RSS Feed

Wednesday, December 30, 2009

Photo di Dompet Tua

“Mbah, kelahiran tahun berapa sih??” Tanya saya suatu ketika pada mbah.

“Wah, mbah mah udah tua, kelahiran ’40.”

(hehe, yah atuh namanya juga mbah2, ya pasti udah tua…*dalam hati itu teh* eehh mbah lho yg bilang ya)

Lantas pikiran saya loncat kesana kemari, menghubungkan skema yg satu dengan yg lainnya tentang arti usia, masa tua, dan bekal menuju kesana. 69 tahun sudah mbah lalui, saya bergumam. Subhanalloh, setahun lebih panjang dari nabi.

Akankah saya tiba di masa tua saya? Menyaksikan uban2 yg kelak akan bermunculan. Memperhatikan keriput yg nantinya jadi kawan. Menikmati jerih payah muda sembari mengawasi beberapa cucu di pekarangan rumah hari tua yg damai di paris van java.
Hahaha…meuni jauh pisan atuh neng…

Saya tertawa, tapi dengan kesadaran tinggi. Suatu hari mungkin saya akan menjadi mbah seperti mbah saya sekarang. Tua, berkacamata, jalan kadang dituntun pula. Tapi menjadi seperti itu tidak lantas menjadikan saya khawatir yg berlebihan, seperti phobia terhadap kaca misalnya sebab ga tahan kalo liat keriput di sekitar wajah, atau ketakutan saat pergantian usia tiba, atau menggunakan cream anti aging yg ngga kira2 dengan harapan bisa memperlambat penuaan di muka. Hehe…

Saya juga sadar bahwa
menjadi tua merupakan tahapan yg tak terelakan sesudah masa muda, tentu dengan catatan jika Tuhan masih berkehendak memanjangkan bilangan usia saya di bumiNYA. Tapi sekarang masalahnya bukan berada pada seberapa tua saya dan sedekat apa saya dengan masa itu. Hal yg lebih utama untuk dipikirkan adalah sesadar apa saya dengan masa muda saya dan apa yg bisa saya ukir di masa itu sehingga keberadaan saya benar2 bisa diperhitungkan dan tidak sekedar sebagai figuran yg hanya sekali dua kali jalan. Tapi poin besarnya adalah pada optimalisasi kemampuan yg saya genggam, bukan pada arogansi diri ingin dilihat dan dielu2kan.

The emphasis is in my consciousness, bahwa saya harus bisa berkontribusi pada dunia yg menjadikan saya ada. Tidak hanya sekedar ingin. Tapi mimpi yg tak punya pilihan untuk tak diwujudkan. Baik dengan tindakan yg bisa dilihat secara kasat mata atau yg hanya mampu dirasa oleh hati saja.

Finally I myself, once again, can’t deny, because there’s no denying, I have no idea to make an alibi, that the days I have are really priceless. Sangat memungkinkan bagi saya memberi andil pada bumi yg makin hari menjadi tua ini. Saya bersyukur dengan masa muda saya, meski tak semuanya indah dan sesuai asa. Setidaknya banyak hal yg saya alami, banyak hal yg saya jumpai.
Semua itu memaksa saya untuk tidak hanya mampu mengamati tapi sekaligus supaya mengerti, memahami, hingga kemudian mensyukuri.

So Rina…come on, act your age!! (hehe…Rina said to herself to stop behaving like someone who is much younger, because she is really beginning to feel her age = feel old, wkwkwkwk)

And…I’m starting to show my age then…

Sejurus saya jadi teringat mbah, belakangan jadi sangat bersyukur, sebab saya masih bisa lari2, loncat2 sana sini, jalan cepat sesuka hati, bahkan mau kombinasi jalan sambil lari juga ga akan kewalahan bakal sakit kaki. Pun masih bisa nuntun si mbah yg katanya sudah jadi nini2 (
hehe, si mbah mah angger, da namanya juga mbah2 ya pasti nini2 juga lah…).

Saya bersyukur masih dikelilingi orang2 baik, yg masih menyisakan ingatannya untuk saya, yg ga bosan membaitkan doa2 tulus buat saya, yg tanpa henti menyemangati semua ikhtiar saya. Membuat saya tersadar bahwa saya tidak sendirian. Dan seharusnya saya tidak pernah merasa benar2 sendirian. Ada kamu, dia, mereka, kalian, baik dengan tanda kutip ataupun tidak. Dan…salah satunya adalah si mbah…

Pokoknya mah semakin semangat saja saya menjalani hari2 yg saya miliki. Sebab keberadaan saya disini, bukan tanpa alasan, bukan dengan sesuatu yg tak berdasar. Tuhan, makasih untuk hari kemarin, hari ini, dan hari besok yg masih jadi misteri.

***

“Pokonya mba Ina harus berhasil, mbah selalu doakan buat mba Ina, nih lihat, photo mba Ina selalu mbah bawa kemana2…”

Mbah puteri mengeluarkan dompet tuanya, warna merah yg sudah agak memudar pula, dan…aahh benar, ada photo saya disana…
my tears was falling then…

Tuesday, December 29, 2009

Sejuta Rindu Buat Ibu

Mamah : neng janten meser printer kangge leptop teh??
(neng jadi beli printer buat leptopnya?)

Neng : muhun mah, janten, da ieu oge nuju milarian.
(iya mah, jadi, ini juga lagi nyari)

Mamah : sabarahaan kitu neng?? Bade nu kumaha??
(berapaan gitu neng? mau yg kaya gimana?)

Neng : ah nu mirah wae mah, nu sederhana.
(ah yg murah aja, yg sederhana)

Mamah: cekap teu neng artosna??
(cukup ngga uangnya?)

Neng : cekap mah, sapalih ngangge artos beasiswa da.
(cukup kok, sebagian pake uang beasiswa)

Mamah : nya entos atuh upami nuju milarian mah, tong hilap emam nya.
(ya udah kalo lagi mencari, jangan lupa makan ya)

Neng : muhun mah, insya Alloh.
(iya mah, insya Alloh)

***

Percakapan ibu-anak yg saya tangkap beberapa waktu silam. Sudah lama sih, dua tahun lalu mungkin, tapi seketika teringat, entah kenapa. Apa karena saya rindu ibu ya?? Aahh…ibu, kata apa yg bisa menggambarkan sosokmu, malaikatkah? Hmm…tidak, tidak pas (sambil menggeleng2 kepala). Kenapa? Iya, jika malaikat digambarkan seperti sosok yg berbinar, maka binar ibu melebihi binar yg bisa dipancarkan malaikat. Jika malaikat dipredikatkan sebagai makhluk yg menjaga, maka penjagaan ibu lebih menyemesta daripada penjagaan malaikat, sebab ibu punya kartu matinya: doa.

Tentarakah? Hmm…ini juga tak tepat (sembari mengerutkan dahi: berpikir). Jika tentara diidentikkan dengan kegagahan dan kegigihannya membela tanah air, maka kehebatan itu tak mampu melampaui kepunyaanmu ibu. Gagahmu dalam menawarkan lengan, membuat saya nyaman dalam dekapan, memastikan tak ada satu pun yg mengganggu ketenteraman. Gigihmu saat meyakinkan saya tentang mimpi2, mengejar pelangi hingga ke ujung bumi, menghampiri matahari bahkan ketika ia tak menyinari.

Dewi dari kahyangankah?? Haha…saya tertawa, bukan ini juga. Jika dewi2 itu punya kelembutan seperti sutera, maka yg kau miliki tak bisa jadi tandingannya ibu. Too far. Because your heart is so special. Filled with sensitive emotion, yg bisa selalu jadi tempat aduan dan merebahkan kepala di pangkuan. And wherever life will take me, I’ll always have your deep devotion.

Hmm…seperti apa lagi ya?? Aahh ibu, seberapa pun banyak sosok2 hebat yg berkelebihan, tetap ibu yg jadi jagoan. Keberadaanmu seperti udara bu. Syarat perlu dalam dunia saya yg mejikuhibiniu. Cintamu, airmatamu, perhatianmu, peluhmu, darahmu, doamu, sungguh tak mampu kuganti dengan apa tak tahu. Hanya bisa sampaikan pesan pada Tuhan pemilik rindu, siapkan satu tempat terindah di SurgaMU untuk ibu.

Can’t say anything other than Alhamdulillahi jazaakillahu khoiro ibu… for everything you have gave to me…

***

Klik (telepon ditutup dari seberang sana)

Teman Mamah : si neng bade meser naon bu??
(si neng mau beli apa bu?)

Mamah : printer leptop saurna mah.
(katanya printer leptop)

Teman Mamah : oh, nu kumaha printer leptop teh?? Sami teu sareng printer komputer??
(oh, yg kaya gimana printer leptop itu? Sama ngga dengan printer komputer?)

Mamah : hmm…beda penginten, da leptop oge beda sareng komputer, upami printer leptop mah panginten tiasa dicandak kamana wae.
(hmm…sepertinya beda, kan leptop juga beda sama komputer, kalo printer leptop mungkin bisa dibawa kemana aja)

Teman Mamah : naha tiasa kitu??
(kenapa bisa begitu?)

Mamah : pan leptop na oge tiasa dicandak kamamana.
(kan leptopnya juga bisa dibawa kemana2)

Teman Mamah : ohh…??*&^%$#@

***

Ibu, miss u so ^^
I’ll do my best…

Monday, December 28, 2009

Wajah2 di Sudut Hati

Intro lagu yg diawali dengan dentingan tuts piano ini membuat saya tercenung barang sesaat. Berpikir sejenak, kemudian tertawa tanpa terbahak. Saya mengingatmu, mengingat dia, mengingat kalian. Wajah2 yg selalu hadir di empat tahun kehidupan saya dan untuk seterusnya di sisa usia saya. Dan kebersamaan itu telah mengukuhkan segenap jiwa dan raga saya untuk mengklaim kalian dengan sebuah predikat: SAHABAT.

Tak hanya soal akademik yg kalian tahu tentang saya, tapi semua. Kelebihan saya, kekurangan saya, bahkan kebiasaan saya yg setengah mati saya sembunyikan, kalian tetap tahu. Tak hanya tawa yg kalian urai untuk saya, tapi duka pun kalian pecahkan menjadi titik embun yg menyejukkan jalan saya. Setiap kejadian yg menghadirkan lengkung senyuman atau tangis yg membuat langkah kita terhenti sejenak, semua itu membuat saya makin menyadari betapa berharganya kebersamaan dengan kalian. Bahkan saat kita jauh sekalipun, entah ketika ada sesuatu yg tak berada di tempatnya, saya merasakannya. Terlepas saya kalian ingat atau sebaliknya, terlupakan.

Kemudian, hati saya bertanya,
Tuhan sebegitu hebatkah ikatan ini hingga yg tak terkatakan pun saya merasakan??
Inikah wujud robithoh2 itu??
Beginikah efek menghadirkan wajah2 mereka dalam doa dan sujud saya??


Lalu ada perasaan bersalah ketika sekian lama saya tak mengetahui kabar wajah2 itu. Apa yg terjadi pada mereka, bagaimana kondisi ruhiyah dan jasadnya, semuanya. Namun, percayalah wajah2 teduhmu, dia, dan kalian, tak mungkin luput dari lisan ini. Melafadzkan nama2 kalian sudah menjadi rutinitas, dan mengubah rutinitas itu sama saja menawar bumi agar berhenti memutari matahari. Haha…terdengar berlebihakah?? Ahh biarkan saja.

Kamu tahu, sahabat, menyejajarkan langkah saya dengan langkahmu tak semudah yg saya duga. Butuh energi berlipat mengejar kalian, agar saya menjadi bagian dari kalian, supaya saya bisa merasakan semangat yg luar biasa yg kalian pancarkan. Pastinya saya memerlukan kesabaran tingkat tinggi yg terkadang berbanding terbalik dengan ekspektasi. Tapi lantas saya tak peduli dengan seberapa waktu yg saya sisihkan untuk berjuang bersama kalian. Tak selintas pun terpikir menghitung banyak tenaga yg saya keluarkan untuk berlari bersama kalian. Cukup, cukup Tuhan yg mengetahuinya. Iya, cukup DIA saja yg menjagakan apa yg saya rasa agar berada tetap di tempatnya, tanpa cacat.

Bahkan ketika saya menyadari saya sakit hati dengan sikap kalian. Saya kalian abaikan. Atau dilupakan. Atau apalah yg menuai protes di hati dan tak sejalan dengan harapan. Seketika saya marah, tapi kemudian saya tertawa, haha…begini rasanya menjalani persahabatan yg sesungguhnya. Tak selalu bahagia yg jadi latar, melainkan ketidakenakan keadaan pun menjadi harga yg tak bisa ditawar. But, you have seen it, semua itu justru mengokohkan kaki kita, bukan menceraiberaikan. And even we more close to each other.

Saat kita berbeda pendapat. Satu sama lain mengusung dan mempertahankannya dengan banyak argumen logis yg tak jarang bikin kita diem2an. Sampai2 ada yg ga mau saling menatap. Oke, we need time to figure out anything yg datang mendadak ke hidup kita. Kita sudah mengerti satu sama lain bahwa masing2 kita butuh ruang untuk berpikir sendiri, bahkan ketika saya menghilang, kalian tahu dimana menemukan saya: toilet JICA lt1.

Kita sama2 mengerti bahwa kita punya cara masing2 menjernihkan benak yg kacau. Mencoba meredam sendiri energy negatif agar tak menular pada yg lain. Ahh sahabat…tak akan habis waktu saya menggambarkan tentangmu, tentang kebersamaan kita, tentang amarah yg diakhiri dengan tawa, tentang ilmu2 kehidupan yg satu-satu telah kita catat rapi di benak dan hati kita, tentang kedewasaan bertindak menghadapi apapun dan siapapun, tentang…semua.

Pernah bertanya kenapa kalian dipertemukan dengan saya, dengan dia, dengan mereka?? Pertanyaan itu yg akhir2 ini bertengger dan terperangkap selama beberapa saat di kepala saya. Hingga saya menemukan alasannya, dari versi saya sendiri. Kalian hadir bukan suatu kebetulan untuk hidup saya. Nothing happens by chance. Alloh sudah menakdirkan saya bertemu kalian. Memperbaiki diri dengan bantuan kalian. Mendekatkan langkah padaNYA lewat kalian.

Kalian juga bukan seorang figuran di scene hidup saya, yg hanya sekali lewat, yg diabaikan setelah tak terpakai. Bukan. Kalian adalah pemeran utama dalam cerita saya. Meski harus ada tangis, kecewa, konyol, marah, dzon2, etc. Namun kawan tahukah yg menjadikan semua indah hal2 tidak indah itu menjadi indah?? Sebab pertemuan kita dilandasi oleh cintaNYA, cinta kepadaNYA. Setelah itu habis perkara.

Done.

***

Saat mendengar alunan “Bersamamu”-nya Vierra…hahaha berasa teenager euy!! Aah bae aah…

Guys…we grew up!! And become an adults is not easy, but it’s not a reason to make it easier…Love u guys, with all of my soul…^^

Sunday, December 27, 2009

LUPA...dgn Di-kan dan Me-kan

Bagaimana rasanya dilupakan??

Sebuah pertanyaan mampir di benak saya suatu ketika, saat mata saya tertumpu pada sebuah bayangan yang tak saya kenal.

“Waahh…tega banget deh yg ngelupain saya, terlebih kalo saya udah baik sama dia,” jawab seorang teman.

“Hmm…kalo ada alasan yg masuk akal dan logis knp seseorang ngelupain saya, yaa saya mah terima aja lah. Tapi knp harus dilupain sih?? Ga enak tau digituin…,” tukas seseorang lugas.

“Meureun ga bermaksud melupakan, tapi da kumaha upami dianya terserang pirus vikun mah…itu mah sudah takdir kale yee…hehehe,” yg lain berkomentar lain.

“Kalo menurut saya, dilupakan memang tidak mengenakan, baik dengan tidak sengaja apalagi sengaja, sungguh menohok. Tapi, mungkin seseorang punya alasan sendiri knp dia mau melupakan org, dan itu hak dia, siapa gue juga larang2 dia coba, tul ga??” Pendapat yg lebih terbuka saya dengar.

“Udaaah…lupain deui weeh, hese ammat!! Masalah selesai kan??” Waah…ekstrim banget yak nih komen, ck…ck…(sambil menggeleng2kan kepala dan mengurut dada).

***

Kemudian saya terpekur. Memikirkan jawaban2 org2 di atas, yg mungkin baik secara sadar atau tidak sadar telah dilupakan atau melupakan org lain. Saya mencoba memahami ketidakenakan pihak yang dilupakan, tanpa bermaksud mengenyampingkan perasaan org yang melupakan. Hmm rumit juga ya…

Kalau kamu yg dilupakan Na, gmn??

Lha…kok daku?? (sambil mendelik ke arah penanya) Hmm…jika dikembalikan pada posisi saya, mungkin iya awalnya merasa tidak enak, terlebih jika saya tak menemukan alasan jelas yg melatarbelakangi saya dilupakan. Tapi bukan jadi alasan untuk kemudian saya ikut2an melupakan org yg melupakan saya kan?? Siapa tahu dia memang punya alasan kuat melupakan saya, sakit hati misalnya, atau pemikiran yg sudah tak sejalan mungkin, atau jangan2 memang punya penyakit pikun, there are many possibilities and I couldn’t refuse it.

Sehingga saya selaku manusia yg menjunjung tinggi harkat martabat serta menghormati kebebasan berpikir dan berpendapat, insya Alloh dengan hati sukarela dan lapang dada tidak akan berkomentar panjang lebar tentang hal itu. Dengan kata lain: sabar dan menerima saja. Done. Yg penting saya jadi ga latah, ikut2an melupakan. Dan semoga saya terhindar dari persangkaan2 tidak baik yg bisa membuat saya jadi susah sendiri dan kehilangan kebarokahan Tuhan.

Kemudian saya jadi berpikir, saya harus lebih hati2 lagi kalau begitu ya. Hati2 gmn maksudnya?? Iya, hati2, harus lebih jaga sikap, jgn sampai bikin org lain sakit hati terus jadi ingin melupakan saya. Mesti bisa jaga bicara, supaya org lain masih mau mengingat saya dan melafadzkan doa2 tulus mereka buat saya. Kudu tahan banting sama kondisi yg bikin saya ga enak, malah harus bisa membuat suasana itu kembali normal, bukan sebaliknya, bikin jadi semrawut. Dan tentunya harus sering2 minta maaf sama org2 yg berinteraksi sama saya dan mohon ampun sama Tuhan kalau sudah membuat hambaNYA sakit hati. Hmm…Saya jadi teringat kata2 org bijak:

Berhentilah menunggu kondisi membaik. Lakukan sesuatu agar kondisi membaik.


Ga bisa dipungkiri sama sekali kalau dalam interaksi kita sesama manusia memiliki peluang yg tidak 0 untuk saling bergesekkan. Sudah jadi hal yg lumrah jika ada saling ketidakenakan hati di suatu kesempatan. Tapi yg utama ketika itu sudah terjadi dan saya menyadari, saya harus minta maaf. Sebab saya khawatir, jika saya mengulur2 maaf saya (terlepas apakah saya salah atau tidak) Tuhan akan mengulur2 pula kebarokahanNYA untuk saya. Kan serem tuh…wong saya ada disini buat cari kebarokahan Alloh kok…

Nah kalau kamu yg melupakan seseorang, pernah??

Hmm…jujur, pernah ada keinginan melupakan beberapa nama dengan penguatan bahwa melupakan org adalah hak pribadi masing2. Tapi kemudian saya berpikir ulang, buat apa juga saya melupakannya?? Karena sakit hati?? Atau terbawa emosi?? Duuh kok saya jadi ga tau terimakasih gini sih, terlebih jika org2 itu sudah dengan tulus ikhlas menyertakan nama saya dalam doa2nya, meridhokan benaknya untuk mengingat saya dalam sujud2nya. Seharusnya kan saya mendoakan balik, bukan malah dilupakan, sehebat apapun sakit hati (yg mungkin) sudah org2 itu perbuat pada saya.

Haha, kemudian saya tertawa sejenak. Mudah sekali berbicara demikian, prakteknya?? Nah, kalau ada org yg bilang begitu gmn?? Hmm…awalnya memang ga mudah, apalagi kalau emosi sudah berpartisipasi, wuiihh…bisa perang bathin. All the beginning is difficult, isn’t it?? Eiitt…ada tapinya lho, tapi bukan berarti yg susah itu ga bisa jadi mudah. The cluster point is in your effort. Usahakan atuh!! Usaha, man, usaha!! Insya Alloh, da atuh Tuhan oge ga berdiam diri ketika melihat hambaNYA berusaha mah. Apalagi buat mencari kebarokahanNYA.

Oh iya, saya teringat si my Pap yg pernah bilang begini (tapi kayanya si my Pap oge ngutip dari tempat lain da…hihihi):

2 hal yg harus saya ingat
1.Kesalahan2 saya pada org lain
2.Kebaikan2 org lain pada saya

2 hal yg harus saya lupa
1.Kebaikan2 saya pada org lain
2.Kesalahan2 org lain pada saya


Hmm…kemudian saya jadi mengingat2 lagi siapa2 sajakah yg sudah saya sakiti hatinya. Tuhan ampuni saya…teman maafkan…

Sunday, December 20, 2009

Kecemasan -part1-

Cemas…

Lagi-lagi saya merasakannya. Semakin saya mencoba memokuskan pikiran pada buku-buku berjudul Abstract Algebra, semakin erat pula kecemasan itu mengikat saya. Terlebih putaran jarum menit dan detik terlihat lebih cepat dari biasanya, waah kayanya kecepetan deh tuh jam, sampai2 saya berhalusinasi ada yg tak beres dengan jamnya. Padahal orangnya yg ga beres, hahaha…


Teorema 2.8.5 itu yg terakhir dosen Abstract jelaskan pekan lalu, masih ada 1 subab dan kurang lebih 3 Teorema dan 1 Corollary yg harus dibuktikan oleh si dosen sebelum akhirnya subab 2.10 menjadi bagian yg harus saya presentasikan. Dan kenyataan bahwa saya baru berhasil memahami pembuktian 1 Teorema yg membuat saya cemas, masih 2 lagi yg belum. OMG!! Kumaha ieu teh Rabb…

Kebiasaan dosen yg menjelaskan pembuktian dengan cepat dan membuat seolah2 waktu tidak ada, semakin mempercepat proses peningkatan kecemasan diri saya. Hingga pada akhirnya bukan materinya yg saya perhatikan, tapi justru fokus saya pada menit yg terus-menerus bergerak itu dan sibuk mencari2 cara mengatakan kesiapan untuk maju tapi untuk membuktikan 1 Teorema dulu. Haha emang bisa gitu??

“Sir, I just done one theorem, is it ok??”

Hah?? Masa gitu bilangnya?? Ya ampuun, mahasiswa macam apa saya. Terlebih ketika seorang teman mengatakan, “Where have you been all this two months??” Saya tersentak juga mendengarnya. Ada nada penyindiran disana. Iya ya kemana aja saya selama dua bulan ini?? 3 Teorema aja kok ga kelar.

Tapi kemudian sisi kemanusiaan saya muncul (baca: pembelaan diri), “Yee…you didn’t know what I have made for this task...all out you know…” tapi cuma bisa dikatakan dalam hati. Lagipula mungkin dia akan bilang, “Who care…”

Saya kemudian berpikir ulang. Kata2 teman saya itu memang benar, meski menyindir dan saya sempat merasa tak enak hati, tapi aahh this is not the right time to be offense…justru sebaliknya, saya harusnya bersyukur teman saya mengatakan itu. Sehingga saya sadar bahwa there is no excuse whatever the conditions…wong yg lain aja bisa kok menyelesaikannya dalam waktu yg relative sempit, lha saya?? I have 2 months at least for doing those, tapi hasilnya??

Huff…akhirnya hanya bisa berkata, oke fine this is truly my fault, done. Tanpa harus ada pembelaan diri yg sebenarnya ga tepat juga. So please enjoy yourself waiting for the time…Rabb help me…

Asli, lemes pisan, jadi merasakan bagaimana kondisi pihak yg tidak siap presentasi tapi tak mampu menghindari. I just praying to my Lord then…give me the best, Rabb…whatever what that will be like…pasrah sepasrah2nya. Alhamdulillahnya, I have made slide for the first theorem.

Tik tok tik tok…time is running out for me prepared my word…Duuh seandainya ada kolam atau lemari atau apa kek yg bisa hiding myself. Keadaan terjepit kadang bikin pikiran jadi doesn’t make sense yah, masa berimajinasi have a power to make myself invisible siy?? Waahh…parraaahh!!

Dengan hati lapang, bismillah ya Rabb, I’ll do my best ajah. 45 minutes left, dosen tercinta saya itu sudah memasuki 2 Teorema terakhir sebelum akhirnya bagian saya. Oh God, help me help me, I’m screaming then, tapi sekali lagi cuma dalam hati.

“Ok, I think this theorem is easy to understand, so you can learn it by yourself. Please tell me if you get confuse, what line...bla…bla…”

Dia menghentikan penjelasannya. Kelas hening tiba2, semuanya asik dengan bukunya masing2, ada beberapa yg berdiskusi dengan rekan sebelahnya. Sementara saya panik di keheningan saya.

Setelah ini pasti saya dipanggil, saya membatin.

And…

”Ok, we finished the class. See you later then.”

Upss…am I dreaming?? The class finished?? OMG!! Kan masih ada beberapa waktu. Aahh whatever yg penting class is over. Tengkyu Rabb, tengkyu pissaan banget sekali, YOU are saving my life (over and over again). Hiks…hiks…dalam keterdiaman saya tiba2 mata saya berembun. Can’t say anything other than, Alhamdulillah makasih Rabb…

Satu hal yg kemudian saya sadari, Alloh menolong saya lagi. Tapi…saya yg tampak tak menolong diri saya sendiri. Sebegitu banyak waktu, apa yg sudah saya lakukan?? Sampai2 dhuha hanya mengambil minimalnya (2 rakaat), lail juga hanya 7, target harian tilawah musti ngerapel, apalagi hapalan quran OMG hampir tak ada seayat pun!! Dan semua itu saya lakukan demi menyelesaikan tugas tepat waktu, but it was totally wrong!! Sebab hasilnya juga nonsense.

Ada kesalahan yg saya lakukan disana. Entah saya sadari atau tidak.
Saya tak menyertakan DIA.
Melupakan hakNYA sebagai Illah.

Dan yg membuat saya merutuki diri saya karena malu yg sangat adalah meski saya begitu (tak menyertakanNYa, melupakanNYA, dhuha, lail, tilawah hanya pada bagian minimalnya) Alloh tak mengabaikan saya, malah menyelamatkan saya. Lalu sopankah jika saya meminimalisir ibadah saya, padahal itu adalah bentuk bersyukur manusia pada Tuhannya?? ITU SUNGGUH TIDAK SOPAN!! Hamba macam apa saya??

Aaahh Rabb…maafkan saya (lagi)…

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNYA. Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Alloh).” (Q. S. Ibrahim (14), 34)


***

Satu slide hidup yg akan berulang kali saya buka untuk mengingatkan diri saya bahwa Alloh sudah sebegitu baiknya pada hidup saya tapi tak saya balas dengan kebaikan yg justru akan menolong diri saya sendiri…

Monday, November 23, 2009

Dan Ketika Hujan...


Hujan itu gelap…
Hujan itu dingin…
Hujan itu basah…
Hujan itu becek…
Hujan bisa bikin jalanan macet
Hujan bisa menghapuskan jejak make up
Hujan bisa bikin flu
Hujan bisa bikin ngantuk
Tapi yg pasti hujan ga berhenti2 bisa bikin banjir

***

Saya tertawa membaca isi pesan singkat seorang teman tentang kenapa dia tak ‘bersimpati’ pada hujan. Kemudian saya terpekur dalam di keheningan saya, dalam derasnya guyuran hujan di luar sana. Kenapa saya justru sangat suka hujan? Kenapa hadirnya malah membuat saya nyaman?

Hujan itu kan anugerah. Pemberian Tuhan yg indah.

Sebab melalui hujan DIA menghidupkan bumi sesudah matinya (Al Jaatsiyah ayat 5).
Sebab setelah hujan DIA tumbuhkan segala macam tumbuhan yg baik2 (Luqman ayat 10).
Sebab DIA menjadikan hujan untuk mensucikan manusia, menghilangkannya dari gangguan2 syaithon, menguatkan hati dan meneguhkan pijakan kakinya (Al Anfaal ayat 11).
Sebab hujan adalah tanda bagi kaum yg berpikir (As Sajdah ayat 27).

Hujan memberikan alasan untuk seseorang berhenti di jalan dan mencari naungan. Memberikan ruang untuk berpikir tentang bagaimana hujan bisa turun dan meneduhkan hawa yg panas. Menyisihkan waktu sejenak untuk kemudian merenung betapa ditunggunya hujan bagi petani yg sawahnya hampir kering krn persediaan air kurang, betapa bermanfaatnya hujan untuk menderaskan aliran sungai sehingga generator turbin bisa bergerak dan listrik pun menyala, betapa menguntungkannya hujan bagi para pengojek payung mengais rejeki, betapa berharganya hujan untuk mengairi sumur2 yg tandas.

Saat itu pula, hujan bisa mengingatkan kita tentang diriNYA. Tentang ke-Maha-an-NYA yg dengan sekehendakNYA menyertakan kilat dan petir dalam persemaian hujan, membersamakan riuh angin di kedatangannya baik dalam sepoian yg besar atau ringan. Yg kesemuanya menyatakan satu tujuan: menyelipkan perasaan takut dan harap di dada manusia pada Tuhannya. Bahwa Tuhan bisa menjadikan hujan sebagai rahmat atau siksaan (peringatan). Sehingga benak dan bathin manusia hanya dipenuhi ingatan tentangNYA. Lisan yg tak kunjung berhenti dari menyebut2 namaNYA.

Semoga hujan rahmat yg KAU limpahkan untuk kami Tuhan, bukan hujan siksaan…

***

Satu waktu ketika diri sangat merindukan kehadiran hujan sebagai peneduh hari…

Sunday, November 22, 2009

2 Kata utk Cinta -1 babak-


Camera

Rolling

And…action

Mengapa harus kata ‘JATUH’ yang mengawali kata CINTA sehingga menjadikannya JATUH CINTA?
Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka?
Lalu, mengapa harus kata ‘MATI’ yang mengakhiri kata CINTA sehingga menjadikannya CINTA MATI?
Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?
Aahh…kenapa cinta begitu sulit dimengerti? Kenapa begitu sulit dipahami? Ke…


Cut…cut…cut…

Manna ekspresinya???

***

Drama 1 babak yg tak tuntas sebab si sutradara kurang puas dalam memandang dua kata untuk cinta tersebut di atas. Menurutnya terlalu cengeng, terlalu melankolik. Bertolak belakang dengan asumsinya soal cinta selama ini. Cinta itu adalah sesuatu yg kuat, yg hebat.

Yg mampu mengubah duri jadi mawar. Cuka jadi anggur. Malang jadi untung. Sedih jadi riang. Setan jadi nabi. Iblis jadi malaikat. Sakit jadi sehat. Bakhil jadi dermawan. Kandang jadi taman. Penjara jadi istana. Marah jadi ramah. Musibah jadi muhibbah.

(haha KCB bangeeetts…)

Kemudian dia berpikir, merenung sejenak di kursi yg biasa ia duduki ketika para pemainnya menjalankan peran, mencari tahu kenapa dua kata –jatuh dan mati- itu yg selalu digandeng dengan kata cinta. Lalu seorang aktornya mendekat, mengajaknya berdiskusi tentang cinta, tepatnya tentang 2 kata yg selalu dikaitkan dengan cinta: JATUH dan MATI.

Sutradara:

“Menurutmu, Tor, kenapa bisa JATUH cinta dan cinta MATI?”
(sejurus pandangan sutradara tertumpu pada satu titik, tapi entah dimana)

Aktor:

(berpikir sambil memainkan tangannya: buka laptop, and searching then)
“Ahha ini Pa, saya mendapat pengertian tentang ‘fall in love’ yg artinya ‘begin to experience feelings of love towards’ (mulai mengalami perasaan cinta). Dan ‘fall’ disini diartikan sebagai ‘to pass into a particular state, condition, or situation’ (memasuki situasi atau kondisi tertentu) seperti contohnya ‘fall asleep’ (mulai/menjadi tertidur). Karena kebanyakan orang kita mengartikannya word by word Pa, ya ‘fall in love’ jadinya JATUH cinta, Pa. (sambil nyengir)

Sutradara:

“Haha, pintar juga kamu ya. Kebanyakan memang seperti itu, mengartikan kata per kata, jadi agak rancu jika digabungkan maknanya. Contoh lain seperti arti dari kata ‘my heart will go on’. Kalo diartikan per kata maka jadinya ‘hatiku akan mulai pergi’ atau ada juga yg mengartikan ‘hatiku akan pergi terus’ padahal bukan itu arti yg sebenarnya. Yg dimaksud adalah ‘hatiku akan selalu ada’. Sangat jauh sekali kan bedanya, kontradiksi malah.

Itu dikarenakan frasa kata dalam bahasa Inggris ga bisa diartikan satu-satu dalam bahasa Indonesia. Seperti halnya ‘go on’, kalo diartikan satu-satu menjadi ‘mulai pergi’ atau ‘pergi terus’, tapi pada kenyatannya minimalnya ada 10 makna dari frasa kata itu di bahasa Inggris, diantaranya adalah ‘go on’ happen (e.g. What is going on?), operate (e.g. The spotlights go on automatically), continue (e.g. Please go on with you’re doing), please do (e.g. Go on, have another drink), etc.

(lho…lho…sutradara kemudian tersadar, bukannya tadi sedang mendiskusikan tentang 2 kata untuk cinta ya? kok nyambung kesini sih? sebelum diinterupsi si aktor, kemudian dia kembali ke jalan yg benar)
Lalu kalo cinta MATI?”

Aktor:

(berpikir sejenak, kali ini tanpa menggunakan internet, murni dari pemikirannya)
Hmm kalo cinta MATI, mungkin itu mengambil dari kisah Romeo and Juliet, Pa. Dimana cinta bisa membuat seseorang berani untuk melakukan sesuatu yg ekstrim, bahkan mati sekalipun, jadinya cinta MATI deh, hehe…

Sutradara:

(mencoba memahami jawaban si aktor sambil menangguk2an kepala, meskipun ga ilmiah, tapi make sense enough-lah)
Iya…iya betul juga ya…

Aktor:

Lalu sekarang gimana Pa Sutradara? Dilanjutkankah sayutingnya?

Sutradara:

(berkata sambil berdiri dari kursinya)
Dihentikan saja, kita les bahasa Inggris saja dulu biar ga salah2 lagi menerjemahkan…Ayo!

Aktor:

(dalam hati)
Hah? Les bahasa Inggris? ^$#42#@(*)??&*&^%

***

Sebagian diambil dari percakapan dengan seseorang di utara bumi sana...

Saturday, November 21, 2009

Hujan

Hujan…

I really need it right now…

I whispered it in my heart…

Then, the rain is coming out of the darkness cloud…

Alhamdulillah…

***

"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira." (Ar Rum (30) ayat 48)

Dan ketika itu, tidak ada alasan bagi saya untuk tak mengucap syukur yg amat mendalam. Atas kebutuhan saya pada hujan yg Alloh dengar dan kemudian Alloh ‘jatuhkan’ dari langit. Atas kebahagiaan yg mengisi rongga dada saya ketika hujan turun dan saya mulai mencium bau tanah yg basah. Atas atap yg masih menaungi saya hingga detik itu, sementara –mungkin- di sudut lain ada yg harus bersusah2 mencari tempat berlindung.

Alloh…terimakasih, untuk nikmat yg tak pernah henti KAU curahkan. Meski berkali2 saya menghentikan lisan untuk itu, bahkan demi sebuah gumaman “Terimakasih Tuhan…”

***

Ketika hujan datang bagai berondongan senapan…

Friday, November 20, 2009

Rinduku di Batas Waktu


Suatu waktu, dalam temaram lampu, ketika tetes hujan mulai turun satu-satu...saat itulah aku kembali mengingatmu...

Tuhan...selamatkan hatiku...

***

I miss you
When something really good happens,
Because you are the one
I want to share it with…

I miss you
When something is troubling me,
Because you are the one who
Understand me so well…

I miss you
When I laugh and cry
Because I know
That you are the one
That makes my laughter grow
And my tears disappear…

***

Andai boleh berkata andai…
“seandainya dia tahu…tapi ah…rasanya cukup Alloh saja yg tahu…”

Tuesday, November 17, 2009

Di Ketidaktahuan Seorang Saya

Hmm...banyak yg tidak saya ketahui dalam hidup ini...tapi ada satu hal yg secara sadar saya pahami, bahwa saya punya kesempatan untuk mengetahui apa yg saya tidak ketahui sebelumnya. Tinggal bagaimana saya, mau menggunakan kesempatan itu atau melepaskannya tanpa sisa.


Saya tidak tahu masa depan bentuknya seperti apa, tapi saya tahu saya bisa mengusahakannya agar menjadi indah.

Saya tidak tahu apa saya bisa menjadi seorang profesional dalam pendidikan (seperti yg saya cita2kan selama ini) atau tidak, tapi saya sadar saya punya jalan menuju kesana.

Saya tidak tahu seperti apa dan siapa pendamping hidup saya di sisa usia kelak, tapi saya tahu Tuhan saya sudah menetapkan itu jauh2 hari bahkan ketika langit bumi beserta isinya ini belum tercipta.

Maka atas dasar ketidaktahuan2 itu, layak sombongkah saya??
Lalu, atas dasar apa2 yg saya pahami, bolehkah kemudian jika saya menyerah dan mengaku kalah pada nasib??

Haha...lantas saya tertawa...berpikir sejenak tentang pertanyaan2 itu.

Saya hanya seorang Rina, yg banyak ketidaktahuannya, yg melimpah kekhilafannya, yg masih memerlukan orang untuk membantu kehidupannya, dan tentu saja masih sangat membutuhkan Tuhannya. Dzat yg Tidak Pernah Terlelap meski berkali2 saya terlelap dalam sujud malam saya. Dzat yg Tidak Pernah Lupa meski saya sering melupakannya. Dzat yg Sangat Dekat bahkan dari urat leher saya sendiri, meski terkadang saya menjauh dariNYA.

Alloh...sungguh saya membutuhkanMU, tidak hanya dalam tangis, tapi juga dalam tawa...

"...dan Alloh lebih mengetahui, sementara kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah 216)

Sunday, November 15, 2009

Males Ga Males Ga Males

Suatu hari seorang teman yg sedang menjalani beasiswa di Iceland sana mengungkap bahwa dirinya sedang dilanda ‘penyakit lama’. Saya sempat terdiam saat itu, ‘penyakit lama’ maksudnya? Begitu kira2 pertanyaan dalam hati saya. Tapi kemudian dia menjelaskan sebelum saya sempat bertanya. Ternyata yg dimaksudnya dengan ‘penyakit lama’ adalah MALAS. Hahaha…dikirain teh apa gitu.

“Ada saran, bu?”

Begitu kalo tidak salah dia bilang saat itu. Saya berpikir sejenak, duuh kasih saran apa ya? Masalahnya saat itu pun saya sedang terjangkit virus itu, hehehe…Kemudian saya berpikir lagi, aha mungkin dengan memberi saran padanya bisa juga untuk menasehati diri saya sendiri. Biasanya telinga itu lebih mendengar pada mulut yg paling dekat. Lumayan juga kan sekali dayung dua tiga pulau (kalo bisa mah semua) terlampaui. Naah jawaban saya kira2 begini…


Menurut saya males itu wajar kok dialami manusia pa, kalo ga pernah ngerasain males, perlu dipertanyakan tuh kemanusiaannya, heu3…Cuma bedanya ada orang yg bisa ngatasin malesnya secepat kilat, ada yg perlu waktu, bahkan ada juga yg ga bisa ngatasin malesnya.

Saya juga keinget sama sebuah nasehat waktu jaman sma dulu, ya jaman masih muda gitu deh…Bilang gini, “Sifat kelembaman itu berlaku untuk segala sesuatu yg ada di jagat raya ini. Sekalinya bergerak, maka akan cenderung bergerak terus. Sekalinya diam, maka akan cenderung untuk diam terus.” Hmmm…males juga sama tuh keliatannya, sekalinya males, cenderung buat males terus. Na’udzubillahimindzalik deh keterusan males…hari gini gitu loh…

Saat kita lagi ngerasa males, kita mesti tau jenis malesnya disebabkan apa, krn namanya males ternyata bisa beda2 sebab. Kalo beda sebab, pastinya solusinya juga beda.

Ada males krn stuck sama sesuatu. Ada males krn ngejalanin rutinitas yg itu itu aja. Ada males krn ruhiyahnya lg turun. Ada males krn lupa, lupa tujuan hidup, lupa amanah Alloh. Ada males krn cuma sugesti aja. Ada juga males yg bawaan orok, heu3…

Kalo lagi stuck sama sesuatu, biasanya saya tinggalin sebentar tuh, jalan kemana…gitu, liat2 keadaan sekeliling yg mungkin bisa bawa inspirasi buat nyelesein kebuntuan kita. Ato tukar pikiran sama temen yg nyambung diajak bicara.

Trus, kalo yg kita kerjain itu itu aja, mungkin kita butuh sesuatu yg beda, tapi yg masih merepresentasikan diri kita, jadi ga kehilangan jati diri gitu…kalo saya suka bgt sm sesuatu yg baru, biar apa yg saya alami tiap harinya jadi lebih seru…org2 yg ada di deket saya juga jadi ga bosen, kalo udah kaya gitu, semangat lagi deh…heu3

Tapi…kalo malesnya krn ruhiyah yg lagi turun, ini yg agak berat diatasi sendiri mungkin, makanya kita dinasehati untuk

(1) ga bosen dengerin nasehat agama,
(2) nderes quran+hadist,
(3) ato berbagi cerita ttg kisah bermakna sama saudara seiman

Kalo saya siy, saat saya ngerasa ruhiyahnya lagi turun, biasanya saya baca ulang nasehat2 yg saya suka catat, ato…saya nderes makna & ket quran, paling sering surat Ar-Rahman, salah satu firman Alloh yg indah bgt. Apalagi bagian fabiayyi aalaaa i robbikuma tukadzdzibaan…duh menohok bgt dah…kalo hadistnya, saya paling seneng hadist lengkap Nabi yg sholat lail ga pernah putus padahal beliau disucikan dari dosa, yg sampe kakinya bengkak2, tapi waktu ditanya sama A’isyah, Nabi jawab simple tapi dalem bgt, “Afala ‘akunu abdan syakuro??” Iiih…nabi, jadi sedih sekaligus malu gitu…moga Nabi nungguin kita di Telaga Kautsar kelak ya…

Kalo males krn lupa, lupa tujuan hidup, lupa amanah Alloh…harus ada org yg jewer kupingnya niy buat ngingetin kalo di dunia niy cuma sementara aja, cuma ngontrak, jadi ga boleh males2…namanya amanah mesti dipegang, sebab ntar Alloh minta laporannya. Tapi…kayanya sadis ya kalo dijewer, terus diapain dong???

Nah, kalo krn sugesti?? Ya…dilawannya mesti pake sugesti lagi. Kalo bawaan orok?? Wah…kayanya…itu takdir kali ya…heu3…

Pokonya waspadalah terhadap males…

Sebab males bikin kita ga produktif.
Sebab males energi negatif yg bisa menular.
Sebab males bisa jadi penghambat terwujudnya impian kita.
Sebab males ga jadi semua masalah kita terselesaikan.
Sebab males bisa bikin rahmat Alloh menjauh dari kita.
Sebab males artinya kita ngga bersyukur sama apa yg Alloh amanahkan.
Sebab males tandanya kita ga menghargai jasa orang2 yg sudah membantu memudahkan jalan kita hingga kita jadi seperti sekarang ini.
Sebab males bukan ciri pemuda muslim.
Sebab males ga Nabi contohin.

Ga tau deh apa jadinya kalo dulu Nabi males memperjuangkan Islam, mungkin indahnya agama ga akan bisa kita rasain sekarang.

Ada banyak cara ngatasin males, dan yg paling tau caranya, ya…diri kita sendiri.
Alloh yg kasih setiap rasa sama manusia, termasuk rasa males. Alloh kasih kita males bukan karena ga sayang, tapi justru pengen liat sejauh mana kita bisa atasin itu. Ya…sama kaya Alloh kasih rasa khawatir, sedih, bahagia. Hakikatnya semua rasa itu cobaan dari Alloh, yg pada akhirnya Alloh pengen liat sebesar apa ketergantungan kita sama Dzat Sang Pemberi Rasa itu…makanya kita dinasehati supaya banyak2 doa, salah satunya doa penjagaan terhindar dari rasa susah dan males…

Allohumma innii a’udzubika minalhammi wal hazani wal ‘ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wa dhola’iddaini wa gholabati arrijali…


So…tetep semangaaaat pa!! Sebab dgn semangat kita bisa ikhtiarkan setiap cita2, impian, harapan, doa.
Bismillah…kerjakan krn Alloh, smg Alloh paring aman, selamat, lancar, barokah…
Allohua’lam…

***

Iihh weeww…lumayan banyak juga ya yg saya tulis hehe…moga aja yg baca ngerti, syukur2 bisa bermanfaat. Satu hal yg saya sadari berikutnya adalah Alloh kasih kesempatan saya hadir hari itu hingga hari ini di bumiNYA tujuannya tuh bukan buat males2an. Tapi kalo si males itu datang tanpa bisa dihindari ya…jalan satu2nya adalah menghadapinya dan melawannya

So…keep fighting on it Rina!!!

Friday, November 13, 2009

Dear Tuhan...(Abang's note)

Dear Tuhan…

Tuhan, sibuk yah??

Ga, cuma mau tanya ajah, kok doa abang ga dikabul2 sih?? Kayanya Tuhan sibuk banget yah??
Abang cuma minta mamah sama papah rukun2, Tuhan. Ga berantem2 lagi, abang sedih liat mamah nangis, papah juga suka uring2an, paling sedih liat Charissa, kan masih 3 taun Tuhan, tapi udah harus denger mamah sama papah berantem.

Tuhan, ga sibuk kan??

Kabulin doa abang yah, Tuhan…

Makasih…

***


Tulisan singkat seorang murid les privat saya di tahun 2004 silam. Saat itu usianya 7 tahun, kelas 2 SD. Secara tidak sengaja saya membaca catatan itu ketika hendak memeriksa pekerjaan rumah yg saya berikan di pertemuan sebelumnya. Deg, ada sebuah perasaan yg…ah…cukup rumit, saya tak mampu membahasakannya saat itu.

Tapi satu hal kemudian saya sadari, betapa tidak menyenangkannya berada dalam kondisi seperti yg demikian. Meski tak bisa saya ingkari juga bahwa hal macam itu bisa terjadi pada siapa saja, baik yg sudah siap secara mental atau yg belum sama sekali. Tapi, saya jadi bertanya2 sendiri, apakah ada orang yg siap ketika dihadapkan pada kondisi yg tidak nyaman?? (Rina is thinking then…) Rasanya bisa dihitung jari.

Tuhan, sibuk yah??

Itu kalimat pembuka yg cukup membuat mata saya berkaca2. Ada sebuah ingin yg sulit saya sampaikan pada Abang.

Bahwa Alloh ga sibuk, Bang. Alloh tuh denger doanya Abang. Tau kalo Abang ga pernah absen sholat. Liat saat Abang berlama2 menengadahkan tangan di akhir sholat. Bahkan lintasan pikiran Abang dan bersitan perasaan sesaat Abang pun Tuhan tau.

Saat itu saya kesulitan, bagaimana saya menjelaskan pada anak seusianya tentang berapa waktu yg dibutuhkan sebuah doa dikabul?? Dan bagaimana saya harus menjawab ketika ditanya ‘apakah doanya ga Tuhan kabulkan’??

Hmm…Bang, jangankan Abang, orang yg usianya jauh lebih tua dari Abang pun terkadang masih sering bertanya2 kapan doanya dikabulkan, bahkan ada pula yg men-judge Alloh ga sayang sama orang itu ketika doa2nya tak kunjung jadi nyata.

Pada orang yg usianya jauh diatas Abang mungkin saja saya bisa mengatakan, “Manusia bisa saja berencana, tapi hanya Alloh yg membuatnya jadi nyata. Yg harus diyakini adalah ketika kita berdoa padaNYA, hanya ada 3 kemungkinan jawaban dariNYA:
(1) Yes,
(2) Yes, but not now,
(3) I have the best plan for u.”

So, there is no ‘No answer’, isn’t it?? Sebab Alloh ga pernah bilang ga atas doa2 kita…Alloh ga pernah ingkar sama apa yg sudah dijanjikanNYA. Alloh sampai2 mengabadikan janjiNYA dalam surat Al Baqarah 186.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”


“Abang yg sabar ya…Alloh pasti dengar doa Abang…” Itu akhirnya yg bisa saya katakan padanya sambil mengusap punggungnya. Semoga dia memahami apa yg saya katakan saat itu. Saya tak mampu lagi mengeluarkan kata2, terharu uy (alias udah mau nangis…).

“Kalo Abang doanya banyak dan sering, apa Tuhan ga bosen, Kak?”

Kembali saya tersentak.

“Sebanyak dan sesering apapun Abang berdoa, Alloh ga akan bosen. Justru Alloh seneng, Bang…” Jawab saya sambil memaksakan diri tersenyum, padahal mah udah mau keluar tuh air mata. Hiks…hiks…yg sabar ya Bang…

He was smiling then…

***

Hari itu saya pulang dengan membawa banyak pelajaran. Tentang rasa syukur sebab hingga sebesar waktu itu masalah yg dihadapi tak sepelik yg dihadapi Abang di usianya. Tentang keyakinan akan doa2 yg akan Alloh kabulkan because Alloh will never say No. Tentang kesiapan diri menghadapi masa2 yg tidak menyamankan sebab mungkin saja di detik selanjutnya giliran saya yg berada pada kondisi itu.

Tentang…ah…terlalu banyak yg telah Alloh perlihatkan hari itu pada saya, hingga saya tersadar, lho...kok udah nyampe gang kosan ya?? padahal lumayan jauh...sarijadi-geger kalong...fiuuhh...

Alhamdulillah Tuhan…

Tuesday, November 03, 2009

Bapak Tua dan Data


22 Oktober 2009, 21.45

Entah sudah berapa kali saya melihat bapak tua yg rambutnya sudah memutih semua itu duduk memojok di tempat yg sama. Di salah satu sudut di depan sebuah tempat, sebut ajahlah ya namanya, tapi bukan promosi lho: Alfamart.

Duduk dengan posisi yg sama tiap kali saya mengunjungi Alfa, menghadap ke jalan sambil menopangkan dagunya di salah satu tangannya yg saya lihat hampir berkerut2 semua (yaiyyalah namanya juga bapak tua, salah satu indikatornya adalah keriput). Menunggui dengan sabar rak sederhana tempat bertumpu bola2 balon warna-warninya yg tak kunjung habis.

Sekali dua kali saya hanya lewat saja, paling menengok sebentar lalu jalan lagi. Ada niat untuk membeli, tapi buat apa, ga urgen juga buat saya, lagi pula saya ga punya anak kecil atau kenalan anak kecil yg bisa saya kasih bola itu seandainya saya beli. Dan saya juga berpikir kenapa org2 juga ga berminat sama apa yg bapak tawarkan, secara udah ketinggalan jaman juga mainan kayak begitu. Apalagi anak2 jaman sekarang mainannya udah yg canggih banget, berbasis program2 komputer baik berupa game, ps, dan lain2 sejenis itu. Poko’e menggunakan pendekatan ICT-lah…


Ceritanya malam itu ada data yg belum lengkap yg harus saya olah untuk bahan makalah, ga memungkinkan untuk bisa online di kosan, anak ibu kost yg biasa ditebeng juga lagi ga ada di tempat, jadi ya…mau ga mau mesti jalan ke luar komplek nyari warnet, meski saat itu keadaan saya benar2 lelah sangaaddh. Satu jam di warnet beres, kemudian pulang, tapi berencana mampir ke Alfa untuk beli susu cair dan roti untuk cemilan malam krn rencananya mau bergadang juga.

Mendekati Alfa, rak bola si bapak sudah saya lihat terlebih dulu ketimbang bapaknya. Perlahan, mendekat dan saya baru bisa melihat bapak pas ketika saya hendak berbelok ke pintu masuk Alfa. Seperti biasa bapak sedang menopang dagu. Saya perhatikan sekilas pandangan bapak mengikuti arah kendaraan yg berlalu lalang di jalan di hadapannya. Uuughh bapak, kamu mengingatkan saya sama almarhum mbah kakung yg udah passed away…hiks…hiks…

Di dalam Alfa pikiran saya ga fokus. Malah keingetan si bapak tua di luar tadi. Kemudian saya jadi berpikir, saya melihat lagi ke dalam hidup saya, ya Alloh betapa beruntungnya saya. Saya masih muda. Masih bisa melakukan sesuatu yg saya inginkan. Saya ga harus jualan di pinggir jalan (berharap kelak ketika tua pun tak seperti itu). Saya bisa sekolah dari mulai TK sampai S2 sekarang. Saya ga kekurangan makan setiap harinya. Bisa beli apa yang mau saya makan. Ahh…macam2 yg saya pikirkan saat itu. Kesemuanya mengakhirkan saya pada suatu kata: bersyukur. Alloh, saya amat sangat bersyukur dengan hidup saya. Meski mungkin tak indah selalu. Tapi pun tak selamanya sedih melulu. Meski ga bisa menghindar dari yg namanya susah, tapi saya percaya setelah susah pasti ada mudah.

Saya meyakini bahwa semua yg terjadi di hidup seseorang selalu 2 berkebalikan. Dan mereka datang bergantian. Layaknya siang yg tidak akan terus siang, pun malam yg ga selamanya malam. Semuanya sudah Alloh atur dgn sebaik2nya, tanpa cacat, tanpa satu pihak terdzalimi. Itu saya rasa yg harus dipahami. Bahwa Alloh tidak akan lepas tangan dari hidup kita. Bahwa Alloh sudah mengatur rezekinya bumi dengan perkiraanNYA yg tepat, tidak akan pernah meleset. Lalu, yg harus saya lakukan di tiap2 bagian itu adalah

tetap bertahan, menjalaninya dan memahaminya sambil terus mencari jalan untuk bersyukur.

Kemudian dalam hati saya berkata, pokoknya pulang dari Alfa mesti beli tuh balon, terserah deh nantinya mo buat apa, yg penting beli.

“Pak, satunya berapa.” Tanya saya.

“Tiga ribu, mbak.” Jawab si bapak dgn dedet jawa yg khas bgt.

“Owh beli dua, pak.”

Padahal uang saya tinggal sisa 10 ribu lagi, jadi kalo beli bola dua, sisa total 4 ribu. Tapi…ga tau kenapa ada sebuah perasaan yg…aahhh sulit didefinisikan sama kata2, bisanya cuma dirasain. Dada saya sampai sesak, pengen nangis tapi malu, secara di pinggir jalan besar, banyak orang juga. Salah2 dikira anak ilang lagi, mana bawa bola yg ga diplastikin pula sebab bapak ga menyediakan plastik. Akhirnya jalan ke kosan sambil nenteng2 bola. Meski ditatapi aneh sama orang2 di jalan, tapi langkah saya tuh ringaaaan banget. Bahagia aja sebab kesampean beli bola balon bapak yg udah lama banget pengen dilakukan tapi banyak mikir. Ga tau deh tuh bola nantinya mau diapain.

Tiba di kosan, eehh ada ibu kos lagi sama cucunya, si mas dan si ade. Ahaa…diam2 saya sangat bersyukur melihat kedua bocah itu. Dengan wajah sumringah saya hampiri dua anak kecil itu, jongkok, dan bilang, “Adee…mau bola ga?? Niihh…buat mas sama ade yaa…”

Si mas sama si ade ngedeketin sambil senyum seneng khas anak2 gitu. Iihh lucu deh pokonya. Kemudian bola2 yg saya bawa tadi sudah berpindah tangan ke tangan2 mungil mereka. Ya Alloh…ada perasaan yg…ah…lagi2 ga bisa diungkap, cuma bisa dirasain aja. Akhirnya bola2 itu bermanfaat juga.

Sampai di kamar, masih dengan hati yg berbunga2, buka laptop, masukan flashdisk dan bersiap bekerja dengan data yg sudah saya punya. Tapi…OMG!!!

Masya Alloh…tiba2 ada perasaan geli tapi juga menyebalkan menyergap saya.

Data yg di warnet tadi belum saya save ke flashdisk!! Huff…hahaha, I was laughing then.
Ada kesal yg juga ga bisa diungkap sebetulnya, tapi…malam itu meski menyelesaikan makalah dengan data seadanya, saya bisa tidur dengan perasaan lega, sebab saya bisa melakukan hal yg ingin saya lakukan sejak lama: beli bola balon bapak tua itu. Daaaan…beruntung bola2 tadi langsung bisa bermanfaat sebab ada cucu2 ibu kos yg masih kecil2 itu dan seneng banget dikasih bola.

***

Alhamdulillah…makasih untuk hari ini Rabb…sebab KAU masih memberikan saya kesempatan untuk merasakan hal2 sederhana itu...

Tuesday, October 27, 2009

Gray

I see into myself again. And read my heart deeply for the second time. Over and over again till I got a little bit confuse why I did the same way. It seems like I am looking for something but it still hide and my eyes couldn’t see yet at all. I don’t know how many times I did it in a latest couple weeks for seeing through this strange feeling. Hoping there is something that I can find as a reason for my searching.


And…hei…what is that?? I’m slanting my eyes then, forcing them to accommodating in a high level. Harmonizing it with my frowning brow vertical movement to figure out unidentified that odd thing. It is as if I see that part for the first time. Or it’s possible that the thing have been stayed for a long time I didn’t know. If it was true, how foolish I am. Why this odd sense does seem invisible in my eyes??

Huff…this is beyond me. It’s beyond description. It’s beyond my control.

***

When I saw the gray one in my heart and my mind that I couldn’t know yet what that is. And I am asking to myself then, does any people has the same feeling way too??

*I’m shrugging*

Sunday, October 25, 2009

Wajah2 Dalam Kereta


Saya menyaksikannya sendiri, kalau mau berlebihannya, dengan kedua mata dari kepala saya sendiri, bagaimana keadaan sebagian kecil rakyat di Indonesia Raya tercinta ini. Saya menghela napas, agak panjang, mungkin Pak Presiden harusnya sering2 melawat mereka, melihat keadaan orang-orang yang dipimpinnya, jadi bisa lebih punya gambaran untuk program kerja selama menjabat sehingga benar2 memiliki sasaran dan target yg tepat.

Pun dengan Pak Menteri2 itu, ada baiknya study banding ke tempat-tempat seperti ini. Bukan ke Amerika atau Mesir, bukan dengan pesawat terbang atau limosin, bukan dengan pelayanan mewah dan hotel bintang lima. Mereka harusnya saksikan apa yg saya lihat ini. Wajah-wajah yang diliputi risau dengan kulit-kulit yang kian melegam. Bersama gerobak atau kereta dorong kecil atau kotak-kotak kayu kecil atau bakul-bakul tua mereka merenda waktu yang terasa makin berat dilampaui.

Sambil menyermati polah dan wajah mereka, kemudian saya berpikir, mungkin merekalah pejuang cinta sebenarnya. Yang menyusahkan raga2 rapuh mereka untuk sebuah tawa orang2 terkasih yg menunggu di rumah. Yang memenatkan pikir mereka demi memanjangkan tarikan nafas orang2 tercinta yg menjadi tanggungannya. Betapa tak pernah terlintas untuk hentikan langkah saja, justru sebaliknya mereka tetap bertahan meski kaki2 mereka telah terlumat linu yang sangat. Meski hati2 mereka tengah meluruh di antara keputusasaan yang menderak-derak ruang batinnya untuk berhenti, untuk menyerah pada kenyataan yang tak pernah berpihak.


Ah..hidup. Apa sebenarnya yang dicari? Makna hidupkah? Atau fakta hidup? Makna dan fakta. Dua hal yang yang kadang tak bisa dilihat dari mata yang sama. Perlu mata tambahan –mata ketiga dan keempat, batin dan benak- untuk menyingkap apa yang tersembunyi di balik keduanya.

Saya tersenyum, juga sempat menitikkan airmata, ragu, kesal, aneh, bingung. Tapi kesemua rasa itu menautkan saya pada berbagai perasaan lain. Cinta, rasa syukur, keberuntungan, kedewasaan, dan semangat. Mata saya diperlihatkan, inilah hidup, inilah kehidupan. Ada yang harus berpayah-payah demi secuil kehidupan. Namun di sudut yang lain, ada yg begitu mudah menggenggam kehidupan. Ada yang tersenyum di balik wajah muram. Meski ada yang menangis di balik gelak tawa. Ironis, sungguh ironis. Dan semakin saya menyadari, sekali lagi, bahwa kehidupan memang tersusun atas dua hal yg saling berironi, saling berkebalikan.

Hidup ini memang alur keironisan. Misteri yang dilengkapi intrik. Pantas banyak yang memilih akhiri hidup. Sebab mereka tak temukan kunci dari pintu misteri. Sebab mereka terlalu dini memutuskan bahwa mereka bukan lawan seimbang bergulat dengan hidup. Sebab mereka tak sabaran menanti lonceng dibunyikan dan wasit mengumumkan siapa pemenang atas pergulatan ini.

Hidup itu tidak mudah, seringkali saya mendengar ungkapan itu. Saya mengiyakan, bahkan berkali2 menyebutkannya, tapi bukan karena hidup tidak mudah lantas saya bisa terus2an mengeluh kemudian menyerah. Tidak. Justru sebab ia tidak mudah, maka saya lebih punya banyak peluang untuk belajar menaklukannya sambil tak henti2 beringsut lebih mendekat padaNYA.

***

Stasiun Kota…

Hmmfh…saya bersyukur ketinggalan kereta bisnis hari itu, sebab saya bisa menyaksikan slide2 lain tentang hidup yg membawa saya pada kenyataan yg tak mampu saya ingkari: nikmat2 yg Alloh titipkan untuk hidup saya, yg belum lagi usai saya syukuri, ehh…nikmat yg lainnya sudah datang mengantri. Alhamdulillah…

Catatan lama si Sayah di 28 Desember 2005
Saat roda2 besi kereta ekonomi tujuan Jakarta ini kian berat beradu…

My View


Haha…

Si Aku baru menyadari kalau dia senang dengan caranya memandang waktu yg berjalan bersamanya. Setiap saat dia bisa merasakan perubahan yg terjadi di dalamnya, sebab dia berada di salah satu tepian waktu. Meski terkadang pergerakan waktu sangat cepat untuk disejajarkan dengan langkahnya yg kelewat lambat, tapi si Aku cukup bangga masih bisa bertahan dan konsekuen di jalur yg dia pilih untuk hidupnya.

Kemudian si Aku jadi teringat sebuah…mm…entah pepatah entah kalimat bijak, whatever, katanya, “Hidup itu adalah penjumlahan dari setiap pilihan2 yg kamu ambil.” Iya juga yah, tanpa si Aku sadari hidupnya dihadapkan pada banyak sekali pilihan. Dan cuma dia yg bisa mengendalikan pilihan itu, maksudnya, dia bebas memilih pilihan mana yg akan jadi bagian hidup si Aku selanjutnya.


si Aku tak mengelak jika di detik pertama kemunculannya orangtuanya yg berperan besar memilihkan pilihan itu untuknya, sampai akhirnya si Aku benar2 bisa memilihnya sendiri. Sejauh ini si Aku bersyukur dengan sikap bapak-ibu-nya yg –mencoba- tak ikut campur dalam pengambilan keputusan untuk keberlangsungan hidup si Aku, tapi bukan berarti si Aku tak meminta pendapat keduanya lho.

Lalu si Aku berpikir, hidup itu mengenai pilihan –yg didukung juga oleh kesempatan tentu- dan setiap pilihan yg dihadapkan pada wajah seseorang boleh jadi sama, sebab dalam jalan hhidup seseorang dgn orang yg lain bisa jadi memiliki satu atau lebih titik pertemuan yg sama, bedanya mungkin ketika memilih pilihan2 itu.

Hmmffhh…ketika si Aku melihat kembali jalan2 yg telah disusurinya hingga membawanya pada masa yg sekarang, dia jadi sangat2 bersyukur bisa menjadi dirinya. Meski mungkin dalam perjalanannya banyak kerikikil2 dan tikungan2 tajam yg membuat lajunya melambat, si Aku untungnya masih bisa bertahan. Tapi bukan semata atas kekuatannya.

Da si Aku mah just an ordinary people ajah kok…Tapi, atas bantuan Tuhannya yg tak pernah bosan memberinya petunjuk2, atas perhatian bpk-ibu-nya yg tak lelah menyertakan namanya dalam setiap sujud, atas dukungan sahabat2nya yg selalu bisa mengembalikan semangatnya ketika hidup sedang menggempurnya jatuh, atas semua pihak yg hingga detik ini masih mengingat adanya keberadaan si Aku…semuanya saya syukuri Alhamdulillah, Alhamdulillahi jazaakumullohu khoiro…

Be there for me Alloh, mom-dad, guys…
I realize then, that I’m a lucky person in this world…^^

Saturday, October 24, 2009

Rasa Itu Bernama T A K U T


Takut…

Dalam keheningan saya mengulangi kata itu. Hmm…Entah apa itu ‘takut’ sebenarnya. Saya pikir setiap orang pernah merasakannya, entah itu sekali, berkali-kali, atau sering kali. Saya juga meyakini masing2 makhluk pasti Tuhan titipkan padanya rasa takut, dan masing2 makhluk merasakan takut dgn caranya sendiri.

Yg sehat takut sakit. Yg sakit takut meninggal. Yg lajang takut nggak menikah. Yg menikah takut nggak bisa punya keturunan. Yg punya keturunan takut nggak bisa menghidupi. Yg sekolah takut nggak lulus. Yg lulus takut nggak bisa kerja. Yg kerja takut dipecat. Yg jalan kaki takut ketabrak. Yg naik kendaraan darat takut tabrakan. Yg ada di laut takut tenggelam. Yg ada di udara takut jatuh atau nabrak gunung.


Hmfh…dunia Nampak sudah nggak aman…Ternyata banyak sekali rasa takut yg dialami manusia itu ya??


Tapi kemudian saya berbicara pada diri saya sendiri, rasa takut itu wajar, sebab wajar maka manusiawi. Nggak dibilang aneh kok kalau pernah atau bahkan sering mengalami takut. Knp coba?? Iyahlah, sebab rasa itu salah satu cobaan yg Alloh kasih untuk setiap makhlukNYA. Sebagai jalan pendekat dgn DiriNYA jika saja manusia menyadari lebih dalam.

Alloh mencoba manusia dgn sedikit rasa takut, rasa lapar, rasa melarat, dsb. Tujuannya yg nggak lain dan nggak bukan adalah untuk mengingatkan manusia, kalau ada Alloh dibalik setiap perkara dunia dan seisinya ini. Kalau ada Alloh tempat manusia mengadu apapun keluh kesahnya. Kalau ada Alloh tempatnya setiap khauf & roja’ (takut&harap). Kalau ada Alloh, Dzat Yg Tidak Pernah Terlelap untuk Meneliti dan Mencermati setiap perilaku setiap makhlukNYA, dari yg paling besar di mata manusia (seperti jagad raya ini) sampai yg paling kecil (kuman2 atau makhluk bersel satu yg hanya bisa dilihat dgn mikroskop canggih).

Dan berkali2 saya mengingatkan lagi pada diri sendiri, jika rasa takut itu sedang menghantui hati, jiwa, raga, dan pikiran, jangan takut, krn ada Alloh. Alloh yg harusnya jadi pelabuhan hati ketika takut.

Rumusnya, ketika takut, serahkan setiap ketakutan itu pada Sang Pemberi Rasa Takut, Alloh. Karena hanya dengan mengingat Alloh saja hati menjadi tenang. Jangan sampai rasa takut itu jadi berhala yg bisa menggeser posisi Alloh di hati kita. Jangan takut, sebab Alloh pasti tidak akan lepas tangan dengan diri kita, setelah kita sempurnakan ikhtiar, menggenapkannya dengan doa, dan menyerahkan setiap akhir hanya pada Sang Akhir.

Jangan takut yaa, saya…

***

Ketika rasa takut mulai terasa akut…
(Al Baqarah 155)

Friday, October 23, 2009

Short Note


Tak bisa disangkal bahwa hidup kita dilombakan dgn waktu. Sangat tidak mungkin bisa menghindar dari pergerakannya. Siapa yg terlena akan tertinggal, siapa yg bergerak lincah melintasi jaring2 waktu akan bisa selamat dari jebakan waktu yg tampak samar. Maka sikap yg paling bijak adalah mewaspadai gerak gerik waktu sambil menyusun strategi agar tak kalah dan bisa selangkah lebih maju.


Perlawanan waktu hanya bisa ditarung melalui kadar iman. Sebab hanya seseorang yang punya genggaman erat terhadap kefahamannya saja yang akan mampu bertahan di segala ruang kehidupan, baik sempit atau lapang, di setiap kondisi jalanan hidup, baik yang rata atau berbatu. Ini akan jadi satu bukti tak terbantahkan bahwa segala sesuatu yang semu tak bisa jadi indikator penentu kemenangan.

Maka pilihannya bukanlah kalah atau menang, tapi menang atau belajar. Sebab dengan demikian kita tidak akan pernah merasa gagal. So saya mengingatkan pada si Aku…tetaplah waspada pada jalan yg sedang disusuri, lihat kiri kanan atau belakang jika perlu, hati2 dgn setiap tanda dan rambu2, agar sampai dengan selamat di tempat yg dituju.

***

catatan kecil ketika menyusuri jalan berkerikil...

Wednesday, October 21, 2009

Ahad, 18 Okto

Ahad, 18 okto, 8.34 am waktu Surabaya, di sela2 mengetik tugas sambil ditemani suara Daniel Bedingfield dengan If you’re not the one-nya…

Sejenak focus pikiran saya bergeser dari tugas yang belum selesai diketik ke sebuah pikiran tentang seseorang yang sosoknya benar2 sudah mencuri perhatian hati dan pikiran saya. Hahaha…saya tertawa di kesendirian saya. Kemudian saya jadi berpikir kenapa tiba2 saya ingin menuliskan apa yang saya rasakan ini sekarang, di saat yang menurut saya tidak tepat (soale banyaakk bgt tugas yang butuh priorotas utama untuk dipikirkan), ah…apa mungkin ini efek dari lagu si Daniel ya??


Whatever the reason, yang jelas jendela microsoft word saya sudah berganti judul, yang tadinya ‘kajian pustaka tentang motivasi’ ke ‘ahad 18 okto’ (judul tulisan ini).
Kalau dipikir2, permasalahan manusia yang satu ini ga pernah ga menarik buat dibahas ya. CINTA, hihihi…nyebutin namanya aja serasa banyak kupu2 yg beterbangan di sekeliling saya nih (itu mah kalo yg lagi ngerasain jatuh cinta, coba yg lagi patah hati, yg ada juga bikin illfeel ngedenger kata cinta ini). Yeaah…apapun kondisinya tetep lho cinta punya daya magis yg luar binasa. Bisa bikin org jadi berkebalikan dari sebelumnya. Yg lemah jadi kuat, yg kurang pinter jadi pinter, yg males jadi rajin dsb.

Percaya ga siy dampak cinta bisa sehebat itu?? Hehe…tadinya juga saya tergolong org yg skeptik lho sama persepsi macam itu. Belakangan agak percaya, tapi lebih pada kemampuan manusia yg emang punya potensi untuk jadi luar biasa kalo memang mau dioptimalkan, bukan pada mitos love’s effect, yaa…boleh jadi siy si cinta itu yg bikin pemicu seseorang lebih mengoptimalkan kemampuan yg selama ini belum diketahuinya. Atau bisa juga yg kuat makin kuat, yg pinter makin pinter, yg rajin makin rajin. Wahh…dahsyat bgt ya si cinta jadi pemicu teh…ck…ck…ck…

Kalo lagi jatuh cinta…katanya mah semua terasa indah. Waktu2 yg dijalani sepertinya penuh gairah. Jarang banget ngerasain yg namanya jengah. Yang ada pokoknya cuma yg indah2. Iyah gitu?? Hehe…iyah meureun…(hayoo sayah, ngaku kamu!!) Nah kalo lagi patah hati alias broken heart, lain lagi. Apa iya cinta masih bisa dianggap sesuatu yg indah?? Kayanya mah nggak deh!! Yg ada juga pengen dilupain…(haha ada yg curhat neeh…)

Tapi yaa…namanya juga org hidup, ga seru kali kalo ga pernah ngerasain up and down di aspek percintaan. Serasa hidupnya kurang pas gitu lho. Pinter2 kita aja menghadapi dan menanggapi soal cinta ini. Kalo sedang merasakan jatuh cinta, ya syukuri, terlepas cintanya nanti dapat respon balik atau ga. Sebaliknya, jika tengah patah hati sbg dampak tidak diresponnya perasaan kita dgn hal yg sama, ya harus disyukuri juga. Sebab bisa jadi itu cara Alloh kasih tanda bahwa bukan org itu lho yg AKU peruntukkan buat kamu.

Yaa…intinya syukuri semua rasa yg Alloh berikan cicip buat kita. Yakini kalo yg terbaik itu pasti datang tepat pada waktunya, di saat yg paliiing baik juga. Ga percaya?? Makanya tungguin aja ya…hehe

***

p.s. si Sayah jadi geleng2 kepala, ga ngerti apa yg barusan ditulis…kayanya siy emang efek lagu, lagunya beres ehh…nulisnya juga udahan, padahal belum nemuin inti tulisannya apa…hahaha jadi weeh hoyong seuri si Sayah teh…=))

3 M Story...-Mas-->Me-->Mbak-

Me: Mau yang kaya gimana sih, Mas??

Mas: Hmm…yang cantik, putih, tinggi, pintar, dari keluarga baik2 dan tentunya sholihah…

Me: (dengan sangat kaget sekali) Hah?? Yakin sama kriteria itu??

Mas: (menanggapi dengan naïf) Lho, knp Mas mesti ngerasa ga yakin??

Me: (speechless then) …&%$)%#@^*??

***

Weewh banyak amat ya kriterianya, ga salah si Mas tuh?? Pantesan aja umur segitu belum merit, lagian maunya yg high quality seeh. “Yee…umur 27 mah masih oke2 aja kali buat lelaki kalo belum nikah, lagian nyari mapan juga kok," gitu jawabnya si Mas kalo si Me nyeplos kalimat di atas itu.

“Lagian wajar kan ingin dpt yg terbaik??” si Mas keukeuh sama maunya itu. Si Me dalam hati cuma bisa bilang, “Iya, tapi yg terbaik kan ga harus yg cantik, putih, tinggi…bla…bla…sholehah pula...” huff…

“Kalo gitu Mas ga bisa nikah sama satu perempuan!!” akhirnya yg keluar dari mulut si Me malah itu. Si Mas melongo, seolah bilang, “Maksudnya??”

“Soalnya yg Mas mau itu banyak, dan yg banyak itu ga bisa hanya dari satu org!!” si Me agak sewot ogeh. Gawat kan kalo si Me suruh nyariin kriteria2 itu di satu wanita.


Kemudian si Me jadi mikir, knp sih masih aja ada org (mau lelaki kek, perempuan kek, termasuk si Mas itu) yg lebih ngutamain sisi fisik -yg dia sendiri nyadar kalo itu bersifat semu- ketimbang sisi lain yg ga keliatan tapi punya dampak yg berkepanjangan. Yg ga sopannya, kalo udah minta yg macem2 terus ditutup sama “…yg sholehah pasti.” Knp kriteria sholehah jadi yg paling akhir??


“Nabi juga menyebutkan kriteria sholehah di akhir kok!!” si Mas pernah jawab kaya gitu waktu si Me tanya. Tanpa basa-basi si Me pukul aja kepala si Mas pake bantal, biar kepalanya jernih lagi. Meskipun si Me tahu si Mas cuma nge-joke doang, tapi sungguh itu ga lucu banget. Malah bikin persepsi kalo si Mas bukan org yg faham agama. Pliis deh Mas udah ngaji brp taun seeh??

“Emang org faham ga mau yg cantik??” iihh…jadi gareretek hoyong menganiaya si Mas. Gitu tah kalo hadist dipake mainan, cuma diambil sepotong2 aja, yg dirasa menguntungkan itu yg dipake, tanpa mengindahkan kalimat sebelum atau sesudahnya.

“Kalo Mas mau selamat pilih yg baik agamanya!!” si Me mengingatkan kalimat lanjutan hadist mengenai kriteria wanita untuk dinikah menurut Rasululloh. Yg diingetin cuma mesem2.

***


Si Me kemudian jadi kepikiran pernyataan si Mas di awal tadi, “Wajar kan ingin dpt yg terbaik??” Iya siy, wajar bgt, siapa juga pasti maulah dikasih yg terbaik. Tapi yg terbaik itu ga melulu soal fisik kali, meskipun ga bisa dipungkiri punya penampilan luar yg baik memang perlu. Cuma rasanya ga bijak aja ya kalo seseorang pengen yg terbaik buat pendamping hidupnya tapi dia ga berusaha membaikkan dirinya sendiri.Padahal Alloh tuh udah ngejanjiin kan kalo wanita yg baik buat lelaki yg baik, wanita penzina/jelek ya buat lelaki yg demikian pula. Ato lebih singkatnya, pendamping hidup seseorang itu cerminan dirinya sendiri. Kalo faham ya cerminnya juga faham.

Kadang manusia tuh suka lupa kalo sesuatu yg semu itu bisa menipu dan akan rusak pula dimakan waktu. Terus sering lupa juga kalo hanya ke-sholehah-an seorang wanitalah yg bisa diandalkan dan bisa dijadikan teman dalam setiap fase kehidupan, baik fase yg membahagiakan atau kebalikannya, kesedihan.

Sebab ke-sholehah-annya itu yg jadi indikator kedekatan dan keberserahan dirinya pada Alloh. Sebab ke-sholehah-annya itu juga yg bisa membuat seorang wanita memiliki kemantapan cara pandang, yakni mengorientasikan setiap segi kehidupannya pada mencari wajah Alloh (Mardlotillah Oriented).


Jadi…sah2 aja pengen yg terbaik, manusiawi, tapi yg jelas ga manusiawi adalah ketika ingin yg lebih tapi ga berusaha melebihkan diri. Satu lagi, ke-sholehah-an itu ga selalu berbanding lurus sama penampilan luar yg semu lho…

***

Singkat cerita, si Mas ketemu sama perempuan yg cocok bgt sama kriterianya. Cantiklah pokonya mah. Kemudian berkesempatan silaturahim kerumah si Mbak itu. Bla…bla…beres, terus si Mas dan Me pulang diantar sama si Mbak ke depan pintu gerbang.

Tiba2…bruuggg!! Poster besar calon2 legislatif yg dipasang pake kayu2 besar di pinggir jalan rumah si Mbak ambruk dan menimbulkan bunyi yg cukup keras.

Mbak: eh…eh…kopret…copot…ma peot kaserepet…(latah)

Mas_Me: (berpandang2an)

Hah??!! Si Mbak latah…si Me bisa langsung menangkap raut pucat wajah si Mas. Lalu ada sebuah cekikikan yg sebenarnya ingin dilampiaskan si Me, tapi ga tega liat kondisi si Mas.

Lalu beberapa waktu setelah itu...

Me: Cantik aja ga jadi jaminan kan, Mas??

Mas: (mengangguk) He em…

Me: Jadi sekarang kriterianya gmn?? (si Me nanya kaya gitu teh berharap si Mas menyadari bahwa kesempurnaan fisik belum tentu perfect segala2)

Mas: Masih sama…tapi ga pake latah…

Me: Gubrraaakkk!!!

***

p.s. buat si Mas, sorry tak tulis pengalaman itu, biar jadi pelajaran buat yg lain juga...xixixi
teruuuss geura get merit atuh tong betah2 jadi dokter jomblo...wkwkwkw

Tuesday, October 20, 2009

B E R A N I



Saya menyadari bahwa menjadi anak-anak adalah fase hidup. Tetapi saya harus jauh lebih memahami bahwa menjadi dewasa adalah keberanian. Maka berani dewasa bukan urusan usia –meski ia punya andil- tapi ini soal sikap, soal memilih kadar yang mana dari kebahagiaan yang bertingkat-tingkat.

Berani dewasa adalah pilihan hidup yang tidak sederhana. Ini bukan semata soal bertambahnya usia. Tapi berani dewasa adalah keputusan sikap, sudut pandang, pikiran, dan tindakan yang benar-benar didasarkan pada kesadaran penuh. Menurut saya kuncinya ada pada kematangan, kekuatan pijakan, tujuan akhir yang seterang matahari di puncak siang. Tentu ruh dasar dan pondasinya jelas-jelas iman. Tetapi proses berani dewasa adalah:

situasi demi situasi yang kita bangun dari rangkaian sikap demi sikap. Yang kita pupuk dengan ketulusan demi ketulusan. Yang kita rajut dari tabungan demi tabungan hikmah dan renungan jiwa kita.


Adakah tujuan akhir yang lebih akhir dari kampung akhirat?? Adakah orang yang lebih kaya dari orang yang ridlo dengan makanannya hari ini?? Berani dewasa adalah berani memutuskan bahwa tujuan hidupnya adalah yang jauh di akhirat sana.

Berani dewasa adalah keputusan jiwa yang sangat tidak sederhana. Sebab ia seringkali berada dalam situasi lahiriyah yang sangat kontras.


Saya kanak-kanak, misalnya, tapi saya harus tumbuh dengan kemengertian yang maju. Saya miskin, misalnya, tapi saya harus menuntun hati dan menekan kehendak-kehendak kemewahan yang tak sampai. Saya kaya raya, misalnya, tapi saya harus memerangi keangkuhan dan naluri semena-mena. Saya punya keterbatasan, misalnya, tapi saya harus berjuang dan menggerakkan segala upaa agar menjdi sesuatu. Saya pintar dan bergelar, misalnya, tapi saya harus arif dan terus meyakini bahwa di atas yang bisa, masih ada yang lebih bisa.

Begitulah kedewasaan mengairi takdir-takdir jalan hidup kita dengan kejelasan arah, kejernihan sudut pandang, tetapi dengan vitalitas yang terus menyala.

Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Bahwa fase demi fase adalah kepastian. Setiap usia punya jenjangnya, situasinya, sulit dan mudahnya. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah keniscayaan yang dengannya kita bisa melalui segala fase itu, kita kejar cita-cita akhir kita, di puncak pengharapan ridlo Alloh semata.


***

p.s. keisengan si Sayah ketika melihat 2 pasang anak dan ayah dalam kondisi yg kontradiktif…sepasang dalam mobil mewah, sepasang sedang menyortir sampah…what a life…