RSS Feed

Monday, March 22, 2010

Just Wanna Be Me...

Hmm…


Hari ini, ketika melihat orang2 yg berlalu lalang di jalan, diselingi kendaraan yg berseliweran kesana kemari, kemudian sampai di kosan, sembari beristirahat sebentar saya membuka account facebook saya dan membaca setiap status rekan2 saya di homepage…


Tuhan…betapa sangat saya beruntung menjadi saya, dan seharusnya setiap orang pun merasakan perasaan yg sama dengan saya, beruntung menjadi diri mereka. Tak soal sebanyak apa bahagia atau duka yg dijalani, sebab masing2 orang punya masa mudah dan masa sulitnya sendiri. Ketika saya bermuram durja, bisa jadi mereka tertawa, pun sebaliknya.


Tidak ada yg perlu merasa bahwa nasib seseorang lebih baik dari orang yg lain atau tidak, sebab Tuhan sudah atur semua jalan cerita manusia dengan sebaik2nya perkara. Tidak ada yg akan teraniaya dari semua yg sudah Tuhan rencanakan ini. Tidak ada, semakhluk pun. Sebab hanya Seorang DIA yg mampu menakar segala jenis rasa bagi setiap hambaNYA yg percaya.


Dan sambil diiringi lagu Semua Karena Cinta yg dinyanyikan Joy Tobing, saya semakin bersyukur dengan menjadi saya, dengan semangat saya, dengan senyum saya, dengan semua lebih dan kurang saya.

Rabb, alhamdulillahirrobbil’alamin, syukur sujudku padaMU Tuhanku…

Sunday, March 21, 2010

Dan Bumi yg Semakin Tua...

Hmm…ternyata dunia itu sudah sangat tua ya, haha itu lintasan pikiran saya ketika melihat beberapa adik kelas yg sekarang tampak jauh lebih dewasa daripada saya, padahal saya sudah akan genap seperempat abad Oktober nanti.


Sepertinya baru kemarin saya melihat mereka berlari2 seperti bocah2, ga taunya sudah hampir 7-8 tahun silam hal tersebut berlalu. Sekarang yg terlihat wajah2 yg makin chubby, perut2 yg nambah maju, hihihi lucu aja gitu ya.

Dan saya tersadar dengan semua itu, betapa saya juga semakin beranjak senja. Meski ya kadang kalo org lewat, terutama ibu2 sama bapak2 ngeliat saya masih kaya anak2 sma gitu, aduuh pliss deh bu, pa, saya ini udah tua bukan abg lagi…tapi bersyukurlah dianugerahi wajah yg imuuutt…hehe

Jadi ya intinya…selalu berbuat yg baik dari hari ke hari ajalah…meski bumi semakin tua, meski diri semakin beranjak senja :)

Sunday, March 14, 2010

5 Cewek Nafil...(Learn To Be Wise)

Suatu sore di teras rumah dengan kolam ikan di hadapannya, terjadilah sebuah dialog ringan antara ibu dan anak lelakinya yg ketika itu duduk di kelas 5 SD.

Nafil: Mah, di kelasku ada 5 orang cewek, semuanya suka sama aku, nah tinggal aku yg bingung mau pilih yg mana, soalnya semuanya punya kelebihan dan kekurangan…(lalu si anak menjelaskan satu persatu teman2 perempuannya yg –katanya- naksir dia itu

1. Sintia, dia cantik, bisa main musik, ya nyeimbanginlah sama kemampuan musik aku, tapi dia ga pinter2 amat, Mah…
2. Lika, hmm dia pinter sih, cantik juga, tapi dia cuma bisa nyanyi doang, ga bisa main musik, dia juga lebih tinggi dari aku, wah kaya adeknya Mah kalo aku jalan sm dia…
3. Jihan, ini nih jagonya piano Mah, gitar juga dia oke, tapi dia biasa aja Mah wajahnya dan ga pinter2 juga…
4. Bla…bla…(dia menjelaskan sampai yg ke 5)



Ibunya khidmat menyermati setiap kata yg dilontarkan anaknya itu, layaknya berhadapan dengan orang dewasa pada umumnya. Tak pernah terlintas berpikir, “alaaahh anak kecil ini, jd pura2 dengerin aja kali ya…,” ga sama sekali. Sesaat saya menerka2 jawaban apa yg akan diberikan si Ibu pada anak lelaki yg saat itu tengah menopang dagu menunggu kalimat si Ibu.

“Aduh, kamu ya, anak kecil, ga usah pacar2an, belajar aja dulu yg bener,” ini dugaan saya yg pertama.

“Masih bau kencur aja pacar2an, ga boleh!!” hmm ini bisa juga jd alternatif jawaban.

“Kalo kamu pacaran, mama gantung nanti…kakinya!!” haha jawaban aneh, tapi who knows ya??

Hmm…apalagi ya kira2 jawaban yg mungkin?? Kayanya mah ga jauh2 dari itu. Intinya penolakan dan larangan secara terang2an. Anak SD gitu lho pacar2an, plis deh! Tapi sesaat setelah mendengar jawaban si Ibu, saya jadi ngahuleung alias termangu. Takjub aja gitu ya sama ide si Ibu dalam memberitahu si anak kalo seusia2 segitu lebih baik berteman aja dulu yg banyak. Secara mereka masih terlalu muda juga buat hal2 yg demikian. Tapi bahasanya itu lho ya, ngga frontal bilang, “ngga boleh”, tapi menjelaskan dengan bahasa yg logis dan beralasan.

Saya jadi belajar sesuatu dari sana, bahwa sebenarnya membelajarkan anak2 berpikir dewasa memang harus sejak dini. Maksudnya berpikir dewasa disini mengajak mereka bersikap bahwa segala sesuatu itu pasti ada konsekuensinya, kalo ini maka begitu.

Saya juga diingatkan kalo anak2 itu jangan selalu dianggap anak2, yg pendapatnya kadang diabaikan, yg ketika berbicara kadang didengar setengah telinga, yg pertanyaannya kadang disepelakan kemudian ga dijawab. Sebab anak2 itu punya hak untuk didengar, untuk dikasih masukan, untuk diajak bicara. Dan bisa jadi disanalah awal dari pembentukan cara berpikirnya terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Let them learn from that moment.

Hahay…satu lagi ilmu buat persiapan jadi ibu. Bijak pada anak. Dan ini berlaku buat semua ibu lho, mulai dari ibu guru, ibu dosen, ibu pejabat, sampai ibu rumah tangga. Ga hanya ibu2 aja kali, bapak2, om2, kakek-nenek, kakak, semuanya berlaku etika ini.

Penasaran apa yg dijawab si Ibu itu?? Jreng…jreng…jawabannya adalaaaahh…(fitri tropica mode on…halah lebay…)

“Fil, kalo kamu pacaran, kamu rugi, soalnya deketnya cuma ke satu orang aja. Kalo kamu deket sm cewek lain nanti pacar kamu cemburu, ga enak lho dicemburuin, kamu jadi ga bebas. Coba kalo berteman, kan deketnya ke semuanya tuh, bebas mau ngobrol sama siapa juga. Itu kalo kata Mama.”

Nafil terdiam…sambil manggut2…”Bener juga ya, Mah.”

Dan...tetooottt...jawaban saya ga ada yg bener bo' :D

Friday, March 12, 2010

Refleksi pada Kata Bernama Iri

“Sekolah lagi ya?” Tanya seseorang long long time ago, dan berubah ga hanya seorang tapi jadi berorang2, hmmfh…begitu cepatnya berita menyebar, padahal saya bukan selebritis yg suka ngiklan atau maen pelem di tipi. Yaa pernah sih sesekali sayuting utk pemotretan di majalah Tr*b*s…(yee lo kate aye bonsai ape ye??)

“Oh eh iya, insya Alloh,” saya cuma bisa jawab singkat gitu saja.

“Waah, seneng ya…gratis lagi, beruntungnya jadi kamu,” katanya lagi. Deg, entah kenapa ada sedikit luka di hati saya. (lho??) Haha aneh ya, harusnya bersyukur ya dipredikati sebagai orang yg beruntung, sekalian di-amin-i juga, siapa tahu jadi doa. (aamiiin…)


Emm…bukannya ga senang dipandang sebagai orang yg beruntung (dalam konteks duniawi). Tapi mungkin saya punya perspektif sendiri dengan kata beruntung itu, ga hanya sekedar dapat sekolah gratis yg setelah lulus nanti dijamin kerjanya. Sebab bagi saya, menjadi diri sendiri apa adanya itu yg paling beruntung. Sebab dengan menjadi seorang saya yg membedakannya dari orang lain. And it is really fun to be unique.

Buat saya bisa lihat sekelumit kehidupan orang yg bisa saya refleksikan ke hidup saya itu sudah syukur banget. Ditambah bisa lari2, loncat2, ketawa ngakak, punya banyak koleksi pelem2 bagus, bisa nulis meski ga oke2 amat, bisa cheer up, bisa bikin ketawa orang lain, bisa ngehapal ayat, bisa pergi ngaji, bisa hujan2an, bisa makan es krim, bisa ngisengin orang, waaahhh banyaaklah pokonya yg membuat saya jatuh cinta pada diri dan kehidupan saya.

Kalau ditanya, “pernah ngiri ga sama orang lain??” Hmm…pastinya pernah bangetlah. Saya selalu bergumam pada diri saya sendiri ketika melihat orang yg menurut saya bisa jadi objek peng-iri-an, duuhh itu orang kok bisa ya kaya gitu, padahal waktu yg Alloh kasih sama lho 24 jam. Tapi buntut dari rasa iri itu justru membuat saya terpacu dan terpicu utk bs lebih baik dari saya yg sekarang, dengan catatan tidak menghilangkan keunikan saya. Because I believe I can take my success by being myself. Tinggal usahanya saja yg optimum.

Saya menyadari ternyata menjadi diri sendiri lebih menyenangkan. Meski ya ga bisa menutup mata kalau tawa dan tangis itu datang dan pergi sekehendaknya sendiri. Saya juga diingatkan bahwa bukan berarti ketika diri saya membersitkan keinginan menjadi orang lain, keadaan itu yg lebih baik untuk saya, ngga sama sekali.

Ga ada yg bisa menjamin ketika saya menjalani kehidupan yg bukan saya, lantas saya akan lebih berbahagia. Sebab setiap posisi, setiap kedudukan sudah Alloh tegakkan sesuai dengan perhitunganNYA yg tanpa cacat segores pun. Sebab setiap rasa, setiap keadaan sudah Alloh aturkan dengan sebaik2nya perencanaan yg tak akan meleset seinchi pun.


Saya jadi menyimpulkan sendiri akhirnya, jika saya hanya memandang kebersyukuran dari tinjauan orang lain maka saya ga layak dikatakan hamba yg bersyukur, jatuhnya malah jadi ga fair sama diri sendiri, salah2 saya bisa diancam siksa Tuhan…sudah sangat jelas sekali tuh di Q.S. Ibrahim ayat 7 (na’udzubillahimindzalik) Sebab kedudukan saya dan orang lain berbeda, tentu tugas perkembangan yg hendak dicapai pun ga sama, yg otomatis cobaan dan kenikmatan yg diperoleh juga ga serupa. Tapi tetap sesuai dengan porsinya. Cuma kadang mata manusia saja yg kurang mahir melihat letak porsi tersebut. Akhirnya yg terjadi kecemburuan pada nasib 1 sm lain.

Saya sangat senang bisa melihat kehidupan orang lain yg kemudian saya cerminkan di kehidupan saya. Sebab lambat laun membuat saya mengerti bahwa saya ga akan pernah tahu sesulit apa orang lain mempertahankan hidupnya sehingga mereka berhak atas balasan kenikmatan dari usahanya itu. Sebaliknya, orang lain juga tentu ga tahu secara rinci sekeras apa ujian yg saya jalani sehingga saya dapat balasan kemudahan dari Tuhan. Jadi ngiri2an kayanya sudah ga njamani lagi deh, ga bijak aja gitu ya.

Tapi kadang dengan mudahnya saya-orang lain terpedaya hembusan kencang syaithon yg mengantarkan pada kata bernama iri. Ini juga yg hampir seperempat abad kehidupan saya berusaha untuk tidak terjangkiti. Yaa meski dalam usahanya harus jatuh bangun, but I’m really fighting on it. Ga sudi aja gitu ya lihat syaithon terbahak2 sementara saya terseok memelihara penyakit hati itu pada sesama saya.

***

“Udah merit ya?” Tanya saya pada seseorang yg bertanya, bahkan ga hanya pada seorang saja saya layangkan.

“He em, Alhamdulillah udah kerja dan punya buntut juga nih,” jawabnya sumringah.

“Waah senangnya yaa…, beruntung deh jadi kamu, udah kerja, punya suami, punya baby, lengkap sudah…,” kata saya lagi. Tuhh kan gimana ga beruntung coba jadi mereka?

***

Ketika teringat pesan Luqman pada anaknya yg Alloh abadikan di Qur’anul Karim, Q. S. Luqman (31) ayat 12.

“Bersyukurlah kepada Alloh. Dan barangsiapa yg bersukur kepada Alloh, sesungguhnya ia bersyukur utk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yg tidak bersyukur, maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”