Satu waktu ketika diri sangat merindukan kehadiran hujan sebagai peneduh hari…

Sunday, November 15, 2009

Males Ga Males Ga Males

Suatu hari seorang teman yg sedang menjalani beasiswa di Iceland sana mengungkap bahwa dirinya sedang dilanda ‘penyakit lama’. Saya sempat terdiam saat itu, ‘penyakit lama’ maksudnya? Begitu kira2 pertanyaan dalam hati saya. Tapi kemudian dia menjelaskan sebelum saya sempat bertanya. Ternyata yg dimaksudnya dengan ‘penyakit lama’ adalah MALAS. Hahaha…dikirain teh apa gitu.

“Ada saran, bu?”

Begitu kalo tidak salah dia bilang saat itu. Saya berpikir sejenak, duuh kasih saran apa ya? Masalahnya saat itu pun saya sedang terjangkit virus itu, hehehe…Kemudian saya berpikir lagi, aha mungkin dengan memberi saran padanya bisa juga untuk menasehati diri saya sendiri. Biasanya telinga itu lebih mendengar pada mulut yg paling dekat. Lumayan juga kan sekali dayung dua tiga pulau (kalo bisa mah semua) terlampaui. Naah jawaban saya kira2 begini…


Menurut saya males itu wajar kok dialami manusia pa, kalo ga pernah ngerasain males, perlu dipertanyakan tuh kemanusiaannya, heu3…Cuma bedanya ada orang yg bisa ngatasin malesnya secepat kilat, ada yg perlu waktu, bahkan ada juga yg ga bisa ngatasin malesnya.

Saya juga keinget sama sebuah nasehat waktu jaman sma dulu, ya jaman masih muda gitu deh…Bilang gini, “Sifat kelembaman itu berlaku untuk segala sesuatu yg ada di jagat raya ini. Sekalinya bergerak, maka akan cenderung bergerak terus. Sekalinya diam, maka akan cenderung untuk diam terus.” Hmmm…males juga sama tuh keliatannya, sekalinya males, cenderung buat males terus. Na’udzubillahimindzalik deh keterusan males…hari gini gitu loh…

Saat kita lagi ngerasa males, kita mesti tau jenis malesnya disebabkan apa, krn namanya males ternyata bisa beda2 sebab. Kalo beda sebab, pastinya solusinya juga beda.

Ada males krn stuck sama sesuatu. Ada males krn ngejalanin rutinitas yg itu itu aja. Ada males krn ruhiyahnya lg turun. Ada males krn lupa, lupa tujuan hidup, lupa amanah Alloh. Ada males krn cuma sugesti aja. Ada juga males yg bawaan orok, heu3…

Kalo lagi stuck sama sesuatu, biasanya saya tinggalin sebentar tuh, jalan kemana…gitu, liat2 keadaan sekeliling yg mungkin bisa bawa inspirasi buat nyelesein kebuntuan kita. Ato tukar pikiran sama temen yg nyambung diajak bicara.

Trus, kalo yg kita kerjain itu itu aja, mungkin kita butuh sesuatu yg beda, tapi yg masih merepresentasikan diri kita, jadi ga kehilangan jati diri gitu…kalo saya suka bgt sm sesuatu yg baru, biar apa yg saya alami tiap harinya jadi lebih seru…org2 yg ada di deket saya juga jadi ga bosen, kalo udah kaya gitu, semangat lagi deh…heu3

Tapi…kalo malesnya krn ruhiyah yg lagi turun, ini yg agak berat diatasi sendiri mungkin, makanya kita dinasehati untuk

(1) ga bosen dengerin nasehat agama,
(2) nderes quran+hadist,
(3) ato berbagi cerita ttg kisah bermakna sama saudara seiman

Kalo saya siy, saat saya ngerasa ruhiyahnya lagi turun, biasanya saya baca ulang nasehat2 yg saya suka catat, ato…saya nderes makna & ket quran, paling sering surat Ar-Rahman, salah satu firman Alloh yg indah bgt. Apalagi bagian fabiayyi aalaaa i robbikuma tukadzdzibaan…duh menohok bgt dah…kalo hadistnya, saya paling seneng hadist lengkap Nabi yg sholat lail ga pernah putus padahal beliau disucikan dari dosa, yg sampe kakinya bengkak2, tapi waktu ditanya sama A’isyah, Nabi jawab simple tapi dalem bgt, “Afala ‘akunu abdan syakuro??” Iiih…nabi, jadi sedih sekaligus malu gitu…moga Nabi nungguin kita di Telaga Kautsar kelak ya…

Kalo males krn lupa, lupa tujuan hidup, lupa amanah Alloh…harus ada org yg jewer kupingnya niy buat ngingetin kalo di dunia niy cuma sementara aja, cuma ngontrak, jadi ga boleh males2…namanya amanah mesti dipegang, sebab ntar Alloh minta laporannya. Tapi…kayanya sadis ya kalo dijewer, terus diapain dong???

Nah, kalo krn sugesti?? Ya…dilawannya mesti pake sugesti lagi. Kalo bawaan orok?? Wah…kayanya…itu takdir kali ya…heu3…

Pokonya waspadalah terhadap males…

Sebab males bikin kita ga produktif.
Sebab males energi negatif yg bisa menular.
Sebab males bisa jadi penghambat terwujudnya impian kita.
Sebab males ga jadi semua masalah kita terselesaikan.
Sebab males bisa bikin rahmat Alloh menjauh dari kita.
Sebab males artinya kita ngga bersyukur sama apa yg Alloh amanahkan.
Sebab males tandanya kita ga menghargai jasa orang2 yg sudah membantu memudahkan jalan kita hingga kita jadi seperti sekarang ini.
Sebab males bukan ciri pemuda muslim.
Sebab males ga Nabi contohin.

Ga tau deh apa jadinya kalo dulu Nabi males memperjuangkan Islam, mungkin indahnya agama ga akan bisa kita rasain sekarang.

Ada banyak cara ngatasin males, dan yg paling tau caranya, ya…diri kita sendiri.
Alloh yg kasih setiap rasa sama manusia, termasuk rasa males. Alloh kasih kita males bukan karena ga sayang, tapi justru pengen liat sejauh mana kita bisa atasin itu. Ya…sama kaya Alloh kasih rasa khawatir, sedih, bahagia. Hakikatnya semua rasa itu cobaan dari Alloh, yg pada akhirnya Alloh pengen liat sebesar apa ketergantungan kita sama Dzat Sang Pemberi Rasa itu…makanya kita dinasehati supaya banyak2 doa, salah satunya doa penjagaan terhindar dari rasa susah dan males…

Allohumma innii a’udzubika minalhammi wal hazani wal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wa dhola’iddaini wa gholabati arrijali…


So…tetep semangaaaat pa!! Sebab dgn semangat kita bisa ikhtiarkan setiap cita2, impian, harapan, doa.
Bismillah…kerjakan krn Alloh, smg Alloh paring aman, selamat, lancar, barokah…
Allohua’lam…

***

Iihh weeww…lumayan banyak juga ya yg saya tulis hehe…moga aja yg baca ngerti, syukur2 bisa bermanfaat. Satu hal yg saya sadari berikutnya adalah Alloh kasih kesempatan saya hadir hari itu hingga hari ini di bumiNYA tujuannya tuh bukan buat males2an. Tapi kalo si males itu datang tanpa bisa dihindari ya…jalan satu2nya adalah menghadapinya dan melawannya

So…keep fighting on it Rina!!!

Friday, November 13, 2009

Dear Tuhan...(Abang's note)

Dear Tuhan…

Tuhan, sibuk yah??

Ga, cuma mau tanya ajah, kok doa abang ga dikabul2 sih?? Kayanya Tuhan sibuk banget yah??
Abang cuma minta mamah sama papah rukun2, Tuhan. Ga berantem2 lagi, abang sedih liat mamah nangis, papah juga suka uring2an, paling sedih liat Charissa, kan masih 3 taun Tuhan, tapi udah harus denger mamah sama papah berantem.

Tuhan, ga sibuk kan??

Kabulin doa abang yah, Tuhan…

Makasih…

***


Tulisan singkat seorang murid les privat saya di tahun 2004 silam. Saat itu usianya 7 tahun, kelas 2 SD. Secara tidak sengaja saya membaca catatan itu ketika hendak memeriksa pekerjaan rumah yg saya berikan di pertemuan sebelumnya. Deg, ada sebuah perasaan yg…ah…cukup rumit, saya tak mampu membahasakannya saat itu.

Tapi satu hal kemudian saya sadari, betapa tidak menyenangkannya berada dalam kondisi seperti yg demikian. Meski tak bisa saya ingkari juga bahwa hal macam itu bisa terjadi pada siapa saja, baik yg sudah siap secara mental atau yg belum sama sekali. Tapi, saya jadi bertanya2 sendiri, apakah ada orang yg siap ketika dihadapkan pada kondisi yg tidak nyaman?? (Rina is thinking then…) Rasanya bisa dihitung jari.

Tuhan, sibuk yah??

Itu kalimat pembuka yg cukup membuat mata saya berkaca2. Ada sebuah ingin yg sulit saya sampaikan pada Abang.

Bahwa Alloh ga sibuk, Bang. Alloh tuh denger doanya Abang. Tau kalo Abang ga pernah absen sholat. Liat saat Abang berlama2 menengadahkan tangan di akhir sholat. Bahkan lintasan pikiran Abang dan bersitan perasaan sesaat Abang pun Tuhan tau.

Saat itu saya kesulitan, bagaimana saya menjelaskan pada anak seusianya tentang berapa waktu yg dibutuhkan sebuah doa dikabul?? Dan bagaimana saya harus menjawab ketika ditanya ‘apakah doanya ga Tuhan kabulkan’??

Hmm…Bang, jangankan Abang, orang yg usianya jauh lebih tua dari Abang pun terkadang masih sering bertanya2 kapan doanya dikabulkan, bahkan ada pula yg men-judge Alloh ga sayang sama orang itu ketika doa2nya tak kunjung jadi nyata.

Pada orang yg usianya jauh diatas Abang mungkin saja saya bisa mengatakan, “Manusia bisa saja berencana, tapi hanya Alloh yg membuatnya jadi nyata. Yg harus diyakini adalah ketika kita berdoa padaNYA, hanya ada 3 kemungkinan jawaban dariNYA:
(1) Yes,
(2) Yes, but not now,
(3) I have the best plan for u.”

So, there is no ‘No answer’, isn’t it?? Sebab Alloh ga pernah bilang ga atas doa2 kita…Alloh ga pernah ingkar sama apa yg sudah dijanjikanNYA. Alloh sampai2 mengabadikan janjiNYA dalam surat Al Baqarah 186.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”


“Abang yg sabar ya…Alloh pasti dengar doa Abang…” Itu akhirnya yg bisa saya katakan padanya sambil mengusap punggungnya. Semoga dia memahami apa yg saya katakan saat itu. Saya tak mampu lagi mengeluarkan kata2, terharu uy (alias udah mau nangis…).

“Kalo Abang doanya banyak dan sering, apa Tuhan ga bosen, Kak?”

Kembali saya tersentak.

“Sebanyak dan sesering apapun Abang berdoa, Alloh ga akan bosen. Justru Alloh seneng, Bang…” Jawab saya sambil memaksakan diri tersenyum, padahal mah udah mau keluar tuh air mata. Hiks…hiks…yg sabar ya Bang…

He was smiling then…

***

Hari itu saya pulang dengan membawa banyak pelajaran. Tentang rasa syukur sebab hingga sebesar waktu itu masalah yg dihadapi tak sepelik yg dihadapi Abang di usianya. Tentang keyakinan akan doa2 yg akan Alloh kabulkan because Alloh will never say No. Tentang kesiapan diri menghadapi masa2 yg tidak menyamankan sebab mungkin saja di detik selanjutnya giliran saya yg berada pada kondisi itu.

Tentang…ah…terlalu banyak yg telah Alloh perlihatkan hari itu pada saya, hingga saya tersadar, lho...kok udah nyampe gang kosan ya?? padahal lumayan jauh...sarijadi-geger kalong...fiuuhh...

Alhamdulillah Tuhan…

Tuesday, November 03, 2009

Bapak Tua dan Data


22 Oktober 2009, 21.45

Entah sudah berapa kali saya melihat bapak tua yg rambutnya sudah memutih semua itu duduk memojok di tempat yg sama. Di salah satu sudut di depan sebuah tempat, sebut ajahlah ya namanya, tapi bukan promosi lho: Alfamart.

Duduk dengan posisi yg sama tiap kali saya mengunjungi Alfa, menghadap ke jalan sambil menopangkan dagunya di salah satu tangannya yg saya lihat hampir berkerut2 semua (yaiyyalah namanya juga bapak tua, salah satu indikatornya adalah keriput). Menunggui dengan sabar rak sederhana tempat bertumpu bola2 balon warna-warninya yg tak kunjung habis.

Sekali dua kali saya hanya lewat saja, paling menengok sebentar lalu jalan lagi. Ada niat untuk membeli, tapi buat apa, ga urgen juga buat saya, lagi pula saya ga punya anak kecil atau kenalan anak kecil yg bisa saya kasih bola itu seandainya saya beli. Dan saya juga berpikir kenapa org2 juga ga berminat sama apa yg bapak tawarkan, secara udah ketinggalan jaman juga mainan kayak begitu. Apalagi anak2 jaman sekarang mainannya udah yg canggih banget, berbasis program2 komputer baik berupa game, ps, dan lain2 sejenis itu. Poko’e menggunakan pendekatan ICT-lah…


Ceritanya malam itu ada data yg belum lengkap yg harus saya olah untuk bahan makalah, ga memungkinkan untuk bisa online di kosan, anak ibu kost yg biasa ditebeng juga lagi ga ada di tempat, jadi ya…mau ga mau mesti jalan ke luar komplek nyari warnet, meski saat itu keadaan saya benar2 lelah sangaaddh. Satu jam di warnet beres, kemudian pulang, tapi berencana mampir ke Alfa untuk beli susu cair dan roti untuk cemilan malam krn rencananya mau bergadang juga.

Mendekati Alfa, rak bola si bapak sudah saya lihat terlebih dulu ketimbang bapaknya. Perlahan, mendekat dan saya baru bisa melihat bapak pas ketika saya hendak berbelok ke pintu masuk Alfa. Seperti biasa bapak sedang menopang dagu. Saya perhatikan sekilas pandangan bapak mengikuti arah kendaraan yg berlalu lalang di jalan di hadapannya. Uuughh bapak, kamu mengingatkan saya sama almarhum mbah kakung yg udah passed away…hiks…hiks…

Di dalam Alfa pikiran saya ga fokus. Malah keingetan si bapak tua di luar tadi. Kemudian saya jadi berpikir, saya melihat lagi ke dalam hidup saya, ya Alloh betapa beruntungnya saya. Saya masih muda. Masih bisa melakukan sesuatu yg saya inginkan. Saya ga harus jualan di pinggir jalan (berharap kelak ketika tua pun tak seperti itu). Saya bisa sekolah dari mulai TK sampai S2 sekarang. Saya ga kekurangan makan setiap harinya. Bisa beli apa yang mau saya makan. Ahh…macam2 yg saya pikirkan saat itu. Kesemuanya mengakhirkan saya pada suatu kata: bersyukur. Alloh, saya amat sangat bersyukur dengan hidup saya. Meski mungkin tak indah selalu. Tapi pun tak selamanya sedih melulu. Meski ga bisa menghindar dari yg namanya susah, tapi saya percaya setelah susah pasti ada mudah.

Saya meyakini bahwa semua yg terjadi di hidup seseorang selalu 2 berkebalikan. Dan mereka datang bergantian. Layaknya siang yg tidak akan terus siang, pun malam yg ga selamanya malam. Semuanya sudah Alloh atur dgn sebaik2nya, tanpa cacat, tanpa satu pihak terdzalimi. Itu saya rasa yg harus dipahami. Bahwa Alloh tidak akan lepas tangan dari hidup kita. Bahwa Alloh sudah mengatur rezekinya bumi dengan perkiraanNYA yg tepat, tidak akan pernah meleset. Lalu, yg harus saya lakukan di tiap2 bagian itu adalah

tetap bertahan, menjalaninya dan memahaminya sambil terus mencari jalan untuk bersyukur.

Kemudian dalam hati saya berkata, pokoknya pulang dari Alfa mesti beli tuh balon, terserah deh nantinya mo buat apa, yg penting beli.

“Pak, satunya berapa.” Tanya saya.

“Tiga ribu, mbak.” Jawab si bapak dgn dedet jawa yg khas bgt.

“Owh beli dua, pak.”

Padahal uang saya tinggal sisa 10 ribu lagi, jadi kalo beli bola dua, sisa total 4 ribu. Tapi…ga tau kenapa ada sebuah perasaan yg…aahhh sulit didefinisikan sama kata2, bisanya cuma dirasain. Dada saya sampai sesak, pengen nangis tapi malu, secara di pinggir jalan besar, banyak orang juga. Salah2 dikira anak ilang lagi, mana bawa bola yg ga diplastikin pula sebab bapak ga menyediakan plastik. Akhirnya jalan ke kosan sambil nenteng2 bola. Meski ditatapi aneh sama orang2 di jalan, tapi langkah saya tuh ringaaaan banget. Bahagia aja sebab kesampean beli bola balon bapak yg udah lama banget pengen dilakukan tapi banyak mikir. Ga tau deh tuh bola nantinya mau diapain.

Tiba di kosan, eehh ada ibu kos lagi sama cucunya, si mas dan si ade. Ahaa…diam2 saya sangat bersyukur melihat kedua bocah itu. Dengan wajah sumringah saya hampiri dua anak kecil itu, jongkok, dan bilang, “Adee…mau bola ga?? Niihh…buat mas sama ade yaa…”

Si mas sama si ade ngedeketin sambil senyum seneng khas anak2 gitu. Iihh lucu deh pokonya. Kemudian bola2 yg saya bawa tadi sudah berpindah tangan ke tangan2 mungil mereka. Ya Alloh…ada perasaan yg…ah…lagi2 ga bisa diungkap, cuma bisa dirasain aja. Akhirnya bola2 itu bermanfaat juga.

Sampai di kamar, masih dengan hati yg berbunga2, buka laptop, masukan flashdisk dan bersiap bekerja dengan data yg sudah saya punya. Tapi…OMG!!!

Masya Alloh…tiba2 ada perasaan geli tapi juga menyebalkan menyergap saya.

Data yg di warnet tadi belum saya save ke flashdisk!! Huff…hahaha, I was laughing then.
Ada kesal yg juga ga bisa diungkap sebetulnya, tapi…malam itu meski menyelesaikan makalah dengan data seadanya, saya bisa tidur dengan perasaan lega, sebab saya bisa melakukan hal yg ingin saya lakukan sejak lama: beli bola balon bapak tua itu. Daaaan…beruntung bola2 tadi langsung bisa bermanfaat sebab ada cucu2 ibu kos yg masih kecil2 itu dan seneng banget dikasih bola.

***

Alhamdulillah…makasih untuk hari ini Rabb…sebab KAU masih memberikan saya kesempatan untuk merasakan hal2 sederhana itu...

Sunday, October 25, 2009

Wajah2 Dalam Kereta


Saya menyaksikannya sendiri, kalau mau berlebihannya, dengan kedua mata dari kepala saya sendiri, bagaimana keadaan sebagian kecil rakyat di Indonesia Raya tercinta ini. Saya menghela napas, agak panjang, mungkin Pak Presiden harusnya sering2 melawat mereka, melihat keadaan orang-orang yang dipimpinnya, jadi bisa lebih punya gambaran untuk program kerja selama menjabat sehingga benar2 memiliki sasaran dan target yg tepat.

Pun dengan Pak Menteri2 itu, ada baiknya study banding ke tempat-tempat seperti ini. Bukan ke Amerika atau Mesir, bukan dengan pesawat terbang atau limosin, bukan dengan pelayanan mewah dan hotel bintang lima. Mereka harusnya saksikan apa yg saya lihat ini. Wajah-wajah yang diliputi risau dengan kulit-kulit yang kian melegam. Bersama gerobak atau kereta dorong kecil atau kotak-kotak kayu kecil atau bakul-bakul tua mereka merenda waktu yang terasa makin berat dilampaui.

Sambil menyermati polah dan wajah mereka, kemudian saya berpikir, mungkin merekalah pejuang cinta sebenarnya. Yang menyusahkan raga2 rapuh mereka untuk sebuah tawa orang2 terkasih yg menunggu di rumah. Yang memenatkan pikir mereka demi memanjangkan tarikan nafas orang2 tercinta yg menjadi tanggungannya. Betapa tak pernah terlintas untuk hentikan langkah saja, justru sebaliknya mereka tetap bertahan meski kaki2 mereka telah terlumat linu yang sangat. Meski hati2 mereka tengah meluruh di antara keputusasaan yang menderak-derak ruang batinnya untuk berhenti, untuk menyerah pada kenyataan yang tak pernah berpihak.


Ah..hidup. Apa sebenarnya yang dicari? Makna hidupkah? Atau fakta hidup? Makna dan fakta. Dua hal yang yang kadang tak bisa dilihat dari mata yang sama. Perlu mata tambahan –mata ketiga dan keempat, batin dan benak- untuk menyingkap apa yang tersembunyi di balik keduanya.

Saya tersenyum, juga sempat menitikkan airmata, ragu, kesal, aneh, bingung. Tapi kesemua rasa itu menautkan saya pada berbagai perasaan lain. Cinta, rasa syukur, keberuntungan, kedewasaan, dan semangat. Mata saya diperlihatkan, inilah hidup, inilah kehidupan. Ada yang harus berpayah-payah demi secuil kehidupan. Namun di sudut yang lain, ada yg begitu mudah menggenggam kehidupan. Ada yang tersenyum di balik wajah muram. Meski ada yang menangis di balik gelak tawa. Ironis, sungguh ironis. Dan semakin saya menyadari, sekali lagi, bahwa kehidupan memang tersusun atas dua hal yg saling berironi, saling berkebalikan.

Hidup ini memang alur keironisan. Misteri yang dilengkapi intrik. Pantas banyak yang memilih akhiri hidup. Sebab mereka tak temukan kunci dari pintu misteri. Sebab mereka terlalu dini memutuskan bahwa mereka bukan lawan seimbang bergulat dengan hidup. Sebab mereka tak sabaran menanti lonceng dibunyikan dan wasit mengumumkan siapa pemenang atas pergulatan ini.

Hidup itu tidak mudah, seringkali saya mendengar ungkapan itu. Saya mengiyakan, bahkan berkali2 menyebutkannya, tapi bukan karena hidup tidak mudah lantas saya bisa terus2an mengeluh kemudian menyerah. Tidak. Justru sebab ia tidak mudah, maka saya lebih punya banyak peluang untuk belajar menaklukannya sambil tak henti2 beringsut lebih mendekat padaNYA.

***

Stasiun Kota…

Hmmfh…saya bersyukur ketinggalan kereta bisnis hari itu, sebab saya bisa menyaksikan slide2 lain tentang hidup yg membawa saya pada kenyataan yg tak mampu saya ingkari: nikmat2 yg Alloh titipkan untuk hidup saya, yg belum lagi usai saya syukuri, ehh…nikmat yg lainnya sudah datang mengantri. Alhamdulillah…

Catatan lama si Sayah di 28 Desember 2005
Saat roda2 besi kereta ekonomi tujuan Jakarta ini kian berat beradu…

Tuesday, October 20, 2009

B E R A N I



Saya menyadari bahwa menjadi anak-anak adalah fase hidup. Tetapi saya harus jauh lebih memahami bahwa menjadi dewasa adalah keberanian. Maka berani dewasa bukan urusan usia –meski ia punya andil- tapi ini soal sikap, soal memilih kadar yang mana dari kebahagiaan yang bertingkat-tingkat.

Berani dewasa adalah pilihan hidup yang tidak sederhana. Ini bukan semata soal bertambahnya usia. Tapi berani dewasa adalah keputusan sikap, sudut pandang, pikiran, dan tindakan yang benar-benar didasarkan pada kesadaran penuh. Menurut saya kuncinya ada pada kematangan, kekuatan pijakan, tujuan akhir yang seterang matahari di puncak siang. Tentu ruh dasar dan pondasinya jelas-jelas iman. Tetapi proses berani dewasa adalah:

situasi demi situasi yang kita bangun dari rangkaian sikap demi sikap. Yang kita pupuk dengan ketulusan demi ketulusan. Yang kita rajut dari tabungan demi tabungan hikmah dan renungan jiwa kita.


Adakah tujuan akhir yang lebih akhir dari kampung akhirat?? Adakah orang yang lebih kaya dari orang yang ridlo dengan makanannya hari ini?? Berani dewasa adalah berani memutuskan bahwa tujuan hidupnya adalah yang jauh di akhirat sana.

Berani dewasa adalah keputusan jiwa yang sangat tidak sederhana. Sebab ia seringkali berada dalam situasi lahiriyah yang sangat kontras.


Saya kanak-kanak, misalnya, tapi saya harus tumbuh dengan kemengertian yang maju. Saya miskin, misalnya, tapi saya harus menuntun hati dan menekan kehendak-kehendak kemewahan yang tak sampai. Saya kaya raya, misalnya, tapi saya harus memerangi keangkuhan dan naluri semena-mena. Saya punya keterbatasan, misalnya, tapi saya harus berjuang dan menggerakkan segala upaa agar menjdi sesuatu. Saya pintar dan bergelar, misalnya, tapi saya harus arif dan terus meyakini bahwa di atas yang bisa, masih ada yang lebih bisa.

Begitulah kedewasaan mengairi takdir-takdir jalan hidup kita dengan kejelasan arah, kejernihan sudut pandang, tetapi dengan vitalitas yang terus menyala.

Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Bahwa fase demi fase adalah kepastian. Setiap usia punya jenjangnya, situasinya, sulit dan mudahnya. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah keniscayaan yang dengannya kita bisa melalui segala fase itu, kita kejar cita-cita akhir kita, di puncak pengharapan ridlo Alloh semata.


***

p.s. keisengan si Sayah ketika melihat 2 pasang anak dan ayah dalam kondisi yg kontradiktif…sepasang dalam mobil mewah, sepasang sedang menyortir sampah…what a life…

Saturday, October 17, 2009

Biasa-biasa Saja...

-First-

Ia lahir dgn biasa2 saja. Kemudian masa kecilnya dihabiskan dng hal2 yg biasa2 saja. Menginjak remaja, alur hidupnya pun tak berubah, biasa2 saja. Mulai dari ucapannya yg biasa2 saja, pemikiran yg biasa2 saja, aktivitasnya yg juga biasa2 saja, hubungan dgn orang2 di sekitarnya pun biasa2 saja. Ya, semuanya biasa2 saja. Dan hal itu berlanjut hingga ia mulai dipandang dewasa baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain di luar dirinya. Ia masih menjadi yg biasa2 saja.

Tak ada yg istimewa yg bisa dibanggakan, karena ia biasa2 saja. Sekolah di tempat yg biasa2 saja dng prestasi yg biasa2 saja. Kegiatan kemahasiswaan yg ia ikuti pun biasa2 saja. Dan kalaupun ia tergabung dalam kegiatan yg ‘wah’ maka ia tetap menjelma menjadi sosok yg biasa2 saja. Totalitas dan loyalitas yg ia keluarkan demi suksesnya kegiatan pun biasa2 saja.

Dan kemudian dia pun lulus dari studinya dgn gelar sarjana yg biasa2 saja. Selang beberapa waktu ia memperoleh pekerjaan yg juga biasa2 saja. Akhirnya menikah. Singkat cerita, setelah ia punya anak, punya cucu, kemudian tua. Dan akhirnya meninggal dunia.

-Done-


Kisah singkat dari seseorg yg biasa2 saja. Seseorg yg menghabiskan usianya dgn biasa2 saja. Tak ada gebrakan yg membuat hidupnya menjadi ‘lebih’ dari biasa2 saja. Sementara dgn yg ‘lebih’ itu, hidupnya mungkin akan terasa makin berwarna. Kehadirannya mungkin akan semakin membawa manfaat, tidak hanya utk dirinya tapi juga utk orang lain.

Menjadi ‘lebih’ dari biasa2 saja bukan bermaksud utk memperlihatkan kekuatan diri sehingga menjadikannya sombong. Bukan itu. Tapi lebih kepada pengoptimalan usaha diri utk mengembangkan potensi yg dimiliki. Sebab kebanyakan masih tak menyadari, bahwa setiap manusia dilengkapi dng potensi diri yg sama, boleh jadi punya peluang yg sama meraih sukses meski dengan jalan yg berbeda. Sebab mayoritas masih meragu bahwa apa2 yg ada dalam dirinya adalah ‘lebih’ dari biasa2 saja.

Saya berkali2 mengingatkan si Aku, bahwa sesungguhnya yg membedakan seseorg yg biasa2 saja dng org yg ‘lebih’ dari biasa2 saja itu terletak pada pengupayaannya. Pada setiap titik ikhtiar yg dilewati. Pada setiap keteguhan mental yg dimiliki. Pada setiap doa yg terpanjat tak henti2. Kita harus percaya bahwa kita bisa ‘lebih’ dari biasa2 saja. Bahwa kita mampu melakukan sswt yg ‘lebih’ dari biasa2 saja. Bahwa setiap yg ‘lebih’ dari biasa2 saja itu akan mendatangkan manfaat yg juga lebih dari biasa2.

Masih terlalu dini utk puas terhadap potensi diri yg mungkin baru sepersekian persen kita ketahui. Karena masih begitu banyak sisi gelap diri yg belum kita terangi. Masih banyak kelebihan2 diri yg belum selesai digali. Jangan sampai sisi gelap yg belum terterangi dan kelebihan2 diri yg belum selesai tergali itu menjadi bom waktu yg dapat meluluhlantakkan apa2 yg sudah dijalani. Atau malah jadi boomerang bagi diri sebab ketidaktahuan di bagian mana ia bisa berekspresi mngembangkan diri.

Menjadi sunatulloh jika segala sesuatu yg Alloh ciptakan selalu dua berkebalikan. Siang-malam, tinggi-rendah, suka-duka, kuat-lemah, mudah-sulit, dan lain2. Yang masing2 keduanya ada untuk saling menopang satu sama lain, bukan malah menjatuhkan dan membuatnya tak berkembang. Pada akhirnya semua hal2 yg berkebalikan itu mengantarkan lisan pada satu kata: bersyukur. Memuarakan setiap langkah pada satu tekad: mardlotillah (mencari wajah Alloh).

Adanya kelemahan harus disyukuri, sebab itu yg membuat kita sempurna jadi manusia. Tapi tak selesai sampai disitu. Kita ga bisa menjadikan kelemahan sebagai kunci bermalas2an dan ga mau berusaha, itu picik namanya. Pun ketika kita memperlakukan kekuatan yg kita miliki, syukuri. Sebab dgn itu kita bisa berbuat lebih banyak yg berarti, ga hanya buat diri tapi juga buat orang2 tercinta di sekitar kita. Ga masalah meski kita hanya bisa melakukannya dalam skala kecil. Ukuran itu bisa jadi relative, yg lebih utama adalah kebermaknaan yg bisa kita ambil dalam menjalaninya.

Jangan berorientasi pada kelemahan dan kekurangan yg ada pada diri hingga akhirnya membawa kita pada ketidakpercayaan bahwa kita mampu lakukan yg lebih. Jangan terpaku pada semua cela dan khilaf yg telah dilakukan diri hingga akhirnya menyeret langkah pada keputusasaan, sementara pintu tobat belum kita sentuh dan kita hampiri sama sekali.

Akhirnya, janganlah jadi manusia yg hanya biasa2 saja, dng ucapan yg biasa2 saja, dng pemikiran yg biasa2 saja, dng apa2 dalam hidup yg biasa2 saja. Sementara dng yg ‘lebih’ dari biasa2 saja, kita mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, sehingga keberadaan kita benar2 membawa manfaat. Sehingga keberadaan kita menjadi problem solver atau peace maker atau apalah. Dan bukan menjadi trouble maker.

Janganlah jadi hamba yg biasa2 saja, amalan wajib yg dilakukan secara biasa2 saja, sunnah yg biasa2 saja, dan kegiatan2 ibadah yg biasa2 saja. Sementara dng yg ‘lebih’ dari biasa2 saja, kita bisa selangkah lebih dekat denganNYA, kita bisa pertebal kantong perbekalan amal kita menuju alam yg lebih kekal nanti. Sehingga kita bisa menjadi hamba yg dinaungiNYA dng cinta yg ‘lebih’ dari biasa2.

Allahua’lam

p.s. si Aku menebar asa, smg bisa jadi lebih dari yg biasa2...^^

Monday, October 05, 2009

Warna2 di Dunia Rina...


Drrrttt…drrrrrtttt…(silence profile)

1 message received


From Mr. X
(seorang sahabat)

(layar 1)

kt org
shbt tu b’harga bgt,

nilai p’shbatn tu tnggii bgt,


(layar 2)

ak nyseL br tw skrg,


-bersambung-

***

Sesaat sebelum pesan singkat itu masuk, sebenarnya Rina sedang memperhatikan warna2 yang begitu banyak rupanya untuk keperluan suatu desain. Tapi kemudian dia jadi berpikir sesuatu, mungkin berfilosofi, yeah…meski agak sedikit maksa sih.

Rina memulainya: ‘sahabat itu seperti warna’.


Kalau dunia ini indah dan semarak krn bantuan warna2 yang banyak, maka dunia seorang Rina Okta juga sangat bercorak krn hadirnya sahabat2 yang tak henti menghadirkan semangat. Tanpa ia sadari sebelumnya, ternyata keberadaan sahabat2 itu menyisipkan rasa yang beda dalam hari yang ia punya. Menambahkan bermacam warna di hidupnya Rina sehingga ia tak lagi hanya memandang 3 warna: putih, hitam, dan perpaduan keduanya. Itu sangat membuat ia menjadi:
B A HA G I A.

Krn Rina Okta ini termasuk kategori pelupa, maka warna2 yang sudah ia punya kemudian disimpan teratur dalam hati yang sudah ia partisi. Ia sangat antusias mempelajari warna2 yang ada dalam dunianya. Sebab makin hari partisi2 dengan banyak folder itu makin sarat makna. Penuh dengan karakter dan cara pandang yang beda2 namun istimewa. Disitu letak berharganya. Rina mengira bisa menukarnya dengan sesuatu yang lebih mewah, tapi kemudian lekas menyadari bahwa mewah tak selalu berarti bahagia. Meski dalam interaksinya ia tak jarang mengalami kecewa menghadapi warna yang diluar duganya, yang tak secerah kemauannya, yang tak seindah dalam benaknya.


Tapi kemudian dia mencerna kembali pemikirannya, bukankah menjadi kecewa itu salah satu aspek yang harus Rina rasa? Sebab mengenal dan menyimpan warna baru dalam hidupnya bukan tanpa resiko satu atau dua. Ia tidak bisa hanya menerima warna2 yang ia suka saja. Sebab nantinya ia tidak akan banyak belajar tentang warna lain yang boleh jadi membuatnya makin bijaksana dan bijaksini menjalani dunianya. Aaahh…kekecewaan mah akan hilang seketika sebab tertimpa warna yang lebih ceria, tul ga??


Intinya, apapun warna2 yang ada dalam hidup seorang Rina Okta, menyenangkan mata atau malah membuat kesal jiwa, bisa diterima logika atau mungkin hanya menambah hambar rasa, mereka telah membawa corak baru yang beda dari sebelumnya. Yang bisa ia amati untuk bahan kontemplasi diri. Yang memungkinkan ia berpikir tak hanya untuk satu sisi. Yang juga bisa ia ajak ketawa ketiwi haha hihi…sambil memandang optimis pada metamorfosis kehidupan yang hanya bisa dirasakan satu kali. And she will take in good part, whatever the colors she got.

Dan pada akhirnya Rina dipertemukan pada satu makna: mensyukuri kehadiran dan keberadaan mereka –semua sahabat2nya- yang pernah ada dan akan selalu ada dalam jejak hidup seorang biasa bernama Rina. Lebih tepatnya didatangkan Tuhan untuk ia syukuri.


‘Alloh…makasih…Sahabat2ku…makasih…’
, Rina mengakhirinya.


(kembali meneruskan memilih desain)


***

-lanjutan-

(layar 2)
cb dr dl..

psti udH ak juaL smw shbt2q,,


buat ngisi tbungan, haha :p

Message details:

From Mr. X <+0815724*****>
Subject …

Date 29-07-2009
Time 6:34 pm

Type Text message


p.s1 Alhamdulillahi jazaakallohu khoiro…buat si pengirim yg bikin seorang Rina Okta makin bersyukur utk hidupnya krn ia dikelilingi sahabat2 yg tdk hanya mengingatkan saat lupa tetapi juga membagi setiap tawa bersama…


p.s2 thx, makasih, gracias, hatur nuhun, matur suwun…semua bentuk ucapan yg lain yg intinya sama…buat mereka2 yg sudah hadir memberikan warna dan corak yg beda di dunia Rina, yg kemudian Rina menyebutnya: S A H A B A T, di bumi manapun kalian berpijak…


eeh tapi yah…andai bisa dijual pun…paling lakunya berapa?? Hehe ups…maksudnya ga akan pernah bisa melakukan itu…ga akan…^^